Nostalgia Stasiun di Kecamatan Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya

Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya Mojok.co

Nostalgia Stasiun Kabat Banyuwangi yang pernah berjaya pada masanya (unsplash.com)

Pada masanya, Kabat Banyuwangi merupakan kawasan yang cukup penting. Mungkin itu mengapa kecamatan ini punya segalanya terkait perkeretaapian, mulai dari jalur rel hingga stasiun. Tidak tanggung-tanggung, di kecamatan ini ada 2 stasiun yang dibangun di era yang berbeda. 

Akan tetapi, fasilitas itu semua tinggal kenangan. Warga Kabat Banyuwangi menggunakan Stasiun Banyuwangi Kota atau Stasiun Rogojampi apabila ingin bepergian menggunakan kereta api. Warga harus menempuh perjalanan darat, menembus kemacetan, atau merepotkan kerabat hanya untuk mengejar jadwal kereta yang sebenarnya melintasi di Kabat. 

Dua bangunan, dua era berbeda sama-sama berakhir masa jayanya

Ada pemandangan yang cukup unik sekaligus ironis di Kabat, Banyuwangi. Di kecamatan ini berdiri dua jejak sejarah perkeretaapian yang saling berdekatan.

Pertama, Stasiun Kabat Lama, warisan era kolonial Staatsspoorwegen yang dibangun sejak 1903. Bangunan ini resmi dipensiunkan pada September 1985, seiring dibukanya jalur baru menuju Pelabuhan Ketapang dan ditutupnya jalur lama ke arah Stasiun Kota Banyuwangi, yang kala itu berada di Kelurahan Karangrejo dan menjadi penghubung kawasan pelabuhan di Pantai Boom.

Sebagai gantinya, pada era PJKA 1985 lahirlah Stasiun Kabat Baru. Pada awal beroperasi, stasiun ini memegang peran penting dalam melayani angkutan pupuk hasil kerja sama dengan Pupuk Sriwijaya (PUSRI). Namun, nasib berkata lain. Ketika kontrak angkutan pupuk tersebut berakhir pada akhir dekade 1990-an, berakhir pula aktivitas Stasiun Kabat Baru.

Sejak saat itu hingga hari ini, kedua bangunan yang masuk dalam Daerah Operasi 9 Jember tersebut berkawan sepi. Kabat punya dua stasiun dari dua zaman yang berbeda, tetapi tidak satupun yang benar-benar difungsikan untuk melayani warganya.

Stasiun Kabat Banyuwangi kini hanya jadi penanda kereta lewat

Bagi orang luar Kabat, mungkin ini terdengar seperti rengekan sepele. Toh, Stasiun Rogojampi atau Banyuwangi Kota tidak sejauh ujung dunia. Namun, bagi warga asli sana yang mengalaminya berulang kali, ada rasa janggal yang terus mengendap. Apalagi setiap kali deru mesin kereta api mengguncang tanah Kabat, stasiun di desa itu tidak lebih dari sekadar penanda bahwa kereta cuma numpang lewat.

Bangunan itu hanya menjadi penonton bisu dari ribuan penumpang yang hilir mudik. Sementara, akamsinya harus bersusah payah mencari pintu masuk kereta dari stasiun tetangga. Saya paham betul kalkulasi bisnis dan operasional perkeretaapian. 

Mengaktifkan stasiun tentu butuh hitung-hitungan matang soal occupancy rate, efisiensi waktu tempuh, hingga biaya operasional. Saya tidak sedang menuntut agar kereta kelas eksekutif mendadak berhenti di stasiun yang lama tutup ini. Namun, rasa sayang itu tetap ada, seperti dua bangunan ini dibuat sia-sia.

Fungsi infrastruktur stasiun yang perlahan tergusur 

Barangkali inilah yang sering meleset ketika bicara soal pembangunan dan pengelolaan aset. Saya sering kali melihat fisik bangunan yang tersisa meski lapuk dimakan usia lalu merasa semuanya seperti baik-baik saja. 

Padahal bagi masyarakat sekitar, fungsi stasiun bukan sekadar tumpukan batu bata atau rel baja, melainkan rasa terhubung dengan dunia luar yang pada masanya sangat membantu warganya.

Sejumlah teman saya asli sana selalu bercerita mengenai dua bangunan Stasiun Kabat itu. Dan, lagi-lagi entah sampai kapan dua stasiun di Kabat itu hanya akan menjadi objek nostalgia sejarah dan saksi bisu kereta yang melintas. Yang jelas, setiap kali melihatnya, saya selalu merasa sedang melewati sebuah kesempatan yang seharusnya bisa dihidupkan kembali untuk memudahkan warga sekitar.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Banyuwangi Horor, Kebohongan yang Sempat Dipercaya Banyak Orang.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version