Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk banyak pelajar 

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk pelajar Mojok.co

Menolak lupa bus jalur 15 Jogja yang punya trayek terpanjang dan berjasa untuk pelajar  (unsplash.com)

Bus jalur 15 Jogja andalan banyak pelajar, salah satunya saya. 

Sebelum kemunculan ojek online dan trayek bus TransJogja masih terbatas, bus kota pernah menguasai jalanan Jogja. Bus-bus ini dulunya berjasa mengantar pelajar ke sekolah, mahasiswa ke kampus, dan para pegawai ke kantor. Kini ia menjelma sebagai bagian dari memori bagi warga Jogja.

Di Kota Jogja, tercatat ada lima operator bus dengan ciri khasnya masing-masing. Kopata adalah bus yang pertama muncul, disusul oleh Kobutri, Puskopkar, Aspada, dan Damri.

Kalau bertanya pada warga Jogja yang mengalami era tersebut, mereka akan dengan mudah menyebutkan warna-warna bodi tiap bus kota. Kopata berwarna oranye kemerahan, Puskopkar biru bergradasi putih, Aspada biru laut gelap, Kobutri kuning, dan Damri berwarna putih.

Ada 17 jalur di Kota Jogja yang dilayani oleh kelima operator bus tersebut. Kita bisa tahu di jalur mana bus tersebut beroperasi lewat papan bertuliskan angka yang dipasang di kaca depan bus. Di papan tersebut juga tertulis daftar jalan yang dilintasi bus tersebut. Kalau bukan papan, biasanya mereka memasang stiker berukuran besar.

Bus jalur 15 andalan banyak pelajar Jogja

Ada satu jalur di Kota Jogja yang punya trayek terpanjang, ia adalah bus jalur 15. Perjalanan bus ini dimulai dari Terminal Umbulharjo menuju barat sampai Gamping. Trayek ini memutari Jalan Magelang, Borobudur Plaza, Jembatan Sardjito, dan memutari UGM. Tanpa jalur 15, pelajar yang sekolah di sekitaran Jetis dan mahasiswa UGM mungkin bakal kesulitan untuk berangkat mencari ilmu.

Saya merupakan salah satu penumpang yang berterimakasih atas jasa bus jalur 15. Meskipun ia sudah pensiun dan tak pernah saya lihat lagi di jalanan yang masih saya lalui tiap pagi, bus-bus dengan jalur ini menciptakan kenangan indah masa sekolah tahun 2012 sampai 2015 buat saya.

Di jam-jam sibuk, baik pagi saat orang-orang berangkat maupun siang dan sore saat pulang, jalur 15 selalu penuh sesak. Operator Aspada, Puskopkar, dan Damri punya banyak armada yang melayani jalur 15. Dibandingkan dengan jalur lain yang melintasi sekolah saya, SMP Negeri 6 Yogyakarta, mencari bus jalur 15 relatif lebih gampang karena punya tiga operator dengan armada yang melimpah.

Jalan RW Monginsidi merupakan salah satu titik yang selalu ramai untuk menaik-turunkan penumpang. Ada banyak sekolah, seperti SMP Negeri 6 Yogyakarta, SMK Negeri 2 Yogyakarta, dan SMK Negeri 3 Yogyakarta yang para pelajarnya berangkat dan pulang dengan bus kota. Kadang pelajar sekolah-sekolah di sekitarnya, seperti SMA Negeri 11 Yogyakarta dan SMP Taman Dewasa Yogyakarta, juga ikutan menunggu bus di sekitaran jalan tersebut.

Selain Jalan RW Monginsidi, titik-titik lain seperti Perempatan Demak Ijo, Asmi Santa Maria, Pasar Pingit, Borobudur Plaza, dan Mirota Kampus UGM juga merupakan titik ramai penumpang.

Toko mainan Bobo yang banyak kenangan

Bicara soal titik ramai penumpang, saya jadi ingat Toko Mainan Bobo yang berada di barat Pasar Kranggan. Kalau penumpang yang naik dan turun di Jalan RW Monginsidi pasti pelajar sekolah, penumpang yang naik dan turun di dekat Toko Mainan Bobo pasti simbah-simbah yang berjualan di Pasar Kranggan.

Simbah-simbah tersebut sering banget pulang dari pasar berbarengan dengan jam pulang kami, anak SMP. Sewaktu kelas 7, saya dan beberapa teman sekelas yang pulang bareng baru saja belajar tentang tata krama dan menghormati orang tua di pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Kami langsung mempraktikkan apa yang kami pelajari dengan mempersilakan simbah pedagang pasar untuk duduk di kursi kami ketika mereka nggak kebagian kursi.

Kalau diingat-ingat, rasanya keren juga. Tindakan kecil yang bermanfaat bagi orang lain.

Tarif naik dan operator update armada

Sejujurnya saya nggak ingat betul berapa tarif bus naik bus jalur 15 pada waktu itu. Ini karena tarifnya naik turun mengikuti harga BBM yang berlaku. Tapi, yang saya ingat, tarifnya nggak pernah melebihi Rp4 ribu.

Nah, satu hal yang unik soal tarif ini. Bukan hanya tarif bus yang mengikuti harga BBM, melainkan uang saku kami juga mengikuti kenaikan harga BBM. Kalau BBM naik, ongkos bus naik, uang saku kami juga nominalnya naik.

Tapi operator manapun selalu memberlakukan tarif yang sama. Mau kita naik Aspada, Puskopkar, maupun Damri, kita nggak akan menjumpai tarif yang berbeda.

Kalau disuruh memilih di antara tiga operator tersebut, saya paling nyaman naik Damri. Alasannya bukan karena ia milik pemerintah ya, melainkan bus Damri sering datang lebih terlambat dibandingkan Aspada dan Puskopkar. Ia selalu 3-5 menit lebih lambat di belakang bus lain. Saya justru suka karena ketika naik Damri, busnya sepi karena semua penumpang sudah naik bus yang di depan.

Saya makin merasa nyaman naik Damri setelah mereka mengganti armadanya dengan yang baru. Rasanya kayak naik bus pribadi ketika armada ini pertama kali meluncur di jalanan.

Bus Puskopkar sekitar 2014-2015 juga pernah pakai armada baru yang pintu naik-turun penumpangnya cuma ada satu di belakang. Berbeda dengan bus lama yang pintu depan dan belakang terbuka, armada ini cuma ngasih akses dari pintu belakang. Malesnya adalah ketika kita dapat tempat duduk di depan, kita harus berjalan ke belakang untuk turun. Kernetnya pun di belakang. Keburu turunnya kejauhan.

Selain itu, armada baru Puskopkar ini memasang filter di kaca-kacanya. Saat di dalam rasanya jadi gelap. Kita yang hendak naik pun jadi nggak tahu apakah bus tersebut penuh atau nggak. Bagi saya yang nggak suka berdempet-dempetan di bus yang ramai, “fitur” lihat isi dalam bus itu penting.

Keunikan bus jalur 15 Jogja 

Bus-bus kota di Jogja itu nggak berhenti di halte. Mereka berhenti di manapun, kecuali di tengah perempatan. Kita sebagai penumpang juga bisa naik dari manapun. Cukup lambaikan tangan, pak sopir pasti akan memberhentikan busnya.

Kalau mau turun, kita tinggal bilang “Kiri, Pak!” ke kernet atau sopir. Biasanya kernet akan mengetuk pintu dengan koin untuk memberi kode kepada sopir jika ada penumpang mau turun.

Bus kota jalur 15 juga unik dan ini baru saya sadari sewaktu naik bus bersama teman sepulang sekolah. Bus kota pasti akan melaju pelan jika sedang sepi penumpang. Tapi, saat busnya penuh, sopir malah akan tancap gas sampai penumpang kewalahan untuk jaga keseimbangan.

Alasannya karena saat sepi, sopir sedang mencari penumpang, makanya ia berjalan pelan. Sementara saat busnya penuh, sopir ngebut agar penumpang-penumpangnya cepat sampai dan ia bisa muter lagi.

Meskipun sekarang angkutan umum bus kota sudah mati dan nggak bisa ditemukan di Jogja, warga Jogja masih mengenangnya. Seandainya di suatu masa bus-bus ini bisa dioperasikan kembali karena Jogja juga layak untuk memiliki transportasi umum yang terjangkau dan memadai.

Penulis: Noor Annisa Falachul Firdausi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA  Pengalaman-Pengalaman Menghebohkan di Dalam Angkot.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya. 

Exit mobile version