Nomor Seri Cantik di Uang Kertas: Apa Layak Dibeli dengan Harga Mahal?

Nomor Seri Cantik di Uang Kertas: Lahan Cuan yang Sering Disepelekan terminal mojok.co

Saya selalu menikmati tubir di Twitter dengan segala pembahasannya. Biasanya, momen tersebut semakin lengkap saat banyak warganet yang sulit menahan diri untuk tidak ikut beropini, pamer kepintaran, sekaligus cari perhatian. Mungkin juga ada yang sambil cari kesempatan dalam keributan untuk mendapatkan cem-ceman. Ya, lumayan, buat teman malam mingguan.

Tubir yang baru saja saya temukan ini sebetulnya vibe postingan awalnya terbilang kalem. Kurang lebih hanya sebagai “FYI” bahwa, ada uang Rp100.000 yang dijual seharga Rp200.000 secara online.

Namun, apa boleh dikata. Sekalem atau seinformatif apa pun postingannya, pada akhirnya yang saling ribut ya warganet juga. Ada yang sok tahu, nggak sedikit pula yang asal ngegas dengan nyaring kayak bunyi knalpot RX-King.

Mau kucek-kucek mata berapa kali pun, kalian tetap nggak salah lihat, kok. Ada orang yang menjual uang Rp100.000 seharga Rp200.000. Atas postingan tersebut, bahkan ada warganet yang sampai menyampaikan keresahan pamungkasnya, “Apakah ada orang yang cukup bodoh untuk membeli?” Haish. Tunggu dulu, tunggu dulu.

Begini, Ngab. Poin yang ada dan menjadi bahan diskusi dari postingan tersebut adalah nomor seri cantik yang terdapat di uang kertas. Coba sampean lihat dengan saksama. Buat orang pada umumnya, termasuk saya atau sampean, mungkin membeli uang dengan nominal tertentu bukan hal yang wajar. Apalagi fungsi uang adalah alat tukar yang sah untuk proses jual-beli. Ngapain ribet-ribet harus cek nomor seri. Terus, malah membeli uang tersebut dengan harga yang nggak masuk akal. Sampai di sini kita sepaham, ya?

Namun, tentu para kolektor uang yang terbiasa mengincar nomor seri cantik pada uang kertas punya pandangan lain. Bagi mereka, hal tersebut sudah seperti penemuan harta karun yang sudah melegenda dan jadi incaran banyak kolektor sejak lama.

FYI aja, praktik jual-beli uang, mulai dari alasan antik sampai dengan nomor seri cantik, sudah lama dilakukan. Secara konvensional masih ada. Mau online pun banyak bertebaran di beberapa marketplace. Nggak percaya? Cek sendiri sana. Cari pakai kata kunci, “Uang nomor seri cantik”.

Santai. Kalian nggak perlu sampai terkaget-kaget saat menemukan betapa banyaknya uang kertas yang punya nomor seri cantik dan dijual secara serampangan dengan harga yang sangat brutal. Misalnya, uang kertas pecahan Rp10.000 dijual seharga Rp1.500.000. Atau uang Rp100.000 dijual seharga Rp15.000.000. Itu semua karena andil dari nomor seri unik dan/atau cantik.

Sebagaimana yang kita semua ketahui, nomor seri pada uang kertas biasanya terdiri dari tiga huruf awal dan diikuti oleh enam digit angka lainnya. Misal, CCC123456. Prinsipnya adalah, semakin unik nomor serinya, harganya bisa jadi semakin mahal.

Jika diperhatikan, konsep unik bisa ditentukan dengan hanya melihat tiga huruf awal, tiga digit angka pertama, tiga digit angka terakhir, atau kombinasi di antaranya. Entah angka kembar atau berurutan. Misalnya lagi, ABC333666 atau SSA888880. Jika kita berniat memasarkannya, itu sih sudah seperti magnet bagi para kolektor uang dengan nomor seri cantik. Selama harga saling cocok, transaksi tinggal menunggu waktu.

Namun, perlu diingat juga bahwa kualitas kertas pada uang dengan nomor seri cantik dalam kondisi mumpuni. Jangan mentang-mentang nomor serinya cantik, lantas kualitas malah diabaikan begitu saja. Ya, selain mendapat kepuasan dan keunikan, kolektor juga pengin dapat kualitas maksimal setara kocek yang dikeluarkan, dong. Entah tujuannya untuk koleksi pribadi atau dijadikan investasi.

Jadi, sampai di sini sudah jelas bahwa kita nggak bisa sembarang bilang bodoh, apalagi sampai goblok-goblokin kolektor yang mengincar uang kertas dengan nomor seri cantik. Sejak awal, bagi si penjual, target pasarnya memang bukan sampean, kok. Anda merasa keheranan dengan fenomena atau transaksi seperti ini boleh saja. Tapi, nggak perlu sampai heboh sendiri juga, sih.

Sumber Gambar: Unsplash

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Exit mobile version