Informasi
ADVERTISEMENT

Nekat Modifikasi Honda Megapro Jadi CB100: Estetik di Mata, Masalah di Jalan

Nekat Modifikasi Honda Megapro Jadi CB100: Estetik di Mata, Masalah di Jalan

Melintasi jalur menantang menuju Nglanggeran

Dari Solo, perjalanan ke Gunungkidul memakan waktu sekitar 2 jam. Medan mulai menanjak dan berkelok saat mendekati Nglanggeran. Untungnya, nggak rewel lagi, cukup tangguh meski sudah dimodif. Ban baru dengan grip yang baik membuat saya lebih percaya diri di jalanan berkelok, menikung tajam.

Saat itu yang jadi masalah bukan di motor, tapi teman saya yang malah pegangan pundak. Dengan dalil belum mahrom, dia menjaga jarak tapi beberapa kali pegangannya terlalu kencang, bahkan pas jalanan menanjak curam leher kecekik karena dia menarik hoodie yang saya pakai. Sial, saya hampir mati masuk jurang dan kehabisan nafas di saat bersamaan.

Untungnya, konser di Gunung Api Purba Nglanggeran berlangsung meriah. Saya dan teman saya tanpa sadar ikut bernyanyi, suasana alam yang eksotis, ditambah gemerlap lampu dari panggung, membuat acara semakin berkesan. Setelah puas menikmati musik, kami memutuskan pulang malam itu juga.

Perjalanan pulang lebih menantang karena gelap gulita, saya hampir tak melihat aspal jalan. Lampu bulat yang saya pasang ternyata lebih mirip lilin daripada seonggok lampu Honda Scoopy.

Untungnya, meski sempat khawatir soal keamanan, motor ini bisa diandalkan sampai akhirnya kami tiba kembali di Solo, lalu saya melanjutkan perjalanan sendirian ke Kudus.

Modifikasi motor sah-sah saja, tapi mending nggak usah

Modifikasi Honda Megapro 2001 menjadi CB100 klasik bukan sekadar mengubah tampilan, tapi juga memberinya jiwa baru dan masalah seabrek. Perjalanan ke Gunung Api Purba Nglanggeran menjadi bukti bahwa motor ini.. Bikin repot!

Setiap lengkingan mesin, setiap tikungan yang dilalui, dilalui dengan rasa waswas. Jadi jika ada yang bertanya, “apakah worth it memodif motor tua seperti ini?” Jawabannya pasti…

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Honda MegaPro, Produk Gagal dengan Beragam Penyakit Turunan yang Bikin Nyesek Pemiliknya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Juli 2025 oleh .

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

Exit mobile version