Banyak orang yang bilang kalau mobil matic CVT itu ringkih dan sering muncul masalah setelah 4-5 tahun pemakaian. Keluhannya bermacam-macam, seperti suara “jedug” saat perpindahan gigi, belt yang rontok, selip dan sebagainya.
Jujur saja saya kurang setuju dengan itu, karena saya mempunyai dan menggunakan mobil matic CVT dan sampai sekarang CVT-nya tidak bermasalah, padahal sudah 7 tahun pemakaian dan sering digunakan ke luar kota. Saya malah beranggapan kalau sebenarnya orang yang mobil matic CVT-nya rusak setelah 4-5 tahun pemakaian itu karena tidak tau cara mengoperasikannya dengan baik.
Maka dari itu dalam artikel ini, saya akan membagikan pengalaman saya merawat mobil matic CVT yang tentunya dilakukan hingga sampai sekarang transmisi itu tidak pernah bermasalah.
Jangan anggap CVT mobil matic itu transmisi balap
Jangan pernah menganggap transmisi CVT itu untuk balap, yang bebas untuk dibejek pedal gasnya sedalam dan sesering mungkin. Oleh karena transmisi CVT didesain untuk kenyamanan dan keiritan, pengguna diharuskan untuk menginjak pedal gas dengan santai.
Selama saya memakai mobil transmisi CVT, tidak pernah saya bejek pedal gas dengan spontan. Saya tau dalam transmisi CVT itu ada sabuk baja yang kalau gas sering dibejek spontan, bisa bikin sabuknya nggak awet dan rontok.
BACA JUGA: Kursus Mengemudi Mobil Matic Itu Aneh
Berhenti berasumsi oli itu abadi
Ini penyakit akut pemilik mobil di Indonesia, patokannya cuma buku servis yang bilang ganti oli transmisi tiap 40.000 km atau malah nunggu 80.000 km. Kalau tinggal di negara bebas macet tidak apa apa. Tetapi ingat, kita hidup di negara yang macetnya nggak masuk akal dan cuacanya hanya ada musim panas dan hujan.
Di kemacetan, mesin nyala, transmisi kerja, tapi kilometer nggak jalan. Oli CVT itu sangat sensitif sama panas, akhirnya ya, kualitas olinya menurun lebih cepat.
Saran saya, tiap 20.000 km mending ganti oli, karena semakin lama oli dipakai kualitasnya akan menurun. Ditambah pengaruh cuaca dan kemacetan pasti akan cepat kualitasnya menurun.
Sabar adalah kunci keawetan mobil matic
Saat kita parkir di mall atau lagi paralel di pinggir jalan yang mengharuskan kita untuk maju, mundur, belok kanan, kiri, jangan memindah transmisi dari D ke R saat mobil masih merayap atau jalan. Tunggu benar-benar berhenti.
Sebab, meskipun ini transmisi CVT, di dalamnya tetap ada gear dan clutch. Kalau dipindah dari D ke R secara cepat, padahal mobil masih merayap, otomatis transmisinya menghentak. Hentakan itu lama-lama bikin suara jedug muncul, atau kalau udah paling parah adalah, delay transmission. Dah, kacau tuh.
BACA JUGA: 7 Dosa yang Sering Dilakukan Pengendara Mobil Matic
Pindahkan ke N di lampu merah
Ini nih penyakit pemilik mobil matic CVT, kalau di lampu merah, transmisinya di D. padahal itu jelas-jelas bikin transmisi jadi panas, kan masih menyalurkan tenaga. Udah, kalau di lampu merah itu pindahin ke N aja, terus pakai rem tangan.
Gini doang lho.
Gunakan gigi rendah saat tanjakan
Ini hal yang pengguna mobil matic CVT harusnya tahu, tapi ya saya bilang di sini aja lagi. Kalau di tanjakan, pakailah gigi rendah. Semisal ada L ya pakai L, kalau S ya pakai S. Kalau ada mode triptonik atau paddle shift gunakan itu saat berada di tanjakan yang sekiranya cukup curam.
Kenapa? Karena kalau masih di D membuat sabuk baja yang di dalamnya selip. Begitu selip, umur CVT dan tenaga langsung berkurang drastis di tempat itu juga.
Itulah tips dari saya yang 7 tahun menggunakan mobil matic CVT, dan nggak pernah bermasalah sama sekali. Mobil matic itu bisa awet kok, semua tergantung bagaimana caramu berkendara dan merawat aja. Mau mobil sebadak kek mana, kalau skillmu ampas ya percuma juga kan?
Penulis: Imanuel Joseph Phanata
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Perempuan Pakai Mobil Matic, Lelaki Harus Pakai Manual, Teori dari Mana Ini?
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













