Aku cinta mie ayam. Alasannya sederhana, ia adalah jawaban paling aman di kala perut meronta dan pikiran lelah. Makanan ini juga tidak ribet. Maksudnya, mie ayam macam apa yang ribet?
Bisa dibilang, makanan ini reliable. Pilihan teraman dari sekian opsi yang ada. Tak mengagetkan jika banyak yang bilang bahwa kuliner adalah comfort food, bahkan ada yang bilang cinta sejatinya. Berlebihan? Iya. Wajar? Sangat.
Sampai aku bertemu mie ayam versi tengah malam.
Jujur, mie ayam tengah malam adalah hal yang mengerikan, setidaknya bagi saya. Bukan karena topping-nya lebih spesial atau rasanya naik level. Justru sebaliknya. Versi tengah malam memberikan pengalaman terburuk yang bisa makanan ini beri.
Skenarionya kalian tahu lah seperti apa. Rasa lapar yang menyerang pukul 10 malam terlalu mengganggu untuk diabaikan, tapi kalau makan yang kelewat berat, perut jelas tak kuat. Lalu tiba-tiba kalian kepikiran mie ayam versi tengah malam. Lalu kalian buka ulasan tentang warung kuliner tersebut yang masih buka tengah malam.
Ada satu warung menarik perhatian. Rating aman. Ulasan lumayan. Ada yang bilang enak, ada yang bilang “recommended”. Kepercayaan diri meningkat, realitas belum terungkap.
Mie ayam yang bikin kecewa
Sejurus kemudian, saya sudah di warung tersebut dan pesanan datang. Ketika makanan tersebut tersaji di depan saya, langsung saya merasa bahwa saya baru saja membuat kesalahan terburuk dalam hidup.
Kuahnya terlalu berat. Baksonya aneh, dan ada rambutnya. Ayamnya asal ada. Es tehnya basi. Itu semua tersaji di depan saya, dan jadi kombinasi terburuk yang pernah ada setelah Trump dan militer Amerika.
Jujur saja, saya tidak peduli. Saya kadung lapar. Mau tak mau ketimbang mubazir. Saya makan dengan lahap, meski rasanya bisa bikin manusia mana pun terkapar.
Lalu tiba masanya membayar pesanan. Penjual bilang, dua puluh ribu. Harga makanan terburuk yang pernah saya rasakan tersebut dihargai 20 ribu.
Tidak masuk di akal
Ironisnya, mie ayam tengah malam hampir selalu tetap laku.
Bukan karena enak, tapi karena dibutuhkan. Ia bukan lagi makanan favorit, tapi solusi darurat. Soal rasa bisa belakangan. Yang penting hangat, mengenyangkan, dan bisa menghentikan suara perut yang sudah terlalu berisik.
Dan ya tentu saja, tidak semua mie ayam tengah malam mengecewakan. Masih ada yang jujur menjaga rasa dan kebersihan meski pembelinya datang dengan mata setengah tertutup. Tapi mencarinya di jam rawan lapar itu seperti main lotere. Kadang dapat penyelamat, kadang dapat pelajaran hidup.
Saya pulang malam itu dengan perut memaksa kenyang dan ikhlas setengah hati. Saya memang tak tiba-tiba membenci mie ayam. Cara hidup bekerja tidak seperti itu. Tapi untuk percaya pada warung yang buka tengah malam, tunggu dulu. Hidup saya sudah penuh hal-hal yang ajaib, jadi, saya tak mau menambah pelajaran hidup pahit yang baru.
Penulis: Putri Ardila
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA 5 Mie Ayam yang Perlu Dihindari kalau Nggak Mau Rugi, Pembeli Mesti Jeli
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
