Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jangan Coba-coba Kehilangan KTP, Mengurus KTP Hilang Itu Ribet Banget!

Muhammad Mundir Hisyam oleh Muhammad Mundir Hisyam
31 Oktober 2023
A A
Jangan Coba-coba Kehilangan KTP, Mengurus KTP Hilang Itu Ribet Banget!

Jangan Coba-coba Kehilangan KTP, Mengurus KTP Hilang Itu Ribet Banget! (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Zaman sudah modern, teknologi semakin maju, tapi mengurus KTP hilang aja bikin naik darah. Udah ribet, di-php terus!

Orang Indonesia bagian mana yang merasa mengurus dokumen identitas di negeri ini mudah? Mau itu KK, akta lahir, SIM, ataupun KTP, ada? Sok, sini kasih tahu saya. Memang saya sempat nggak percaya kalau kata orang mengurus dokumen penting itu ribet banget, mungkin ya cuma sedikit njelimet karena beberapa persyaratan, wajar. Tapi, saya akhirnya mengalami sendiri dan itu membuat saya harus geleng kepala seratus kali.

Suatu waktu setelah perjalanan pulang dari kampus, saya baru menyadari di rumah kalau ternyata ritsleting tas saya terbuka. Saya kaget bukan kepalang begitu mengetahui KTP saya hilang. Saya akui ini kecerobohan karena terburu-buru dan nggak sempat memasukkan kembali KTP ke dompet. Bisa jadi KTP saya terjatuh dari dalam tas saat melewati banyak aspal yang penuh lubang menuju rumah.

Akibat kejadian itu saya harus mengurus KTP hilang ke salah satu kantor kecamatan di Kabupaten Malang. Namun sebelum mengurusnya, saya terlebih dulu bertanya pada teman yang kebetulan juga pernah kehilangan KTP. Waktu itu sih harapannya biar saya nggak kebingungan soal prosedur pengurusannya dan bisa cepat selesai.

Teman saya mengatakan kalau mengurus hal-hal semacam ini butuh waktu dan kesabaran ekstra. Uniknya pula, menurut teman saya entah kenapa proses mengurus KTP hilang tiap kecamatan bisa berbeda. Di kecamatan teman saya butuh waktu kurang lebih dua minggu sampai dia bisa mendapatkan KTP baru. Saya berpikir mungkin saja proses di kecamatan saya lebih cepat mengingat gedung kecamatan saya lebih bagus. Yah, cocoklogi aja, sih.

Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Butuh waktu empat minggu bagi saya untuk mengurus KTP hilang. Selama proses mengurus KTP tersebut banyak hal aneh dan nggak masuk akal yang rasanya cuma dibuat-buat sama petugas.

Mengurus KTP hilang ribet banget

Biasanya ketika ingin mengurus sesuatu yang mengharuskan saya ke kantor kecamatan, saya diminta oleh ketua RT untuk membawa surat pengantar darinya dan dari ketua RW. Namun setelah mendengar saran teman saya yang juga pernah kehilangan KTP, saya memutuskan langsung pergi ke kecamatan.

Alih-alih senang karena merasa lebih mudah, saya justru mendapat tantangan di kantor kecamatan. Begitu datang dan menjelaskan masalah saya, seorang petugas saat itu menyuruh saya ke polsek setempat untuk membuat surat kehilangan dengan membawa KK dan fotokopi KTP yang hilang jika ada. Semua itu sebenarnya sudah saya prediksi berkat bertanya pada teman saya tadi, makanya dokumen pendukung sudah ada di dalam tas saya. Tanpa babibu, saya langsung datang ke polsek.

Baca Juga:

Laweyan, Kecamatan Bersahaja di Kota Solo yang Nggak Mau Kalah sama Banjarsari dan Pasar Kliwon

Kalibawang Kulon Progo, Daerah yang Dianggap Terbelakang dan Sepi, padahal Menawarkan Ketenangan Batin yang Paripurna

Nah, di sinilah keanehan mulai terjadi. Pembuatan surat kehilangan lama sekali, padahal hanya ada satu orang yang datang lebih dulu dari saya. Sembari duduk menunggu, saya mendengar percakapan polisi yang sedang membuat surat dengan rekan di sebelahnya. Ternyata mereka kesulitan membuat surat kehilangan. Aneh kan? Hingga akhirnya datang seorang wanita yang sepertinya bertugas soal surat-menyurat. Beliau dengan cekatan membereskan surat kehilangan saya.

Disuruh balik tapi KTP belum jadi

Setelah surat kehilangan jadi, saya kembali ke kantor kecamatan yang jaraknya memang nggak jauh. Jalan kaki 3 menit aja sudah sampai. Saya sodorkan surat kehilangan itu ke petugas dengan penuh percaya diri. Si petugas lalu berkata, “Nomor HP-nya tolong dibacakan, Mas.”

Wah, mendengar kalimat itu, saya merasa proses mengurus KTP hilang ini sudah selesai dan saya akan dikabari untuk mengambil KTP baru. Saya pun membacakan nomor HP saya dengan nada ramah. Kemudian si petugas berkata lagi, “Balik lagi minggu depan ya, Mas.”

Saya pun kembali ke kantor kecamatan tepat satu minggu kemudian. Namun yang terjadi saya justru mengulangi tahapan yang sama. Datang, melapor, dimintai nomor HP, disuruh balik lagi minggu depan. Alasannya, KTP saya mau dicetak barengan dengan warga lainnya. Sebenarnya saya mulai jengkel karena di sela-sela kesibukan kuliah, saya harus menyempatkan datang ke kantor kecamatan yang jaraknya sekitar 17 kilometer dari kampus, Gaes!

Lebih jancuknya lagi, keruwetan ini terjadi hingga 4 kali! Alasannya pun nggak jelas. Blangko habis lah, blangkonya belum datang lah, dan sampai di minggu ketiga mengurus KTP hilang saya sampai protes saking lelahnya di-PHP. “Saya sudah datang, disuruh balik minggu depan dan terus begini sampai tiga kali, Bu. Saya sibuk kuliah tapi menyempatkan ke sini untuk mengurus KTP yang hilang, lho. Kampus saya jauh, Bu.”

Di satu sisi, saya sadar ini akibat dari kecerobohan saya. Tapi di sisi lain, hal ini menunjukkan betapa ribetnya mengurus dokumen seperti KTP di negeri ini. Jadi wajar kalau di luar sana banyak orang yang mengandalkan calo atau orang dalam meski harus mengorbankan sekian rupiah. Nyatanya proses itu bisa jauh lebih cepat dan nggak menguras emosi.

Akhirnya di minggu keempat, KTP saya baru jadi. Rasanya benar-benar lega. Dengan sedikit senyuman dan ucapan terima kasih pada petugas saya berjanji dalam hati agar nggak teledor lagi.

Dimintain nomor HP tapi nggak ada gunanya juga

Bagian ini memang paling aneh waktu mengurus KTP hilang, sih. Saya heran, kenapa setiap kali kembali ke kantor kecamatan, saya selalu dimintai nomor HP.

Maksud saya gini, kenapa petugas nggak menggunakan nomor HP saya ini untuk menghubungi saya? Para petugas di kecamatan bisa lho menghubungi saya—dan warga lain yang dimintai nomor HP-nya—untuk sekadar mengabari kalau KTP-nya belum jadi atau terkendala karena blangko belum datang, dll. Kenapa nggak mengabari lewat WhatsApp, misalnya?

Merenungi bagian ini membuat saya akhirnya merasa goblok sendiri. Saya selalu mau membacakan nomor HP saya, padahal sebenarnya saya juga tahu kalau petugas kecamatan juga nggak bakal menghubungi.

Semoga hal-hal yang saya alami saat mengurus KTP hilang nggak perlu kalian alami ya, Gaes. Zaman sudah makin modern dan canggih, mengurus dokumen gini aja kok masih ketinggalan?

Penulis: Muhammad Mundir Hisyam
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Mengurus STNK Hilang Lebih Menjengkelkan daripada Kehilangan Itu Sendiri.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 31 Oktober 2023 oleh

Tags: kecamatanKTPsurat kehilangan
Muhammad Mundir Hisyam

Muhammad Mundir Hisyam

Perenung andal.

ArtikelTerkait

Keresahan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Kecamatan Bumiaji Kota Batu

Keresahan yang Saya Rasakan Selama Tinggal di Kecamatan Bumiaji Kota Batu

11 April 2023
Dayeuhkolot, Kecamatan Paling Meresahkan di Kabupaten Bandung. Pikir Lagi kalau Mau Menikah dengan Orang Sini

Dayeuhkolot, Kecamatan Paling Meresahkan di Kabupaten Bandung. Pikir Lagi kalau Mau Menikah dengan Orang Sini

3 Maret 2024
Purwokerto Selatan, Kecamatan Paling Ideal di Banyumas yang Sering Disepelekan

Purwokerto Selatan, Kecamatan Paling Ideal di Banyumas yang Sering Disepelekan

9 Maret 2024
Pondokgede, Kecamatan yang Sering Disalahpahami: Dikira Jakarta, Padahal Bekasi!

Pondokgede, Kecamatan yang Sering Disalahpahami: Dikira Jakarta, Padahal Bekasi!

3 Maret 2024
Romantisnya Jogja Kini Terbuat dari Rindu, Pulang, dan 'KTP Mana Bos?' terminal mojok.co

Romantisnya Jogja Kini Terbuat dari Rindu, Pulang, dan ‘KTP Mana, Bos?’

29 September 2020
5 Profesi yang Boleh Kepo Agama Orang Lain

5 Profesi yang Boleh Kepo Agama Orang Lain

26 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Banyu Urip, Kelurahan Paling Menderita di Surabaya (Unsplash)

Banyu Urip Surabaya Kelurahan Paling Menderita, Dibiarkan Kebanjiran Tanpa Menerima Solusi Sejak Dulu

10 Januari 2026
Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas Mojok.co

Begini Rasanya Dapat Dosen Pembimbing Skripsi Seorang Dekan Fakultas, Semuanya Jadi Lebih Lancar

7 Januari 2026
Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

Dominasi Motor Honda Akan Segera Berakhir, sebab Motor Keluaran Baru Yamaha Harus Diakui Lebih Berkualitas!

9 Januari 2026
Omong Kosong Rumah di Desa dengan Halaman Luas Pasti Enak (Unsplash)

Punya Rumah di Desa dengan Halaman Luas Itu Malah Menjadi Sumber Keresahan, Hidup Jadi Nggak Tenang

8 Januari 2026
Alasan Booth Nescafe di Kulon Progo Selalu Ramai, padahal Cuma Kecil dan Menunya Itu-Itu Saja Mojok.co

Alasan Booth Nescafe Bisa Jadi Primadona Ngopi Baru di Kulon Progo

6 Januari 2026
Sisi Gelap Solo, Serba Murah Itu Kini Cuma Sebatas Dongeng (Shutterstock)

Anggapan Solo Serba Murah Mulai Terasa Seperti Dongeng, Gaji Tidak Ikut Jakarta tapi Gaya Hidup Perlahan Mengikuti

11 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian 
  • Lalu-lalang Bus Pariwisata Jadi “Beban” bagi Sumbu Filosofi Jogja, Harus Benar-benar Ditata
  • Sensasi Pakai MY LAWSON: Aplikasi Membership Lawson yang Beri Ragam Keuntungan Ekslusif buat Pelanggan
  • Super Flu yang Muncul di Jogja Memang Lebih Berat dari Flu Biasa, tapi Beda dengan Covid-19
  • Derita Anak Bungsu Saat Kakak Gagal Penuhi Harapan Orang tua dan Tak Lagi Peduli dengan Kondisi Rumah
  • Nasib Sarjana Kini: Masuk 14 Juta Pekerja Bergaji di Bawah UMP, Jadi Korban Kesenjangan Dunia Kerja

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.