Mengenal Profesi Social Media Officer yang Kerjanya Dikira Tukang Posting Konten doang

Dear Guru dan Dosen, Like Comment Tugas di Medsos Jangan Diajdikan Dasar Penilaian, dong! terminal mojok.co

Dear Guru dan Dosen, Like Comment Tugas di Medsos Jangan Diajdikan Dasar Penilaian, dong! terminal mojok.co

Kalau kalian lihat iklan lowongan kerja dengan posisi sebagai Social Media Officer (selanjutnya disingkat sebagai SMO) atau admin sosial media, jangan pernah berpikir kalau kerjanya cuma sebatas posting konten ke akun sosmed. Di luar dari itu, SMO punya tanggung jawab dan rutinitas kerja yang buaaanyak banget.

Akun sosmed nggak cuma bisa dipake secara pribadi untuk eksistensi dan ajang riya berjamaah tapi juga bisa dimanfaatkan sama perusahaan untuk meningkatkan brand awareness dan segala macam tujuan atau goals lain. Nah, kalo akun sosmed pribadi yang bisa diisi segala macam hal sesuka hati, penanganan akun sosmed perusahaan tuh beda banget karena ada tujuan, target, dan image yang harus dijaga.

Setiap perusahaan sebenarnya punya workflow atau alur kerja sosial media sendiri yang pastinya bisa beda banget sama perusahaan lainnya. Tapi, biar lebih jelas nih saya coba jabarin beberapa kerjaan secara garis besar yang dilakukan sama SMO pada umumnya.

Siapin konten

Kalian pikir konten sosmed yang ada di akun-akun ofisial perusahaan itu bisa dibikin dalam satu hari aja? Ya nggak lah. Konten yang ada sudah diatur sedemikian rupa paling nggak satu bulan sebelumnya atau dua minggu sebelum diunggah.

Isi konten yang bakal diunggah, sampe ke caption, hashtag yang dipake, dan jam berapa konten harus diunggah itu sudah diatur sedemikian rupa sama SMO. Ribet, panjang, dan melibatkan banyak tools yang mendukung konten bisa dapat banyak engagement dan impression.

Setiap sosial media juga punya budayanya masing-masing, misalnya Twitter yang penuh sama warga receh dan cuma bisa bikin caption 280 karakter, Instagram buat kaum hedon yang suka pamer lewat konten foto dan video estetik, Facebook yang akhir-akhir ini sering dipake buat jualan, YouTube dengan konten video durasi panjang, dan sebagainya. Karena budaya yang beda itu, satu konten nggak bisa dipake untuk semua sosmed.

Artinya, SMO harus buat konten yang sesuai dengan platform sosial media yang ada. Kalau perusahaannya punya akun Facebook, Instagram, dan Twitter maka isi kontennya juga menyesuaikan budaya ketiga sosmed tersebut. Ribet kan, mylov?

Brainstorming campaign

Hah? Apalagi ini? Social Media Officer mikirin campaign juga?!! IYA!!11!! Buat kalian yang suka ikutan giveaway hadiah hengpon atau saldo OVO dan Gopay itu patut berterima kasih sama SMO karena itu salah satu ide yang bisa jadi menetas dari kepala Social Media Officer.

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, SMO enggak cuma upload konten terus balesin DM dan komentar yang masuk karena campaign bulanan juga perlu dipikirin sama SMO.

Campaign digital marketing biasanya nggak cuma dipikirin sama tim SMO aja, karena social media masuk ke ranah digital marketing, biasanya untuk penentuan campaign ini juga melibatkan seluruh elemen di tim digital marketing. Bentuk campaign bisa macem-macem banget, tapi biasanya bakal lebih hectic kalau masuk ke bulan tertentu seperti Ramadhan, awal tahun, akhir tahun, natalan, dan sebagainya.

Persoalan campaign ini jauh lebih kompleks dan bakal terkait sama strategi yang juga dijalanin sama SMO. Karena yang dirumuskan nggak cuma sekadar goals tapi juga proses tahapan selama campaign berlangsung, cost yang diperlukan, dan segala macam tetekbengek lain.

Rumusin strategi biar engagement, followers, dan impression mencapai target

Yang satu ini kaitannya sama campaign yang sebelumnya udah dijelasin. Sebenarnya baik campaign maupun strategi itu satu kesatuan, cuma kalo strategi ini lebih fokus ke gimana caranya campaign yang sudah disusun dan dirancang itu bisa berjalan dengan baik.

Strategi yang ada bisa pake banyak cara, misalnya sewa influencer, ngadain giveaway, bikin konten yang beda dari lainnya, sampe ke sosial media ads. Nah perkara ads ini juga ada ilmu khusus lain karena kalau dijelasin bisa kayak kuliah 3 sks.

Pada dasarnya strategi yang dikerahkan ini ditujukan buat mencapai target yang enggak jauh-jauh dari peningkatan engagement, impression, followers, dan brand awareness, atau penjualan produk.

Nentuin prime time

Mentang-mentang sosial media bisa dimainkan kapan aja, oleh siapa pun, dan di mana pun, nggak lantas ngebuat waktu kita ngeposting konten juga sebebas itu. Bayangin mylov, bayangin… Waktu buat ngeposting aja sampe dipikirin karena ya emang primetime atau waktu terbaik buat posting ini bisa berpengaruh banget sama insight yang bakal didapet nanti.

Logikanya gini, ketika kita upload postingan jam 08.00 sedangkan audiens sosial media kita rentang umurnya 15 – 22, jam segitu kebanyakan dari mereka pasti lagi sekolah dan kuliah, hasilnya adalah tingkat keterjangkauan unggahan kita juga sedikit banget kan.

Ngelola sosmed emang pasti bakalan berkaitan banget sama aktivitas dan budaya audiens kita di platform sosmed tersebut, termasuk menyesuaikan waktu terbaik untuk mengunggah konten. Ngomong-ngomong, prime time bisa beda loh setiap bulannya. Dan untuk nentuin prime time yang tepat juga perlu analisis lebih jauh, minimal berdasarkan data insight yang masuk ke akun.

Report, report, repot

Sama seperti posisi lain yang juga perlu nyusun laporan atas hasil dan ketercapaian target atau pekerjaannya di periode tertentu, SMO juga perlu repot eh report maksudnya, sama pencapaian kerjannya.

Hitung-hitungan itu biasanya dipecah menjadi beberapa periode misalnya report mingguan dan bulanan. Selanjutnya akan dievaluasi, apakah hasilnya sesuai dengan target dan campaign serta strategi macam apa yang paling tepat untuk menarik perhatian audiens. Semua itu ada di report akhir bulan yang emang suka bikin repot.

Ya begitulah kira-kira mylov soal SMO yang kerjanya bejibun tapi sering disangka cuma upload konten doang. Penjelasan tadi biasanya bakal dipakai kalau sebelumnya perusahaan emang udah punya akun sosmed. Lain cerita kalau perusahaannya baru menetaskan akun sosmed wah jalannya bisa lebih panjang lagi karena tahap pertamanya bukan nentuin konten tapi nentuin persona.

Mengelola sosmed perusahaan sebenarnya susah-susah gampang gitu deh, skill yang dibutuhin juga enggak cuma perkara “seberapa update kamu sama topik yang lagi dibahas di sosmed?” tapi juga soal ketelitian, kemampuan buat bikin copywriting ciamik, analisis yang kuat, dan kekuatan mata buat mantengin layar laptop atau gawai berjam-jam.

Buat kalian yang masih suka ngemeng “admin sosmed gampang kok cuma upload doang”, hmm no no honey, segeralah bertobat. Lalu untuk para jobseeker yang sudah melamar sebagai social media officer, persiapkan jiwa ragamu mylov karena perjalanan panjang sekaliii.

BACA JUGA Kelihatannya Aja Nyantai, Aslinya Content Writer itu Bukan Pekerjaan Santai atau tulisan Atik Soraya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

Exit mobile version