Memperebutkan Gelar Ibu Ideal dalam Drama Korea ‘Birthcare Center’

Memperebutkan Gelar Ibu Ideal dalam Drama Korea Birthcare Center terminal mojok.co

Memperebutkan Gelar Ibu Ideal dalam Drama Korea Birthcare Center terminal mojok.co

Saya ini tipikal penonton drama Korea yang angin-anginan. Kebetulan sudah sebulan ini saya off dari kegiatan mendrakor. Namun, kok, ndilalah beberapa hari lalu mood saya buat nonton muncul kembali. Akhirnya saya pun iseng mencari drama baru apa yang sedang tayang.

Seperti biasa, saya selalu menggunakan metode random acak-acakan sederhana banget ketika mencari tontonan baru. Saya menghindari untuk membaca review dan rekomendasi. Satu hal lagi, biasanya saya mencari drama yang tidak hits. Saya lebih suka melihat tontonan yang tidak begitu banyak diperhatikan orang.

Setelah mempertimbangkan dengan cara tidak seksama, pilihan pun jatuh pada Birthcare Center. Baru dua episode yang sudah saya tonton, dan saya sungguh jatuh hati dibuatnya. Syukurlah drama ini pun totalnya hanya 8 episode saja, sehingga sebagai penonton yang mood swing pol, kekhawatiran lelah dan bosan di tengah jalan pun sepertinya bisa dieliminasi.

Ada beberapa alasan yang membuat saya ngefans sama drakor ini. Boleh, kan, kalau saya bagi di sini?

Alkisah, hiduplah seorang perempuan berusia 40-an plus-plus yang sukses menjadi wanita karier, Oh Hyun Jin namanya. Si mbak Hyun Jin hamil dan melahirkan di usia yang bagi segenap manusia di dunia dianggap bukan usia ideal lagi untuk babaran.

Cerita pun berlanjut pada periode postpartum. Mbak Hyun Jin datang ke sebuah tempat khusus bagi perawatan bayi dan ibu pasca melahirkan bernama Serenity.

Sebelum nyemplung lebih dalam tentang liku-liku pergaulan para ibu di Serenity, mari kita flashback sedikit pada masa-masa mbak Hyun Jin berjuang dengan kehamilannya.

Seperti pada kebanyakan perempuan bekerja, kehamilan adalah berkah sekaligus tantangan yang harus dihadapi dengan fisik prima dan jiwa yang kokoh. Apalagi untuk perempuan yang sudah agak berumur seperti Hyun Jin. Beratnya kehamilan pertama dan beban pekerjaan yang tidak berkurang, harus dipikul bersamaan seturut dengan tanggung jawab sebagai seorang direktur baru.

Sampai menjelang persalinan, Hyun Jin pun masih nekat bekerja keras. Hal ini harus dia lakukan karena selain posisi baru yang kini diemban, ia adalah perempuan.

Budaya patriarki yang masih melekat kuat di budaya perkantoran Korea Selatan yang menganggap perempuan pekerja tak sebaik laki-laki pekerja harus ia singkirkan jika ia tak mau tersingkir. Alhasil bonus pecah ketuban di saat sedang deal-dealan rembukan tender bisnis pun harus ia dapatkan.

Meski akhirnya berhasil melahirkan normal, tapi Hyun Jin pun harus melewati garis tipis antara hidup dan mati. Walaupun digambarkan dengan kocak, tapi percayalah jika kamu menontonnya, kelak rasa cintamu pada ibu akan semakin kuat.

Dan perjalanan panjang seorang ibu baru pun dimulai.

Masa pasca melahirkan yang dianggap akhir dari penderitaan ibu hamil, ternyata adalah awal segalanya. Periode yang tidak gampang bagi perempuan. Mungkin tak semua, tapi banyak perempuan yang harus berjuang “mengatasi” kendala diri sendiri.

Di sinilah daya dukung dari keluarga dan orang-orang terkasih sangat diperlukan. Syukurlah, Hyun Jin memiliki suami yang sangat pengertian, dan bonus ganteng bin body aduhai adalah keniscayaan tuk drama Korea.

Kegagapan bagi orang tua baru adalah hal lumrah, tapi biasanya lagi-lagi perempuan yang akan menanggung beban lebih berat. Perempuan dituntut harus tahu dan bisa untuk menjadi ibu yang seutuhnya selepas bayinya lahir.

Baby blues syndrome yang kerap terjadi pada ibu pasca melahirkan tidak pernah dianggap sebagai sesuatu yang serius. Gangguan psikologis ini hanya dianggap angin lalu dan pasti akan hilang sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Risiko jadi ibu katanya. Duh.…

Sebagai horangkayah, Hyun Jin tidak pulang ke rumah selepas melahirkan. Ia dan suami memilih tinggal di Serenity, sebuah birthcare center yang sangat mewah dengan fasilitas memanjakan. Namun ternyata, justru banyak problematika baru yang harus dihadapi.

Namanya juga fasilitas bersama, pastinya banyak yang tinggal di dalamnya. Hyun Jin yang seumur hidupnya lebih banyak menghabiskan waktu sebagai wanita karier di kantor, menjadi terkucilkan dengan gap yang lebar dengan ibu-ibu penghuni Serenity.

Kehidupan di Serenity Birthcare Center disuguhkan dalam balutan black comedy dan satire yang menonjok sana-sini. Berpusat pada sosok ibu ideal Jo Eun Jung yang menjadi panutan bagi ibu-ibu lainnya karena keberhasilannya dalam menjadi ibu.

Eun Jung menjadi representasi ibu sempurna karena pengetahuannya yang mumpuni dalam parenting. Ia berhasil menerapkan nilai-nilai edukasi pada anak semenjak anak masih dalam kandungan. Ia juga selalu melahirkan normal, menyusui selama 2 tahun penuh, dan membesarkan buah hatinya dengan tangannya sendiri.

Hal ini menjadikan Hyun Jin yang sesungguhnya pemberani menjadi ciut nyali. Bagaimana tidak? kegiatan menyusui yang bagi ibu-ibu lain adalah naluri, malah sama sekali tidak bisa ditunaikan dengan baik oleh Hyun Jin. Sekian kali ia mencoba, sekian kali itu pula ia gagal memberi air kehidupan bagi bayinya.

Menurut saya, drama ini menyuguhkan ide yang cukup segar. Pesan moral yang berat disuguhkan dengan cara yang sangat menghibur dan sedikit komikal. Sehingga, menjadikan penonton mudah untuk mencerna dan menikmatinya.

Meski banyak adegan yang bikin ngakak, tetapi ironi dan kegetiran sering kali terselip dalam satire-satire indah di setiap adegan. Masih ada 6 episode tersisa, bagaimana kisah selanjutnya akan bermuara? Semoga makin banyak hal-hal menarik dari tiap episodenya.

Saya banyak tertawa ketika menonton drama ini. Namun sungguh, di balik ngakak ini tersimpan ironi dan kegetiran. Sebagai sesama perempuan hampir paruh baya, I feel you Mbak Hyun Jin.

Saya kira Birthcare Center adalah drama yang layak tonton. Tidak hanya bagi calon ibu dan ibu-ibu. Bapak-bapak, om, tante, nenek, kakek, mertua, adik-adik berusia 15 tahun plus (sesuai rating drama) juga bisa turut belajar jika menontonnya.

Bagaimanapun, sudah seharusnya perempuan mendukung perempuan lainnya. Menurut saya sih, parenting itu adalah konsep yang berkesenian. Tidak ada yang mutlak untuk itu. Masing-masing orang tua pasti akan memiliki pola asuh yang tidak bisa diseragamkan.

Maka percaya dirilah para orang tua-orang tua baru. Didiklah buah hatimu menjadi manusia-manusia masa depan yang tidak hanya jenius otaknya, tapi juga lembut hatinya.

BACA JUGA Urutan Karakter Utama yang Punya Sifat Paling Realistis dalam Drama Korea Start-Up

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version