Menyesal Nggak Jadi Mahasiswa Ambisius Selama Kuliah, Sekarang Jadi Susah Dapat Kerja

Menyesal Nggak Jadi Mahasiswa Ambisius Selama Kuliah, Sekarang Jadi Susah Dapat Kerja Mojok.co

Menyesal Nggak Jadi Mahasiswa Ambisius Selama Kuliah, Sekarang Jadi Susah Dapat Kerja (unsplash.com)

Mahasiswa ambisius mungkin terdengar menyebalkan, tapi masa depannya jauh lebih cerah. 

Semenjak pandemi Covid-19, hampir seluruh universitas di Indonesia berbondong-bondong mengalihkan sistem perkuliahan dari luring menjadi daring. Tak perlu panas-panasan menuju kampus, kamu hanya perlu duduk di depan komputer atau handphone. 

Awalnya memang kesulitan, tapi sistem perkuliahan ini nyatanya lebih simpel dan tak banyak menyita banyak waktu dan tenaga untuk menamatkan beberapa SKS per harinya. Walaupun memang dari segi kualitas agak menurun. Wong beberapa dosen saya masih kurang melek teknologi, jadi perkuliahan hanya berjalan satu arah.

Pada saat itu kegiatan saya benar-benar hanya kuliah secara daring. Ruang gerak masih terbatas sehingga saya nggak melakukan kegiatan lain, skill akhirnya hanya begitu-begitu saja. Waktu itu saya sih senang menjalani kehidupan perkuliahan semacam ini. Saya belum sadar ternyata nilai ijazah saja tidak cukup untuk menawar posisi di perusahaan.

Kini nasi sudah menjadi bubur. Mencari pekerjaan begitu sulit karena saya nggak punya bekal lain di samping ijazah. Saya jadi menyesal, kenapa saat kuliah lebih memilih hidup santai daripada jadi mahasiswa yang aktif, mahasiswa yang ambisius.

Usai menamatkan kuliah, saya dihadapkan dengan kondisi persaingan kerja super ketat. Saya akui memang lulusan-lulusan baru sekarang sudah siap dengan segala macam pengalaman magang. Sistem kuno yang mana lulusan baru bekerja sebagai pegawai magang lalu diangkat pegawai tetap agaknya sudah mulai usang.

Magang saat kuliah jadi bekal berharga

Kebanyakan lulusan mahasiswa baru saat ini berlomba-lomba langsung menjadi karyawan bukan anak magang. Pengalaman magang sudah cukup puas dilakoni saat masih di bangku kuliah. Beberapa teman saya bahkan ada yang sampai tiga kali magang selama kuliah. Mereka memang mahasiswa ambis sih, tapi jalan itu ternyata membuahkan hasil. Jadi magang bukan cuma sekedar formalitas hanya merampungkan mata kuliah magang di semester akhir, tapi memang betul-betul bekal di masa depan. 

Sekilas keadaan persaingan di dunia kerja memang sedang sengit-sengitnya saat ini. Kalah skill saja, kalah habis dengan para junior. Belum lagi dengan orang-orang titipan, jangan harap bisa masuk di jajaran kandidat unggul.

Baca halaman selanjutnya: Memupuk skill yang …

Memupuk skill yang bermanfaat di dunia kerja

Apa yang saya sesali tak hanya itu, skill cadangan seperti penguasaan bahasa dan perangkat komputer lainnya juga tak sempat saya kembangkan. Imbasnya, saya kelabakan di penghujung kuliah saat menunggu ijazah dari kampus. Saya harus belajar otodidak secara cepat. Sementara ikut pelatihan khusus butuh waktu dan biaya tinggi. Padahal biaya wisuda cukup menguras tabungan.

Mau tak mau, saya rela menjadi karyawan magang di perusahaan-perusahaan kecil dengan gaji pas-pasan, jauh dari bayangan. Di sisi lain, sudah banyak teman-teman saya yang lolos di beberapa perusahaan lumayan besar bahkan diangkat menjadi karyawan tetap. Nelangsa ketinggalan, tapi memang itu harga yang harus dibayar karena masa lalu.

Boleh jadi mahasiswa ambisius, tapi pilih-pilih juga kegiatannya

Sebelum pandemi, saya masih berkecimpung di organisasi mahasiswa yang sebenarnya tidak ngebantu amat dalam karir saya di dunia media massa. Maklum, mahasiswa baru lagi senang-senangnya eksplor organisasi. Nasib sudah terlanjur basah, saya harus hadapi walau masih menggerutu “andai saja saya hanya fokus di beberapa organisasi penunjang skill untuk berkarir”. 

Pengalaman organisasi itu mengajarkan saya, sebenarnya boleh-boleh saja jadi mahasiswa ambis yang ikut organisasi ini-itu. Asal, organisasi yang dipilih benar-benar bermanfaat untuk masa depan, misal sesuai dengan jurusan atau tujuan karier. Kalau memang belum ada tujuan yaa mungkin pererat relasi pertemanan, siapa tahu jadi salah satu peluang mempermudah masuk kerja di masa depan. 

Nah, hal itu kelemahan saya, senior organisasi saya anggap hanya sebagai rekan semata tanpa kedekatan personal. Padahal bisa jadi jembatan karir buat saya di akhir perkuliahan. Apalagi dapat senior yang loyal, bisa-bisa ditawari pekerjaan di perusahaan top.

Terlambat bukan berarti gagal. Masih ada waktu buat orang-orang seperti saya untuk berbenah diri meningkatkan kemampuan biar bisa bersaing di dunia pekerjaan. Walaupun memang rasanya seperti makan sambil berlari. Agak capek, tapi ya sudah jalani saja toh untuk menjadi orang sukses butuh waktu panjang dan ketekunan.

Penulis: Gina Nurulfadilah
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Pelajar Surabaya Nggak Butuh Pramuka, Ekstrakurikuler Ini Memang Lebih Baik Nggak Diwajibkan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version