5 Tipe Klien yang Sering Dihadapi Seorang Content Writer

Macam-macam Tipikal Klien yang Sering Dihadapi Seorang Content Writer content writer

Macam-macam Tipikal Klien yang Sering Dihadapi Seorang Content Writer Betapa Sulitnya Menjelaskan Profesi 'Content Writer' Pada Boomer

Bagi seorang content writer, work from home atau work from office itu sama saja. Sebagai seorang penulis konten, terutama konten marketing, meskipun dilakukan dari rumah, content writer tetap menghadapi pekerjaan dan tantangan-tantangan baru yang mungkin sama sekali nggak terduga. Tantangan baru ini bisa muncul karena buntunya inspirasi, deadline yang makin dekat, dan lebih parahnya justru datang dari para klien.

Bagi saya, tantangan terberat  selain menghadapi kebuntuan inspirasi materi konten adalah tipikal para klien. Nggak semua klien yang dihadapi itu kooperatif. Selama kurang dari enam bulan, saya pernah menghadapi beberapa macam tipikal klien. Mulai dari tipe normal sampai yang abnormal bikin saya pengin resign kerja saat itu juga.

Kalau beberapa hari yang lalu saya menulis artikel terminal mojok berjudul, Kelihatannya Aja Nyantai, Aslinya Content Writer itu Bukan Pekerjaan Santai, kali ini saya bakal menyebutkan tipe-tipe klien yang sering dihadapi. Tipe-tipe ini saya klasifikasikan berdasarkan pengalaman saya selama menangani macam-macam klien. Jadi, kalau di antara kalian punya pendapat sendiri tentang tipikal para klien, tulis aja artikelmu sendiri. Wqwqwq….

Satu: Klien Normal

Di antara tipe-tipe klien yang pernah saya hadapi, klien dengan tipe normal inilah yang paling saya sukai. Ya iyalah siapa sih yang nggak suka hal-hal berbau normal?

Klien normal akan sangat kooperatif dan sangat memudahkan content writer dalam menyelesaikan target konten dengan deadline tertentu. Jumlah konten yang harus diselesaikan biasanya berdasarkan kontrak kerja antara pihak perusahaan agency atau si content writer sendiri dengan kliennya.

Biasanya seorang klien normal akan memeriksa dan memberikan approval konten untuk satu bulan ke depan pada H-10 atau H-7 pengunggahan konten di media sosial mereka. Kenapa harus H-7 sih?

Content writer mempunyai alur kerja tersistematis supaya memudahkan kerja sama antara content writer dan designer grafis. Pada tahap editing dan planning content writer memvisualisasikan rencana konten kepada klien untuk diberi masukan oleh klien dengan menunjukkan moodboard. Setelah itu barulah melakukan tahap revisi jika klien menginginkan adanya perubahan konten. Singkatnya, H-7 revisi konten sesuai permintaan klien lebih baik dari pada H-1 pengunggahan. Yekannn…

Dua: Klien Instan

Tipe klien instan adalah tipe klien yang maunya serba cepat dan nggak mau tau betapa pontang-pantingnya si content writer dan designer grafis. Klien tipikal ini biasanya juga bertipikal bossy. Kalau merasa sudah bayar, mereka berhak menginginkan pelayanan maksimal dari perusahaan agency atau pelayanan content writer dan designer grafis. Padahal uang yang dibayar juga nggak ada tambahan bonus, tapi klien tipikal ini mintanya serba cepet.

Biar nggak terlalu pusing menghadapi klien instan ini, jika kalian seorang content writer sebaiknya perlu mengingatkan kembali masa pengerjaan konten beserta designya sesuai flow kerja yang ditetapkan perusahaan atau yang sudah kalian tetapkan pada si klien. Jika si klien tetap menginginkan servis yang cepat dan kalian adalah freelancer, kalian berhak mengenakan charge beberapa persen sebagai servis tambahan di luar kontrak.

Sementara jika kalian adalah content writer dari perusahaan agency, ada baiknya kalian membicarakan hal ini pada atasan supaya kalian tetap mendapatkan hak serta beban kerja sesuai dengan upah.

Tiga: Klien Malas

Seorang content writer siap-siap mengalami beberapa kerepotan yang nggak kalah menyebalkan dari klien instan dengan menghadapi klien malas. Klien dengan tipikal malas akan membuat pekerjaan tertunda cukup lama. Jadwal konten yang seharusnya sudah mendapat approval H-7 hari sebelum diunggah, bisa-bisa akan mendapat approval H-2 sebelum diunggah. Kalau sudah begitu, proses memvisualisasikan konten pun serba gendadapan.

Klien tipikal ini suka menunda-nunda proses revisi konten tanpa alasan kesibukan pekerjaan. Alhasil content writer dan designer grafis pun dibuat kewalahan olehnya.

Jika menghadapi klien malas yang perlu ditingkatkan adalah ketelatenan dan kesabaran. Kalau sudah sabar jangan lupa rutin mem-follow up klien agar mereka tidak lupa dengan kewajibannya untuk mengoreksi konten sebulan ke depan. Jangan bosen-bosen lah kalau sama klien ini pokoknya..

Empat: Klien Slow Response

Ternyata bukan hanya penjual slow response aja yang bikin gedeg. Klien slow response pun juga nyebelinnya ngaudzubileh. Entah karena sibuk atau ada keperluan pribadi, klien slow response ini bahkan bisa berhari-hari tidak menjawab pesan dari content writer yang punya keperluan minta approval. Kalau sudah begini, content writer merasa seperti digantungkan.

Mau ngunggah konten, tapi kok belum dapat approval. Designer grafis pun juga nggak kalah dilemanya. Di saat waiting list sedang menumpuk, konten dari klien satu ini akan menghambat. Mau dikerjain takut si klien mengajukan revisi. Nanti kerja dua kali dwongg! Dan dilema inilah yang sering saya dan designer grafis kantor hadapi.

Jalan yang perlu diambil untuk menghadapi klien ini adalah dengan rutin mem-follow up. Jangan lupa gunakan kalimat yang sopan meskipun hati sudah engap dan penginnya ngedumel. Kita nggak pernah tau, klien slow response karena urusan pekerjaan lain, keperluan pribadi, atau ada masalah tertentu. Positive thinking aja, lah.

Lima: Klien Plin-plan

Siapa sih yang nggak gedeg sama orang dengan tipikal, “Isuk dele, bengi tempe?” Dengan kata lain, orang yang punya tipikal plin-plan memang sudah menyebalkan sejak dulu. Rasa sebal ini semakin kompleks saat seseorang yang bertipikal plin-plan adalah seorang klien. Klien adalah raja, tapi rajanya plin-plan. Sudah semaunya sendiri, eh labil juga.

Klien ini bisa diatasi dengan ditegaskan kembali tentang kontrak kerja yang berisi peraturan kerja content writer dan designer grafis. Kalian bisa mengingatkan kembali kepada klien tentang berapa kali jumlah revisi design atau konten yang bisa diajukan klien tanpa ada tambahan charge. Atau sampaikan saja kebijakan kantor kalian untuk content writer dan designer grafis saat mengerjakan project dari klien.

Meskipun client is everything, sebagai seorang content writer juga perlu mendapatkan hak dan beban kerja yang wajar. Bersabar dan pantang ngeluh adalah kuncinya. Tapi kalau merasa kerepotan sebagai content writer yang sering menghadapi klien rewel, mending rebahan aja, deh. Nggak usah kerja. Serius… Karena semua kerjaan pasti bikin pusing!

BACA JUGA Betapa Sulitnya Menjelaskan Profesi ‘Content Writer’ pada Boomer atau tulisan Ade Vika Nanda Yuniwan lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Exit mobile version