Jika menjadi pengurus LSM adalah pekerjaan mulia, warga Bangkalan Madura agaknya patut berbangga. Sebab, di Pulau Garam ini, Bangkalan adalah kabupaten yang memiliki LSM atau ormas paling banyak, yakni 202 LSM. Kabupaten lain di Madura nggak ada yang nyampe setengahnya. Bahkan cuma puluhan.
Jadi ya, misal 202 LSM ini dibagi rata per kecamatan di Bangkalan Madura, masing-masing kecamatan bisa punya 11 LSM atau ormas. Mantap, mantap!
BTW, saya tidak asal bicara ya. Sebagai bukti, cobalah kalian survei cita-cita anak muda Bangkalan, terkhusus para mahasiswa di Bangkalan Madura, saya percaya jawaban ingin menjadi pengurus LSM akan dominan.
Dulu saja, saat saya masih kuliah, saya berkali-kali ditawari masuk LSM oleh senior saya. Kini pun, setelah saya lulus, banyak pula yang ngajak untuk membangun LSM. Saya sampai berpikir, setulus itukah isi hati warga Bangkalan sampai jor-joran menyibukkan diri ngurus LSM, in this economy lagi.
Ah, tapi kalau saya renungkan lebih dalam lagi, sepertinya realitas di lapangan tidak seperti yang saya bicarakan. Keberadaan LSM masih tetap tak membawa perubahan. Berikut saya jelaskan!
LSM cuma ramai pas demo saja
Sebetulnya, saya kaget ketika mengetahui jumlah LSM di Kabupaten Bangkalan melalui website BPS Jawa Timur. Saya kira jumlahnya mungkin hanya ada puluhan LSM saja. Ternyata tidak, Gaes. Dari fenomena kehidupan sehari-hari pun, tak terbayangkan dalam pikiran saya bahwa jumlahnya akan sebanyak itu.
Saya berkata demikian karena jujur LSM di Bangkalan itu jarang ada yang kelihatan. Kelihatan pun paling pas demonstrasi saja. Setelahnya, mati bak ditelan bumi. Mereka baru akan muncul lagi nanti pas musim-musim demonstrasi. Nah, munculnya ini kadang juga dengan nama baru, tapi tetap dengan orang-orang yang sama. Haduh, mungkin anu ya, satu orang bisa ngurus 10 LSM secara bersamaan.
Saya akui ya itu masih mending sih daripada LSM yang nggak pernah muncul sama sekali, entah siapa orang-orangnya.
Terlalu sibuk menghajar yang di atas
Meskipun di atas saya bilang bahwa itu lebih mending bukan berarti itu sudah menjadi kondisi ideal dari sebuah LSM. Bagi saya pribadi LSM yang cuma datang pas demo saja masih sangat kurang. Sebab gini, seandainya ada kecelakaan di jalan, semua dari kita akan lebih sibuk menolong korban atau malah ngejar pelakunya duluan? Tentu si korban dong, kalau tidak bisa jadi korbannya malah meninggal.
Nah, itulah yang saya lihat dari LSM di Bangkalan. Mereka terlalu sibuk menghajar yang di atas, yakni pejabat dan penguasa, sampai-sampai lupa kalau rakyat di bawah juga perlu diberdayakan.
Hal ini bukan cuma dilihat dari hobi mereka yang demonstrasi saja, tapi juga hobinya untuk menakut-nakuti pejabat pemerintah. Nakut-nakutinnya pun nggak 100%, tapi setengah-setengah. Maksud saya, cara menakutinya masih dengan cara lobi-lobi, atau ngopi-ngopi di warkop bareng jajaran penguasa. Haduh, aneh sekali.
Pesan saya, jangan terlalu fokus menghantam yang di atas lah, kita juga sangat perlu membantu yang di bawah.
LSM di Bangkalan harus belajar lebih mandiri
Saya tidak berani menyimpulkan sendiri mengapa banyak LSM di Bangkalan lebih suka menghantam ke atas daripada merawat yang di bawah. Tapi, kalau saya dan kalian diskusi bersama, insya Allah kecurigaan kita semua sama. Hehehe.
Nah, maka dari itu, bagi saya LSM itu idealnya harus lebih mandiri. LSM bisa tetap memberdayakan masyarakat pinggiran tanpa harus nakut-nakuti atau ngopi-ngopi sama pejabat pemerintah. Caranya, carilah dana dengan cara yang lebih elegan.
Dulu, sebetulnya saya juga aktif di LSM. Tapi, gerakan LSM yang saya ikuti berbeda sama LSM kebanyakan hari-hari ini. Kami sebisa mungkin tak mencoba mendekat pada pemerintah, lalu bagaimana kita memberdayakan masyarakat? Ya, kami lebih sering berkolaborasi dengan LSM-LSM lain yang juga punya nafas kemanusiaan sama dengan kami. Bahkan, LSM yang saya ikuti pernah mendapat dana sampai belasan juta dari LSM di Australia untuk memberdayakan masyarakat pesisir.
Nah, itulah yang menurut saya harus dilakukan oleh LSM-LSM di Bangkalan. Cobalah explore keluar, bangun kolaborasi dengan NGO di tingkat global. Jangan cuma main sama pejabat Bangkalan aja. Nggak level sama sekali, kdo!
Yah, demikianlah ironi dunia per-LSM-an di kabupaten saya, Bangkalan Madura. Tapi bagaimanapun, sebetulnya ini sudah cukup baik kok. Intinya, sudah punya pandangan ingin memberdayakan masyarakat, tinggal cara pandang dan cara geraknya saja diperbaiki. Jangan terlalu dekat sama politisilah, mending bangun kolaborasi sesama LSM yang emang niat buat membangun masyarakat. Sekian!
Penulis: Abdur Rohman
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Bangkalan kabupaten yang terlalu berisik sampai nggak sadar kalau Sumenep dan Pamekasan makin melejit dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok