Kuliah di Poltekkes masih sering dianggap kasta kedua di bawah PTN, padahal dunianya sudah berbeda

Kuliah di Poltekkes masih sering dianggap kasta kedua di bawah PTN, padahal dunianya sudah berbeda

Untuk orang-orang yang masih menganggap Poltekkes sebagai tempat kuliah kasta kedua, mungkin sudah saatnya melipat kesombongan itu rapi-rapi

Masyarakat kita itu paling hobi mengukur masa depan orang lain dari tempatnya berkuliah. Begitu lulus SMA, nama kampus tempat seseorang berlabuh langsung dijadikan tolok ukur tunggal untuk menentukan siapa yang pintar dan siapa yang dianggap gagal.

ADVERTISEMENT

Mereka yang berhasil menembus PTN favorit bakal disambut dengan sorak-sorai dan pujian. Sebaliknya, anak yang masuk Politeknik Kesehatan (Poltekkes) terkadang harus siap menerima tanggapan bernada kasihan.

“Lho, kuliah di situ? Kirain masuk PTN.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut kerabat atau tetangga. Bagi mereka, kata-kata itu mungkin cuma basa-basi. Namun di baliknya ada stigma merendahkan yang terlanjur mengakar, yaitu seolah-olah universitas favorit adalah puncak pencapaian, sedangkan Poltekkes cuma sekadar pilihan pelarian karena gagal masuk PTN.

Sejak kapan status dan gengsi gerbang kampus dijadikan alat untuk meremehkan perjuangan belajar seseorang?

Poltekkes bukan tempat penampungan anak yang gagal masuk universitas

Anggapan bahwa mahasiswa Poltekkes itu pasti sekumpulan anak yang tidak mampu menembus PTN adalah kesimpulan dangkal dari orang-orang yang malas berpikir.

Setiap kampus itu punya karakteristik, jalur masuk, dan fokus pendidikan yang beda. Mengabaikan kenyataan bahwa ada ribuan anak yang memang sejak awal bercita-cita jadi tenaga kesehatan profesional lewat jalur Poltekkes adalah bentuk kebodohan yang nyata.

Ada anak yang memilih Poltekkes karena ingin cepat menguasai keterampilan klinis. Ada yang sadar diri dengan prospek kerja di dunia medis yang jelas. Juga ada yang memang merasa kurikulum terapan Poltekkes jauh lebih pas dengan rencana kariernya ketimbang teori tebal di universitas.

Namun penjelasan logis seperti itu sering kali patah di hadapan orang-orang yang telanjur percaya bahwa kualitas manusia itu diringkas cuma dari satu pertanyaan, yaitu kuliah di mana?

ADVERTISEMENT

Lucunya, mereka yang hobi membanding-bandingkan ini sebenarnya sedang membandingkan dua hal yang jalurnya saja sudah tidak sama.

Lolos kampus favorit itu baru pintu masuk, bukan garis finis

Satu hal yang sering dilupakan oleh orang-orang yang mabuk gengsi almamater adalah kenyataan bahwa lolos seleksi penerimaan mahasiswa baru itu baru tahap paling awal.

Diterima di kampus ternama bukan berarti masa depan otomatis cerah dan dijamin sukses. Di dalam kampus, semua orang tetap harus berdarah-darah melewati tugas yang menumpuk, ujian, dan proses pendewasaan.

Khusus di Poltekkes, mahasiswa dituntut punya ketahanan ekstra. Mereka bukan cuma harus lulus ujian teori di kelas, tapi juga harus siap diterjunkan langsung ke fasilitas kesehatan, berhadapan dengan pasien nyata, dan mempertanggungjawabkan keterampilan klinis mereka di bawah supervisi ketat.

Nama kampus yang mentereng mungkin bisa memukau orang saat perkenalan di acara arisan. Namun saat turun ke lapangan, pasien dan dunia kerja tidak butuh almamater bergengsi, melainkan kemampuan teknis dan empati nyata.

Kalau tujuan pendidikan adalah membentuk manusia yang berilmu dan siap pakai, kenapa kita justru sibuk mengagumi bentuk pintu masuknya saja?

Jangan lelah membuktikan diri pada orang yang memang buta sejarah

Bagian paling melelahkan menjadi mahasiswa Poltekkes bukanlah padatnya jadwal praktik, melainkan dorongan dari dalam diri sendiri untuk terus-menerus membuktikan bahwa pilihan kita tidak salah.

Ada rasa ingin menunjukkan pada orang-orang yang dulu meremehkan bahwa lulusan Poltekkes juga bisa sukses dan punya karier yang kokoh.

Perasaan itu sangat manusiawi. Siapa pun pasti kesal kalau perjuangannya dipandang sebelah mata.

Namun, kita juga harus hati-hati agar tidak terjebak dalam permainan gengsi yang sama. Kalau sejak awal kita menempuh pendidikan untuk membangun masa depan dan mengabdi di dunia kesehatan, jangan habiskan energi cuma untuk mengejar pengakuan dari orang-orang yang tidak paham realitas.

Mahasiswa Poltekkes tidak perlu memuji kampusnya setinggi langit untuk merasa berharga. Mereka juga tidak perlu merendahkan anak PTN hanya agar posisinya terlihat sejajar.

Pada akhirnya, setiap orang berhak dinilai dari kompetensi dan tanggung jawabnya di lapangan. Bukan dari seberapa populer nama kampus di ijazahnya.

Untuk orang-orang yang masih menganggap Poltekkes sebagai tempat kuliah kasta kedua, mungkin sudah saatnya melipat kesombongan itu rapi-rapi. Sebab kalau seorang lulusan bisa menjadi manusia yang kompeten, mandiri, dan bermanfaat bagi masyarakat, tidak ada satu pun bagian dari proses belajarnya yang pantas untuk ditertawakan.

Penulis: Felinna Agicia Syahira
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 3 Alasan Poltekkes Semarang Jadi Poltekkes Terbaik di Indonesia dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok

Terakhir diperbarui pada 30 Oktober 2026 oleh .

Felinna Agicia Syahira

Mahasiswa semester 1 Poltekkes Kemenkes Surakarta. Tertarik pada cerita-cerita sederhana tentang kehidupan sehari-hari dan hal-hal menarik dari daerah tempat tinggalnya. Suka mengamati hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain.