Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Ironi Pembangunan Kota Malang: Sukses Meniru Jakarta dalam Transportasi, tapi Gagal Menghindari Banjir

Alban Hogantara oleh Alban Hogantara
5 Desember 2025
A A
Malang Nyaman untuk Hidup tapi Bikin Sesak Buat Bertahan Hidup (Unsplash)

Malang Nyaman untuk Hidup tapi Bikin Sesak Buat Bertahan Hidup (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Beberapa minggu yang lalu, atmosfer Kota Malang dipenuhi optimisme yang luar biasa. Kehadiran bus TransJatim yang kini sudah tampak beroperasi di wilayah Malang disambut dengan suka cita. Pujian dan ucapan selamat atas inisiatif pembangunan infrastruktur publik yang modern ini bermunculan di berbagai platform media sosial dan media massa.

Keberhasilan Malang dalam menyediakan Bus Rapid Transit (BRT) memang perlu diacungi jempol. Sebab, ini menunjukkan keseriusan kota pendidikan tersebut dalam mengurai masalah kemacetan. Bahkan diklaim berhasil meniru Ibu Kota Jakarta dalam hal penyediaan transportasi massal yang layak.

ADVERTISEMENT

Namun, di balik kebanggaan akan infrastruktur baru tersebut, tersimpan sebuah ironi yang memilukan. Sayangnya, Kota Malang tampaknya terlalu meniru Jakarta dalam hal keburukannya, yaitu bencana banjir. Tak lama setelah hujan deras mengguyur, di berbagai titik vital di Kota Malang segera tergenang. Bencana banjir ini kini menjadi pemandangan memilukan hati di lokasi-lokasi padat aktivitas seperti Jalan Suhat, Jalan Letjen Sutoyo, Jalan Kedawung, Jalan Letjen S. Parman, sampai Jalan Ahmad Yani.

Bukan hanya sekadar genangan, misalnya di kawasan seperti Kedawung, dampaknya cukup parah. Sampai-sampai air bah masuk ke dalam pemukiman warga, menimbulkan kerugian material dan psikologis, serta kekacauan aktivitas. Kejadian-kejadian ini dengan mudah dapat diverifikasi melalui unggahan dan laporan yang tersebar di media sosial, dari warganya itu sendiri.

Banjir bukan perkara sepele

Mungkin ada yang berpendapat bahwa kondisi ini hanyalah kehendak Tuhan semata, akibat curah hujan yang terlalu tinggi sejak siang hari. Namun, pemikiran yang hanya terbatas pada aspek meteorologis tersebut adalah pemikiran yang terlalu polos. Banjir yang terjadi kali ini adalah cerminan dari kegagalan sistematis dalam perencanaan tata ruang kota. Padahal banjir ini merupakan sinyal bahwa Kota Malang perlahan-lahan menuju Jakarta versi Jawa Timur.

Sebab utama dari bencana ini tampak jelas bagi mereka yang mau menyelisik lebih dalam: masifnya pembangunan yang tidak terkendali. Kita bisa melihat sendiri banyak bangunan yang bermunculan di lokasi-lokasi rawan. Ekspansi ini mengubah lansekap kota secara drastis, sehingga saluran drainase yang ada tidak lagi optimal menampung debit air.

Fenomena munculnya kafe-kafe hits, apartemen, dan pusat komersial di area yang dulunya merupakan ruang terbuka hijau semakin memperparah keadaan. Hal ini berujung pada hilangnya resapan air alami yaitu pepohonan dan area hijau. Saat area sawah yang subur berubah bentuk menjadi perumahan atau ruko. Kemampuan tanah untuk menyerap air hujan secara alami hilang sepenuhnya, memaksa air mengalir seluruhnya ke sistem drainase buatan yang sudah overloaded.

Pemerintah daerah seolah terlalu fokus pada aspek lain (mungkin pada pembangunan yang bersifat eye-catching). Padahal seharusnya energi dan perhatian lebih besar dicurahkan pada regulasi bangunan yang diperketat. Penegakan hukum terhadap pelanggaran Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan peraturan ruang terbuka hijau harus menjadi prioritas, bukan hanya wacana ataupun opsi lain.

Baca Juga:

5 Peringatan untuk wargi Jakarta yang nafsu banget mau pindah ke Salatiga

Saat Jakarta terasa lebih tenang dibanding mudik ke Jawa Timur gara-gara teror pawai sound horeg Agustusan

Selain itu, masalah sepele tapi fundamental seperti tidak membuang sampah sembarangan juga masih menjadi PR besar, karena sampah-sampah ini menyumbat saluran air vital kota.

Malang harus segera berbenah!

Malang harus segera berbenah jika tidak ingin permanen menyandang predikat “Jakarta Kecil” yang banyak masalah. Prioritas yang harus segera dilakukan adalah menanam kembali pohon di area-area kritis dan melakukan tindakan tegas seperti melarang penggunaan air tanah yang berlebihan, baik oleh hotel, kafe, maupun industri, yang dapat memperburuk kondisi tanah dan resapan. Sebab, bisa mengakibatkan penurunan tinggi tanah di daerah tersebut.

Yang paling penting adalah sinergi antar-daerah. Mengingat ada potensi air kiriman berasal dari kawasan dataran tinggi, Kota Malang harus segera berkoordinasi erat dengan Pemerintah Kota Batu untuk membuat kebijakan tata ruang dan konservasi lingkungan bersama. Dan memperkuat larangan regulasi bangunan hotel dan villa di kawasan tinggi. Upaya konservasi di hulu sangat penting agar limpahan air tidak menjadi bencana di hilir.

Kemacetan, banjir, dan polusi cukuplah Jakarta saja yang menyandang predikat buruk ini, Kota Malang nggak usah. Malang punya potensi di bidang pendidikan, lansekap alam yang memukau, dan salah satu opsi pilihan liburan yang paling tinggi. Sangat disayangkan jika hal tersebut tertutup oleh tata kelola pemerintah yang gagal sehingga menyebabkan banjir ini. Saatnya pemerintah mengambil tindakan konkret untuk memprioritaskan tata kelola lingkungan di atas ambisi pembangunan fisik semata.

Penulis: Alban Hogantara
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kota Malang Itu Bukan Kota Slow Living, tapi Slow Motion

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 5 Desember 2025 oleh

Tags: banjir jakartabanjir kota malangJakartakota malangpotensi kota malang
Alban Hogantara

Alban Hogantara

Seorang perantau asli Karawang yang kini tinggal di Malang yang percaya bahwa inspirasi itu datang di jam-jam ketika mata sudah 90% ingin tidur. Gemar baca buku dan menonton film, terutama film 3 idiots.

ArtikelTerkait

5 Hal Penting yang Wajib Diketahui Jika Ingin Jogging di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta

5 Hal Penting yang Wajib Diketahui Jika Ingin Jogging di Gelora Bung Karno (GBK) Jakarta

3 Januari 2026
Tebet, Sebaik-baiknya Daerah di Jakarta untuk Merantau Mojok.co

Tebet, Sebaik-baiknya Daerah di Jakarta untuk Merantau

14 Agustus 2024
Hidup di Bogor Itu Nggak Seindah yang Ada di Bayanganmu, Udah Panas, Macet, Chaos! jakarta

Bogor, Kota yang Nanggung karena Sulit Dijangkau Transportasi Umum, Harus Mampir Jakarta Dulu!

16 November 2025
5 Bioskop Murah di Jakarta yang Harganya Masih di Bawah Rp35 Ribu Mojok.co

5 Bioskop Murah di Jakarta yang Harganya Masih di Bawah Rp35 Ribu

20 Februari 2024
Mimpi Lulusan S2 Mati di Jakarta, Masih Waras Sudah Syukur (Unsplashj)

Culture Shock Fresh Graduate yang Mengadu Nasib di Jakarta: Baru Sampai Langsung Ditipu Driver Ojol, Ibu Kota Memang Lebih Kejam daripada Ibu Tiri!

26 Maret 2026
4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Tinggal di Bekasi yang Isinya Cuma Masalah Mojok.co

4 Tipe Orang yang Nggak Cocok Tinggal di Bekasi yang Isinya Cuma Masalah

14 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah  Mojok.co

Nasib perempuan usia 20 tahunan di desa, dianggap sudah tua dan dipaksa menikah 

7 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Nakes vs pasien BPJS sama-sama korban sistem kesehatan (Unsplash)

Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk

9 Agustus 2026
5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia saja Mojok.co

5 jurusan kuliah S2 yang sebaiknya diambil di Indonesia aja, nggak usah jauh-jauh ke luar negeri

10 Agustus 2026
Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua Mojok.co

Warung Tacibay adalah jawaban ketika mahasiswa Malang memasuki tanggal tua

7 Agustus 2026
Nalar Cacat Kepala Sekolah yang Menganggap Enteng Bullying pada Siswa

Penyelesaian bullying di sekolah hanya dengan permintaan maaf adalah bukti bahwa hal ini nggak pernah dianggap serius

8 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.