Kerja di Jakarta Memang Kejam, tapi Masih Banyak Hal yang Bisa Disyukuri dari Kota yang Mengerikan Itu

Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau

Kerja Dekat Monas Jakarta Nggak Selalu Enak, Akses Mudah tapi Sering Ada Demo yang Bikin Lalu Lintas Kacau (unsplash.com)

Beberapa waktu lalu ada sebuah artikel di Terminal yang bikin saya nostalgia. Artikel tersebut adalah karya Mas Arief Nur Hidayat. Judul artikelnya Culture Shock Fresh Graduate yang Mengadu Nasib di Jakarta: Baru Sampai Langsung Ditipu Driver Ojol, Ibu Kota Memang Lebih Kejam daripada Ibu Tiri!.

Dalam tulisan tersebut Mas Arief Nur Hidayat menceritakan gegar budaya yang dirasakan saat pertama kali menapakkan kaki di ibu kota sekitar satu dekade lalu. Kalau nggak salah satu windu lalu saya juga pertama kali bekerja secara profesional di Jakarta. Tepatnya di sekitaran wilayah Kelapa Gading.

Terus terang, saya sepakat dengan Mas Arief Nur Hidayat bahwa kerja di Jakarta memang kejam. Akan tetapi, selepas nggak kerja di sana, ternyata saya sadar masih ada beberapa hal yang patut disyukuri ketika berkarier di The Big Durian.

Jakarta, daerah dengan pilihan transum yang beragam

Menurut saya, hari ini transum merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat. Mengingat mobilitas masyarakat sekarang sangat tinggi. Terutama bagi pekerja di daerah perkotaan.

Di luar Jakarta dan Semarang, saya yakin sedikit sekali karyawan yang berangkat kerja naik transum. Soalnya, di luar dua daerah tersebut, transumnya masih belum bisa diandalkan. Armadanya terbatas, nggak pasti juga kedatangannya bahkan lantaran efisiensi anggaran ada yang berhenti beroperasi.

Dulu, saat masih bekerja di Jakarta, saya sangat-sangat terbantu dengan adanya transum. Pasalnya, pilihan transum di sana sangat beragam. Kamu bisa naik KRL, Transjakarta, LRT sampai MRT. Bahkan, kini sudah ada Mikrotrans, angkot dengan versi lebih nyaman.

Tarif transum sangat terjangkau

Keragaman transum nggak hanya satu-satunya yang patut disyukuri ketika bekerja di Jakarta. Tarif transum di sana juga sangat-sangat terjangkau. Kita ambil contoh Transjakarta, tarifnya hanya Rp3.500 doang. Dengan tarif segitu, kamu sudah bisa muter-muter Ibu Kota sepuasnya.

Jika kamu seorang karyawan yang punya lima hari kerja dalam seminggu dan hanya menggunakan Transjakarta untuk berangkat kerja, maka biaya pulang pergi selama sebulan naik Transjakarta nggak sampai Rp150.000/bulan. Harga segitu masih cukup oke sekali pun si karyawan gajinya hanya UMP.

Coba bandingin dengan pekerja di luar Jakarta, saya yakin biaya transportasinya bakal lebih tinggi. Terlebih bila si pekerja mengandalkan ojol. Bisa jadi biaya transportasinya dua atau tiga kali lipatnya.

Mudah mencari tempat hiburan

Bagi saya, bekerja di mana pun itu bikin stres, sekalipun kamu mencintai pekerjaan tersebut. Sebab di tempat kerja ada saja bos nyebelin, teman toxic, dan senior rese.

Kebanyakan orang nggak kuat di Jakarta gara-gara sudah di kerjaan stress ditambah lingkungan hidup di luar kantor juga bikin stress. Beda dengan daerah di luar kota besar yang lingkungan hidupnya lebih slow living. Jadi stresnya nggak berlipat-lipat.

Walaupun kerja dan tinggal di Jakarta bikin stres berat tapi di sana juga banyak tempat menyembuhkannya. Kalau kerja di Jakarta, kamu punya beragam opsi tempat hiburan. Mulai dari yang gratis sampai yang bikin dompet menjerit.

Kamu mau ke tempat healing gratisan yang ramah keluarga di Jakarta? Datang saja ke berbagai taman kota di sana. Kamu suka datang ke konser? Ada berbagai pilihan event musik setiap tahunnya.

Beda banget dengan tempat kerja saya sekarang. Lokasinya memang agak terpencil. Jadi susah banget nyari tempat healing. Ya paling tempat healingnya itu-itu doang. Malah membuat kami sekeluarga bosan.

Andai bisa mengulang waktu, saya ingin lebih mensyukuri beberapa kelebihan Jakarta. Tuhan memang adil kepada hambanya. Ibu Kota memang kejam, tapi masih ada saja yang bikin saya merindukannya.

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Serba Salah Jadi ASN: Terlalu Rajin Dibilang Cari Muka, Terlalu Santai Dicap Pemalas

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version