Kereta Tambahan Gambir-Surabaya: Harga Selangit, Fasilitas (Amat) Sulit!

Kereta Tambahan Gambir-Surabaya: Harga Selangit, Fasilitas (Amat) Sulit!

Kereta Tambahan Gambir-Surabaya: Harga Selangit, Fasilitas (Amat) Sulit!

Eksekutif harga hampir satu juta, tapi gerbongnya kalah jauh dibanding new generation. Itulah sedikit ungkapan kekesalan saya saat naik kereta tambahan Gambir-Surabaya.

Lebaran kali ini cukup terasa pertarungan merebutkan tiket kereta untuk satu kursi mudik menuju kampung halaman, nggak seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun yang membuat tercengang selain harga yang nggak masuk akal, seolah PT KAI sedang aji mumpung buat memeras dompet para calon penumpang adalah fasilitas kereta yang nggak sebanding dengan harga nggak wajar yang diberikan.

Di atas kertas, kereta ini berperan sebagai penyelamat bagi mereka yang kalah perang war tiket kereta reguler. Namun, secara realitas, menaiki kereta ini sering kali terasa seperti membayar harga luxury untuk pengalaman kelas mediator, sama sekali tidak pantas.

Kereta tambahan Gambir-Surabaya: Harga puncak untuk armada simpanan

Masalah klasik yang selalu berulang setiap musim mudik adalah ketimpangan antara harga tiket dan kualitas armada. Kereta tambahan eksekutif rute Gambir-Surabaya sering kali dibanderol dengan harga tinggi alias tarif batas atas, yang bisa menyentuh angka satu juta rupiah.

Celakanya, armada yang dikeluarkan KAI untuk memenuhi lonjakan penumpang ini sering kali bukanlah unit Stainless Steel terbaru. Melainkan unit-unit cadangan yang biasanya tidur di depo.

Bayangkan, kita telah menyisihkan sebagian THR untuk kenyamanan maksimal selama berjam-jam perjalanan mudik. Namun, saat kereta melaju masuk ke peron Gambir, yang datang adalah gerbong eksekutif angkatan lama dengan interior jadul. Kursinya mungkin tetap berbahan beludru. Tapi pegasnya sudah tak lagi empuk, dan sistem reclining-nya terkadang harus dibantu tenaga ekstra agar mau bersandar. Di sini, penumpang seolah dipaksa membayar mahal bukan untuk fasilitas, melainkan demi sebuah pulang kampung.

BACA JUGA: KA Gaya Baru Malam Selatan New Generation: Ketika Si Tua Bangka Dipaksa Glow-Up demi Status Sosial

Kekalahan telak dari Standar New Generation

Ironi mudik semakin terasa ketika kereta tambahan ini harus disalip atau bersandingan dengan kereta reguler macam Argo Bromo Anggrek yang sudah menggunakan armada New Generation. Perbandingannya sungguh menyakitkan mata. Di saat penumpang kereta reguler menikmati pintu geser otomatis yang senyap dan layar informasi digital yang futuristik, pemudik di kereta tambahan masih harus bergelut dengan pintu manual yang beratnya minta ampun hanya untuk sekadar ke toilet atau ke gerbong makan.

Belum lagi bicara soal konektivitas. Di era di mana gawai adalah nyawa kedua, ketiadaan USB charging port di setiap kursi pada armada lama terasa ketinggalan zaman. Penumpang harus berebut satu-satunya colokan di dinding kabin yang posisinya sering kali tidak ergonomis. Deru roda di atas rel dan getaran mesin yang bocor ke dalam kabin membuat perjalanan mudik yang seharusnya penuh kedamaian menjadi melelahkan bagi telinga dan pikiran.

Menagih keadilan di tengah ritual mudik

KAI seolah-olah memanfaatkan psikologi pemudik yang asal bisa pulang, harga tiket kereta berapa pun dibayar. Namun, secara etika bisnis transportasi, mematok harga setinggi langit untuk fasilitas yang tertinggal satu dekade adalah praktik yang patut dipertanyakan. Standar eksekutif seharusnya menjadi janji kualitas yang seragam. Bukan untung-untungan di mana penumpang yang membayar harga sama bisa mendapatkan fasilitas yang berbeda kasta secara drastis.

Seharusnya, momen mudik menjadi ajang bagi KAI untuk menunjukkan performa terbaiknya. Bukan sekadar momen mengeruk cuan dengan mengeluarkan semua cadangan armada kereta tanpa memperhatikan standarisasi kenyamanan.

Jika memang unit yang tersedia adalah unit lama, skema harga yang lebih progresif dan jujur adalah solusinya. Jangan sampai pulang kampung ini ternoda oleh rasa kecewa karena merasa dieksploitasi oleh harga eksekutif yang ternyata hanya sekadar nama tanpa makna kemewahan yang nyata.

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Pengalaman Naik Kereta Sri Tanjung Surabaya-Jogja: Kursi Tegaknya Menyiksa Fisik, Penumpangnya Menyiksa Psikis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version