Beruntung saya memutuskan kuliah di Universitas Terbuka selama career break.
Bekerja itu bukan semata mencari lembar demi lembar rupiah. Bekerja juga bisa jadi alasan seseorang untuk bahagia. Bisa jadi itu sebabnya orang berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan yang layak. Supaya, kelak hidupnya tidak dipandang sebelah mata.
Sayangnya, jalan hidup manusia tidak selalu mulus. Ada kalanya dunia mengajak bercanda dengan skenario yang tak pernah terduga. Misalnya, tiba-tiba kantor bangkrut, kena perampingan massal, atau ada masalah keluarga yang kemudian memaksa seseorang untuk merelakan pekerjaannya saat itu. Istilahnya, career break.
Saya pernah berada di fase career break. Dan jujur saja, rasanya sungguh tidak mudah. Saya merasa hidup begitu membosankan. Hari berlalu begitu pelan dan tidak ada tantangan. Rasa-rasanya pekerjaan saya cuma nunggu suami pulang. Saya ingat saya pernah diam-diam mewek ketika awal-awal career break. Mungkin, saat itu saya menyesal sudah resign. Tapi mau bagaimana lagi? Nasi sudah jadi bubur.
Memutuskan resign demi kebaikan bersama
Sebelum memasuki fase career break. Saya adalah seorang penyiar radio dan mencintai pekerjaan saya. Bagi saya, menyapa pendengar dan memutarkan lagu untuk mereka adalah kebahagiaan tersendiri.
Ndilalah, radio tempat bekerja ini mesra sekali dengan perusahaan rokok terkenal. Alhasil, kami sering jadi event organizer (EO) untuk acara musik yang mereka adakan. Makin seneng saya kerja di radio. Kapan lagi lihat artis terkenal secara langsung? Saya pun serasa menemukan dunia saya di sini.
Tapi, begitulah, masa-masa manis tak pernah abadi selamanya. Saya terpaksa harus resign dari radio yang membesarkan saya karena alasan keluarga. Waktu itu, saya baru saja menikah. Jarak yang cukup jauh dari rumah ke tempat kerja membuat suami saya khawatir. Jadi, demi kebaikan bersama, saya memutuskan untuk resign.
Kembali ingin mengembangkan diri
Setelah 4 tahun berada di fase career break, saya tidak bisa lagi membohongi diri sendiri. Ada bagian dari jiwa saya yang merindukan tantangan, ada keinginan terpendam untuk terus maju, berpikir kritis, dan mengembangkan potensi diri agar tidak mati gaya.
Hanya saja, keinginan untuk mengembangkan diri itu sempat membuat saya bingung: mau mulai dari mana dan belajar apa? Bagi ibu rumah tangga, pilihan pengembangan diri yang lazim ditawarkan biasanya melulu soal keterampilan praktis seperti kursus memasak atau menjahit. Masalahnya, tangan dan kepala saya langsung nyerah untuk dua urusan tadi. Nggak bakat saya tu.
Belum lagi soal teknis pelaksanaannya. Sebagian besar kursus pengembangan diri menuntut kehadiran di kelas. Duh, bayangan repotnya membagi waktu, harus datang ke tempat les, dan meninggalkan rumah jadi terasa seperti menambah beban baru.
Padahal, waktu itu keinginan saya sederhana saja. Saya pengen mengembangkan diri, belajar lagi, tapi ingin yang metode belajarnya fleksibel. Jadi, tidak harus mengorbankan kewajiban mengurus rumah tangga.
Universitas Terbuka jadi jawaban doa
Pencarian itu akhirnya menemukan jawaban. Tanpa sengaja, saya melihat informasi tentang Universitas Terbuka di media sosial. Setelah dibaca-baca, lha kok semua yang saya inginkan ada di kampus ini: sistem belajar yang fleksibel, perkuliahan online, biaya terjangkau, berstatus negeri pula! Keren… keren. Maka tanpa pikir panjang, saya langsung daftar.
Dan, benar saja, meski menyandang status sebagai mahasiswa UT, peran saya sebagai ibu rumah tangga masih tetap bisa berjalan seperti biasa. Sehari-hari saya masih tetap bisa mendampingi tumbuh kembang anak tanpa harus terganggu dengan jadwal perkuliahan yang kaku. Nanti kalau anak tidur siang, saya sempatkan untuk baca-baca modul atau urun rembug di forum diskusi. Sore atau malamnya ketika anak sedang dipegang oleh ayahnya, saya sempatkan lagi untuk mengerjakan tugas.
Dan, kalian tahu apa yang paling menarik saat jadi mahasiswa UT? Yaitu saat datang untuk ujian. Di tempat ujian, saya bertemu berbagai macam mahasiswa dengan latar belakang yang beragam. Ada yang career break lalu jadi ibu rumah tangga seperti saya, ada karyawan tapi ingin upgrade diri, ada pula yang sudah beruban tapi semangat belajarnya masih menyala.
Melihat itu semua, saya seperti sedang melihat sekumpulan orang yang sedang merayakan kemenangan. Karena sejatinya, career break, latar belakang, kondisi ekonomi atau apapun itu bukanlah alasan untuk berhenti bermimpi dan mengembangkan diri.
Selalu ada jalan, kawan. Ya, selalu ada jalan.
Penulis: Dyan Arfiana Ayupuspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Punya Pengalaman Kerja yang Melenceng dari Job Desc Itu Bikin Kapok.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
