Informasi
ADVERTISEMENT

Keluarga saya adalah pencinta Honda Beat garis keras, pernah coba ganti merek lain, pun ujung-ujungnya balik ke Beat

Honda Beat Motor yang Sempurna, Pantas Saja Didambakan Warga Kampung dan (Sayangnya) Jadi Incaran Empuk Maling Mojok.co

Sejak saya berusia 3 tahun, keluarga saya konsisten memilih Honda Beat sebagai kendaraan tempur untuk melawan hari-hari. Tidak berlebihan jika saya bilang, motor ini adalah saksi saya tumbuh dari balita hingga dewasa dan dipaksa melawan dunia.

Keluarga saya melewati berbagai perkembangan seri Honda Beat. Mulai dari generasi pertama yang menggunakan karburator, lalu berganti ke generasi Injeksi (FI), hingga menggunakan mesin eSP. Tiap generasinya, keluarga saya punya.

Adanya Honda Beat di rumah ini seolah menjadi aturan tidak tertulis sejak lama. Bahkan ganti motor pun, ujung-ujungnya menyesal dan balik ke merek ini.

Dulu, di rumah saya sempat memiliki sepeda motor lain dengan ukuran yang lebih besar. Motor tersebut adalah Yamaha NMAX dan Honda Vario. Namun, kedua motor ini tidak bertahan lama keberadaannya di rumah, digantikan kembali oleh Honda Beat.

Motor besar bikin ribet

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Ibu saya sangat menolak mengendarai motor berbodi besar. Ibu merasa memiliki motor dengan bodi kecil dan ringan adalah suatu hal wajib. Menurut anggapan Ibu saya, bodi motor NMAX dan Vario terlalu tinggi dan berat. Ibu merasa kerepotan ketika menggunakan motor-motor tersebut. Akhirnya motor-motor besar itu dijual.

Jadi ya wajar jika ujung-ujungnya Beat lagi. Tapi ada masanya Ibu saya menolak Beat, gara-garanya ya, ada satu varian yang bodinya besar. Pada 2023, selepas saya lulus SMA, Ayah saya membelikan Honda Beat Street silver untuk Ibu, tapi ujungnya ditolak Ibu, karena apa? Yak betul, posisi jok yang tinggi dan stang yang tidak lazim. Pokoknya Beat, yang biasa, yang kecil, dah itulah aturan besi di rumah kami.

Ibu sama sekali tidak mau membawa Beat Street yang menurutnya merepotkan itu. Karena Ibu menolak menggunakannya, akhirnya motor tersebut pindah tangan ke saya. Ya nggak apa-apa sih, malah untung.

Dari dulu juga Honda Beat

Tentu, ini bukan Honda Beat pertama saya. Selama bersekolah dari SMP hingga sekarang, saya telah berganti seri Honda Beat selama 3 kali. 

Mulai dari menggunakan seri eSP tahun 2018 di warna Hitam-Hijau saat kelas 2 SMP. Kemudian tahun 2021 pada saat kelas 2 SMA berganti menjadi seri Deluxe warna Hitam-Merah. Saat lulus sekolah tahun 2023 berganti menggunakan Beat Street warna Silver. Ora Beat, ora. Sikap iki, Bos.

Kini, motor ini menemani saya membelah Magelang. Yang dulu hanya saya pakai di seputaran Klaten, kini ia saya paksa menemani saya melibas aspal Magelang, tempat saya kuliah. Sejauh ini sih, tidak ada keluhan yang saya rasakan. Antara motor ini kuat, atau memang saya yang tak peduli karena kadung cocok.

Kesetiaan keluarga saya pada Honda Beat, saya kira, patut diapresiasi. Betul, keluarga saya tidak mungkin jadi satu-satunya keluarga yang hanya mau dengan satu merek. Tapi buktinya, bahkan ketika kami punya motor yang secara spesifikasi lebih bagus saja, kami tetap ujung-ujungnya kembali ke Beat.

Jadi, sebaiknya Honda mulai melirik saya sebagai brand ambassador. Atau kalau nggak ya, kasih servis gratis lah. 20 bulan. Oke? Oke.

Penulis: Arsya Listya Eka Pramudita
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Honda Beat adalah motor paling boring di indonesia tapi justru karena itu saya sayang banget sama motor ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 September 2026 oleh .

Arsya Listya Eka Pramudita

Mahasiswa Untidar jurusan Ilmu Komunikasi.