Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya (Pixabay.com)

Ada satu hal yang benar-benar membuka mata saya soal betapa tidak adilnya dunia, yaitu tentang kartu kredit.

Dulu, saya mengalami sendiri bagaimana sulitnya pengajuan kartu kredit dengan persyaratan yang rumit. Alih-alih dimudahkan, nasabah yang profil finansialnya abu-abu justru dibuat naik pitam. Slip gaji dicek sampai ke akar-akarnya, telepon kantor diteror, dan ujung-ujungnya tetap saja ditolak dengan alasan yang sangat diplomatis.

Nah, ini beda dengan orang kaya. Ah, urusannya mudah sekali. Bahkan karpet merah sengaja digelar, dan kalau perlu, digendong sekalian agar urusannya tak terasa ribet.

Padahal, jika kita punya kartu kredit dan tahu cara mainnya dengan membayar sebelum jatuh tempo.  Pemilik kartu akan mendapatkan banyak keuntungan.  Di sinilah letak ketidakadilan yang hakiki itu. Orang yang sudah kaya, punya aset, dan gajinya berjuta-juta, justru di sodor-sodorkan kartu kredit dengan limit setinggi langit.

Mereka belanja pakai kartu itu, lalu sebelum tanggal jatuh tempo, mereka bayar lunas. Hasilnya, mereka dapat cashback, poin reward, diskon hotel berbintang, sampai akses airport lounge gratis. Mereka tidak kena bunga sepeser pun, malah dapat untung dari fasilitas bank.

Sedangkan orang miskin atau kelas menengah tanggung, jangankan dapat cashback, buat dapat limit satu jutaan saja harus berdarah-darah. Sebab tidak punya kartu kredit, mereka terpaksa mencicil barang lewat pinjol atau skema kredit lain yang bunganya kalau dihitung-hitung bisa buat beli makanan yang mencukupi dalam satu bulan.

Orang miskin dipaksa bayar lebih besar

Liat fakta yang terjadi hari ini. Orang kaya beli barang seharga 10 juta, bayar pakai kartu kredit, dapat poin yang bisa ditukar dengan beragam keuntungan yang ditawarkan penyedia kartu. Sementara orang miskin beli barang 10 juta, dan jelas tidak punya kartu kredit, terpaksa kredit di toko. Itu pun bunga leasingnya bisa tembus hingga hampir separuh harga.

Di titik ini, saya baru sadar bahwa sistem keuangan kita memang didesain untuk memanjakan mereka yang sudah kaya raya.

Istilah duit cari duit itu nyata adanya dalam selembar kartu plastik tipis bernama kartu kredit yang bisa membuat orang kaya makin kaya. Sebab pemiliknya bisa memanfaatkan fasilitas bank tanpa harus membayar “ongkos” berupa bunga saat pembayaran sebelum jatuh tempo.

Hasilnya mereka bisa dapat promo terbang gratis, makan gratis, dan dapat potongan harga. Sementara bank menutup biaya fasilitas itu dari denda keterlambatan dan bunga mencekik yang dibayar oleh nasabah-nasabah yang kurang edukasi.

Lalu, salahnya kartu kredit di mana?

Salahnya tentu bukan di kartunya. Kartu itu cuma alat. Tidak bisa mengambil duit kita sendiri. Salahnya ya di pola pikir keliru, yang sering gesek dulu, mikir belakangan. Lihat promo beli buku 5 ribu langsung install aplikasi, apply, acc. Padahal nggak butuh bukunya, cuma nggak tahan sama kata “promo”.

Kalau saya lihat celahnya malah di sistem yang emang nggak niat bikin semua orang naik kelas bareng-bareng. Bank lebih suka kasih limit gede ke orang yang udah kaya, karena risikonya kecil. Wajar sih dari sisi bisnis. Tapi ya tetap aja bikin kita kaum mendang-mending yang di bawah makin susah buat naik.

Tapi setelah ngobrol panjang sama diri sendiri, saya jadi sadar satu hal: Kalau nggak bisa ngelawan sistem, ya minimal belajar main di celahnya.

Aturannya cuma satu: pakai kartu kredit kalau duit buat bayar lunasnya sudah ada di rekening. Anggap kartu kredit itu debit card dengan jeda 45 hari. Kalau itu aja nggak bisa, ya mending jauh-jauh dari kartu kredit. Daripada jadi sapi perah bank yang tiap bulan setor denda. Bikin pening kepala.

Masih miskin, tapi setidaknya bijak

Saya sendiri sekarang masih promo hunter. Install kartu kredit Honest cuma gara-gara buku Pramoedya 5 ribu. Tapi bedanya, duit buat bayar lunasnya udah saya siapkan sebelum dipakai. Biar bank yang kerja buat saya, bukan saya yang kerja buat bayarin bunga bank.

Jadi ya, itulah kenyataan hidup yang terlihat dari bagaimana kartu kredit bekerja. Dia menawarkan kemudahan bagi yang sudah kaya. Tapi bagi yang masih jauh dari kata kaya, sebaiknya sih, jangan mendekatinya. Kalau punya, ya wajib bijak.

Atau jangan-jangan memang itu pelajaran yang mau diberikan. Jadilah kaya, agar hidupmu mudah. Sebab kalau tidak, yang bisa kau dapatkan hanyalah diri yang bijak. Hidup tetap susah, tapi setidaknya, bijak.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kartu Kredit Tidak untuk Orang dengan Pendapatan Pas-pasan, Nggak Usah Sok-sokan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version