Kamu yang Nggak Setuju Milenial Harus Punya Rumah di Usia 40 Tahun Pasti Berwawasan Cetek

Duit milenial itu habis buat self reward! Habis buat nongkrong cantik, foya-foya di mal, staycation lucu, dan segala kesenangan yang lain. Lah, kalo gini terus, kapan bisa beli rumah? Kok beli rumah, wong gaji bulanan saja nggak ada yang tersisa, ya nggak? Ngaku saja! Udah gitu, ketika ada yang nyentil bahwa nggak mungkin milenial bisa beli rumah dengan duit sendiri, pasti langsung geger dan pada nggak terima. Dihh, aneh bener.

Mbok mikir, kalau seneng-seneng terus, kapan bisa beli rumahnya? Masa sampai umur 40 tahun belum bisa beli rumah, sih? Itu kalian pada ngapain aja semasa muda? Yok, berhenti senang-senang dan mulai memikirkan hari tua. Yaelah, ngapain sih menikmati masa muda? Nggak menguntungkan di masa tua, loh.

Makanya, saat seorang financial planner kondang semultisemesta ngetwit betapa penting seorang milenial harus punya rumah, harusnya kita semua mengamini blio ini. Nggak usah dimungkiri, gegara twitnya yang mendadak viral, kalian-kalian yang selama ini hidup loss doll tanpa beban dengan gaji pas-pasan, pasti kantem pikir juga, kan? Kepingin punya rumah sendiri juga, kan? Atau seenggaknya misuh, “Asu, gajiku ra nyandak nggo tuku omah!” dan berlanjut meratapi diri di kamar kos kalian yang kumuh nan sempit itu.

 

Beberapa orang sok bijaksana pasti bilang, kebutuhan orang itu beda-beda. Gaya hidup orang juga beda-beda. Pun ada mereka yang memilih hidup santai, menikmati hari demi hari, tinggal di rumah kontrakan yang layak, dan tidak terbebani cicilan apa pun. Ah, itu semua sih pembenaran dari kegagalan kalian yang nggak mampu beli rumah saja. Lagian, untuk apa bertahan di kontrakan indah nan mewah jika kita bisa beli rumah sendiri yang kecil nan buluk?

Dasar mental rendahan. Mbok kayak saya, yang langsung tergugah untuk mulai ngitung-itung biaya DP rumah meski gaji mentok UMR Jogja. Ya gimana, ya? Kalau dihitung secara matematis memang rasanya mustahil, tetapi dengan modal tekad kuat plus nekat pol-polan, harusnya bisa. Yang penting bisa DP, abis itu urusan cicilan bulanan, bisa lah dicari. Urusan saya jadi terjerat cicilan belasan tahun sih nggak apa-apa. Lagian untuk apa nongkrong di kedai kopi lucu, foya-foya di mal, atau liburan ke tempat-tempat hits, kalau nggak punya rumah? Saya sih lebih memilih menderita belasan tahun—atau puluhan—demi punya rumah sendiri, meski lokasinya jauh dari peradaban dan bentuknya sungguh memprihatinkan.

Saya bakal pilih rumah dengan harga terjangkau meski lokasinya jauh dari tempat kerja. Misal saya kerja di daerah UII Jakal atas, maka beli di daerah Paseban Bantul pun tidak masalah. Di Kulon Progo pun oke-oke saja. Urusan bensin dan motor meronta-ronta karena bolak-balik Kulon Progo – Jakal, halah… tak jadi soal. Yang penting bisa beli, titik.

Orang-orang sok pinter dan melek investasi pasti koar-koar, rumah itu nggak bisa disebut aset investasi. Rumah itu merupakan liabilitas. Pengeluaran terus menerus dan menambah biaya bulanan. Rumah itu nggak menghasilkan pendapatan pasif tiap bulan. Jangan beli , mending duitnya buat investasi saja. Hasil investasi itu baru dipakai untuk beli “liabilitas” tersebut.

Halah, prekkk. Itu pada teriak-teriak sok intelek dan paham tentang pengelolaan uang, pasti sambil meratapi portofolio saham yang minus dan berdarah-darah karena IHSG jeblok terus, kan? Atau, lihat sana bitcoin kalian yang sudah rugi puluhan persen karena beli di harga delapan ratus jutaan dan sekarang ngglosor di harga lima ratus jutaan. Makan itu investasi! Masa mau beli rumah dari investasi yang nggak ada hasilnya?

Makanya, sudah lah, nggak usah kebanyakan mikir. Silakan mulai mengatur keuangan untuk membeli rumah. Kalau ternyata emang otak kalian nggak nyampe buat itung-itungannya, bisa banget ikutan seminar yang diadain sang maestro financial planner teryahud kita tadi. Yang Mulia Ligwina Hananto itu nggak sembarang melempar kasus, menjelek-jelekkan kalian yang nggak bisa punya, dan pergi begitu saja.

Blio dengan bijaksana menawarkan solusi, berupa ajakan mengikuti elective class tentang Dana Rumah Pertama yang pendaftarannya hanya 125K. Bayangkan, hanya dengan uang yang tak seberapa itu, kalian bakal mendapat pencerahan bagaimana mengatur keuangan dan beli rumah! Bagaimana gaji UMR dipecah menjadi nabung buat DP , makan sehari-hari, ngasih duit ke orang tua, dan masih harus siapin untuk cicilan tiap bulan, pasti akan ada jawabannya di seminar itu. Jawabannya pasti ada, entah jawaban menyenangkan atau justru mengenaskan.

Orang nyinyir pasti nyangka Bu Ligwina Hananto sengaja bikin geger di Twitter untuk promosi kelasnya. Ah, itu sungguh pemikiran yang rendahan dan terlalu berburuk sangka. Saya sih percaya, blio yang terhormat ini memang ingin mengingatkan kita semua bahwa nggak punya rumah di usia 40 tahun itu adalah akhir dari dunia. Setelah kita semua kebingungan, baru blio turun tangan dan memberikan pencerahan. Sungguh mulia benar yang blio lakukan.

Makanya, mari berhenti menghujat blio, dan beralih memuja blio. Yok rame-rame daftar seminarnya, dan mari buktikan seberapa dahsyat pencerahan yang kita terima.

Saya yakin, setelah selesai mengikuti seminar, pasti kita akan semakin jeli melihat spanduk perumahan di pinggir-pinggir jalan, sambil berdoa agar masih kebagian jatah. Tapi tenang saja, nggak bakal kehabisan jatah , kok. Toh masih banyak sawah-sawah di pelosok desa yang bisa disulap menjadi perumahan. Benar, apalah arti sawah jika kita nggak bisa punya rumah di usia 40 tahun, bukan?

BACA JUGA Pengalaman Beli Rumah di Usia 23 Tahun dan Pelajaran buat Milenial yang Pengin Punya Rumah dan tulisan Riyanto lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version