Dulu, saya membaca buku ya tinggal membaca saja. Kalau suka, saya selesaikan. Kalau jelek, ya saya jual lagi. Hidup damai, tidak banyak dosa. Tapi sejak nyemplung ke dunia literasi, kok jadi ribet. Sekarang sebelum membaca, rasanya saya harus memastikan dulu ini penulisnya orang baik atau bukan? Atau minimal, tidak sedang kena masalah di X (dulu Twitter).
Belum lama ini, media sosial dihebohkan dengan kabar bahwa George Orwell ternyata tidak sebaik yang kita bayangkan. Deg. Saya yang menyukai 1984 langsung merasa kecewa. Bagi saya 1984 itu sastra kanon. Karya yang seharusnya wajib diajarkan ke anak-anak Indonesia. Bayangkan makan MBG sambil baca Animal Farm atau 1984 negara ini pasti langsung naik level, minimal naik satu ranking di PISA.
Sejak itu, saya jadi berpikir lebih dari sekadar dua kali. Kalau saya masih menikmati karya Orwell, apakah saya akan ikut-ikutan jadi jahat seperti Mas Orwell? Ini pertanyaan serius, walaupun terdengar remeh temeh.
Padahal, kalau jujur, tulisannya memang bagus. Relevan, mengalir, dan terasa dekat dengan kehidupan saya sebagai WNI. Kisah pemberontakan hewan-hewan, manipulasi bahasa seperti Newspeak, sampai figur Bung Besar semuanya terasa tidak jauh dari realitas WNI. Saya bahkan bukan penyuka distopia, tapi Orwell ini mampu membuat saya jatuh ke dalam dunia distopia.
Dari sini, muncul debat argumen pisahkan penulis dari karyanya atau tidak? Tapi seperti biasa di media sosial, debat jarang benar-benar jadi diskusi. Ketika pendapat kita minoritas, yang datang bukan argumen, tapi cap seperti bodoh, tidak kritis, bahkan dituduh berpihak.
Sekarang, membaca buku seolah-olah menunjukkan ideologi pembaca.
Jika boleh bertindak sedikit sok ilmiah (biar kelihatan anak sastra beneran), dalam kajian sosiologi sastra, penulis itu hampir tidak mungkin lepas dari karyanya. Wellek dan Warren memang bilang karya sastra bisa berdiri sendiri sebagai struktur, tapi tetap punya hubungan dengan kondisi sosial yang melahirkannya.
Artinya, kalau ada penulis yang kita anggap problematik, bisa jadi itu bukan sekadar sifat pribadi. Bisa saja itu hasil dari zamannya, lingkungannya, atau kebudayaan yang ikut terbawa ke dalam tulisannya.
Contohnya Mary Shelley, penulis Frankenstein yang entah bagaimana pernah “diseret” ke perdebatan di BookTwt (komunitas pembaca di X/Twitter). Ada yang menganggap novelnya Islamofobik dan mendiskriminasi orang Turki.
Padahal, kalau kita mundur ke abad ke-19, cara pandang masyarakat Eropa waktu itu memang masih sangat dipengaruhi kolonialisme, orientalisme, dan rasa “curiga” terhadap dunia Timur. Dunia di luar Eropa sering digambarkan asing, keterbelakangan, eksotis, bahkan mengancam, bukan karena benci secara personal, tetapi karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan perspektif pada zamannya.
Jadi ya, sebelum marah, mungkin kita perlu tarik napas sebentar. Tidak semua hal bisa langsung diukur dengan standar zaman sekarang. Sebagai pembaca, kita juga punya tanggung jawab untuk melihat konteks historis seperti kapan karya itu lahir, dalam situasi apa, dan apakah benar nilai sosial-kulturalnya bisa disamakan begitu saja dengan kehidupan kita sekarang.
Pembaca buku juga tidak netral
Di sisi lain, pembaca juga tidak netral. Kita membaca sambil bawa pengalaman hidup, ideologi, kebudayaan, dan selera. Maka wajar kalau satu buku dianggap buruk oleh sebagian orang, tapi terasa biasa saja bagi yang lain atau justru membuat orang merasa relate. Membaca itu bukan cuma memahami teks, tapi juga ada pertemuan antara teks, penulis, dan pembaca.
Bagaikan Yesus Kristus yang selalu ditanyai oleh para rasul, saya pun kerap kali ditanyai hal yang sama, “Kalau kita tetap membaca penulis problematik, berarti kita berpihak ke dia, ya, Kak?”
Saya tidak langsung menjawab, karena selama ini pertanyaan ini juga menghantui saya. Apalagi pernah ada penulis yang saya kagumi, lalu terseret isu yang cukup serius. Ada rasa denial, tentu saja. Tidak mudah mengubah pandangan terhadap seseorang yang tulisannya sudah terlanjur kita anggap wah. Saya butuh waktu setidaknya 1 tahun untuk tidak bersentuhan dengan karya penulis yang saya senangi.
Di era cancel culture, sekali sebuah karya dikatakan bermasalah, kita seperti tidak punya ruang untuk sekadar membaca tanpa dicurigai. Membaca diam-diam rasanya seperti lagi buka situs ilegal, deg-degan, padahal cuma baca buku. Saya seperti diawasi oleh Bung Besar jika membaca buku berbahasa Newspeak.
Padahal, bagi saya, membaca seharusnya tetap jadi aktivitas yang menyenangkan, bukan sebagai beban moral atau norma. Saya baca bukan untuk jadi orang paling benar, tapi buat kabur dari dunia nyata yang pahit dan menunggu 19 juta lapangan pekerjaan itu benar-benar terwujud.
Jadi, apakah ideologi itu ada dalam teks?
Kemungkinan besar, iya. Tapi apakah maknanya tunggal? Tidak juga.
Peter Barry dalam Beginning Theory (2010) bilang bahwa makna itu dibentuk oleh pembaca. Itu sebabnya satu karya bisa ditafsirkan beda-beda. Saya pernah menganggap cerpen Tamu karya Budi Darma sebagai cerita perselingkuhan, sementara teman saya melihatnya sebagai kritik terhadap orang yang tidak tahu diri, datang bertamu terus-terusan dan meminta dibuatkan kopi terus-terusan pula. Kalau kami debatkan sampai serius, mungkin yang ada malah putus pertemanan.
Jadi, bukan berarti ideologi dalam karya tidak ada, tapi makna tidak pernah tunggal dan kita sebagai pembacalah yang memaknai karya tersebut.
BACA JUGA: Pemerintah Kita Sudah Kacau sejak Istilah
Lalu, saya harus berpihak ke mana?
Sejujurnya, saya tidak benar-benar ingin memilih. Saya tetap membaca karya dari penulis yang dianggap problematik, bukan untuk membenarkan mereka, tapi untuk memastikan apakah karyanya benar-benar seburuk itu?
Bagaimana kita bisa melabeli sesuatu tanpa membacanya? Agaknya seperti mengatakan Marxisme buruk tetapi tidak pernah membaca buku Marxisme.
Kalau ada yang bingung siapa yang bisa menggantikan penulis sekeren George Orwell, saya bisa menyarankan Brave New World karya Aldous Huxley untuk dibaca. Nuansanya mirip, kritiknya sama tajamnya, dan yang paling penting saya tidak/belum dengar dia kena masalah di Twitter (semoga jangan).
Pisahkan penulis buku dari karyanya?
Saat nama George Orwell memanas di media sosial, grup organisasi saya ramai membahas ini. Ada yang membela, ada yang justru bertanya apakah kita harus memisahkan penulis dari karyanya, atau justru melihat karya sebagai cerminan penulis?
Saya bukan Julia Kristeva atau Budi Darma yang makjleb itu, tapi saya juga penasaran.
Beberapa tahun lalu, J.K. Rowling sempat menuai kontroversi karena sering membuat cuitan yang berbau transfobik. Tetapi menariknya, Harry Potter tetap dibaca dan digandrungi. Dunia sihirnya masih hidup di kepala banyak orang, seolah-olah Hogwarts itu benar-benar ada, bahkan mungkin cabangnya ada di Kalimantan Timur, cuma saya yang belum dapat undangan.
Dari situ saya sadar, hubungan antara penulis dan karya itu rumit. Bahkan mungkin lebih ribet daripada mendefinisikan perbedaan antara TTM dan HTS, yang sampai sekarang saya juga belum paham bedanya apa.
Sebagai anak sastra, saya akhirnya memilih jalan tengah, yaitu membaca dulu, memahami teksnya, lalu baru melihat konteks di luar teks. Saya lihat dulu unsur intrinsiknya, baru ekstrinsiknya. Baru setelah itu, saya tarik kesimpulan.
Jadi kalau ditanya lagi, saya mungkin tetap akan menjawab, ya tergantung. Memang tidak tegas. Memang tidak memuaskan.
Tapi di tengah hidup yang sudah cukup ribet bin stres sebagai WNI, rasanya membaca tidak perlu ikut dipersulit. Kalau membaca saja harus selalu benar, mungkin kita sudah terlalu takut untuk berpikir lebih kritis terhadap karya sastra.
Penulis: Alisya Anastasya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Buku Tak Menarik untuk Dibaca, Lebih Menarik untuk Dijadikan Petasan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
