Mobil Honda sering jadi bulan-bulanan karena dianggap kaki-kakinya gampang oblak. Padahal sudah ganti parts original pun cepat rusak lagi. Tapi mari kita jernihkan dulu. Sebab, saya kok merasa yang ringkih bukan mobil Honda-nya, melainkan jalanan negeri ini yang sudah kelewat “abstrak”. Lihat saja bagaimana lubang-lubang seperti jebakan perang, polisi tidur setinggi gunung, dan gelombang aspal yang tak pernah rata.
Honda justru dirancang untuk kenyamanan, bukan untuk medan perang. Dan bukti-buktinya ada di data global serta pengalaman jutaan pemilik di seluruh dunia.
Kejayaan Honda sebagai raja otomotif dunia dan Jepang
Honda bukan merek sembarangan. Pabrikan Jepang ini sudah 50 tahun berturut-turut menjadi pemimpin pasar sepeda motor dunia. Pada 2024, Honda menguasai 32% pangsa pasar global dengan penjualan 19,4 juta unit—naik 6% dari tahun sebelumnya. Bahkan ada laporan yang menyebut lebih dari 20 juta unit, rekor baru sepanjang masa.
Di Indonesia sendiri, Honda mendominasi pasar roda dua dengan pangsa pasar mencapai 70-80% di segmen motor matik dan bebek. Nama “Honda” sudah identik dengan keandalan, efisiensi, dan teknologi canggih.
Di lini mobil pun Honda tetap kompetitif. Secara global, Honda berada di peringkat 6 besar merek mobil terlaris dunia dengan penjualan sekitar 3,77 juta unit pada 2023. Model-model ikonik seperti Civic, CR-V, dan Accord terus jadi favorit karena memadukan antara performa, irit bahan bakar, dan handling yang nyaman. Tapi yang paling membanggakan adalah dominasi di Jepang sendiri.
Di negeri asalnya, Honda bukan hanya laris, tapi juga jadi raja. Ini bukti bahwa desain Honda—termasuk kaki-kaki—sudah teruji di jalanan Jepang yang jauh lebih terawat.
Kenapa Honda begitu sukses? Karena filosofi “man maximum, machine minimum”. Mereka ciptakan mobil dan motor yang nyaman untuk penggunaan sehari-hari, bukan untuk balap liar atau medan off-road ekstrem. Suspensi yang empuk, bushing yang fleksibel, dan geometri kaki-kaki yang mengutamakan stabilitas serta kenyamanan. Sehingga pengendara merasa “melayang” di jalan mulus.
Tapi justru di sinilah letak masalah ketika bertemu jalan Indonesia.
Realitas keluhan kaki-kaki Honda di Indonesia
Banyak mekanik bilang komponen kaki-kaki Honda seperti shockbreaker, lower arm, ball joint, tie rod, dan stabilizer link lebih cepat aus. Suara “kretek-kretek” sering muncul lebih dini, setir terasa ngambang, dan mobil mulai limbung saat melewati lubang. Bahkan dengan parts original sekalipun, keluhan ini sering muncul setelah 40.000-60.000 km.
Tapi sekali lagi, ini bukan karena Honda “ringkih”. Ini karena memang didesain lebih empuk. Suspensi Honda dibuat untuk menyerap getaran lebih halus dan memberikan kenyamanan maksimal—cocok untuk jalan tol Jepang atau highway Amerika. Di Indonesia, jalanan justru sebaliknya. Data Kementerian PUPR dan BPS menunjukkan sekitar 30% panjang jalan nasional mengalami kerusakan, mulai dari retak, berlubang, hingga bergelombang.
Di Jakarta saja, per Maret 2023 tercatat lebih dari 21.000 titik lubang. Bayangkan: setiap hari mobil Honda (atau merek mana pun) harus “menari” di atas lubang-lubang itu.
Komponen kaki-kaki bekerja ekstra keras, getaran berulang-ulang, dan akhirnya aus lebih cepat.
Bandingkan dengan merek lain yang suspensinya lebih kaku. Mereka mungkin terasa lebih “kokoh” di jalan rusak, tapi pengendara akan merasa seperti naik traktor—getarannya masuk ke kabin, pegal punggung, dan penumpang mual. Honda memilih kenyamanan, dan itu pilihan yang tepat untuk mayoritas konsumennya.
Dari hal ini kita tahu, masalahnya bukan kualitas part, tapi frekuensi dan intensitas beban yang diterima. Kalau jalanan mulus, kaki-kaki Honda bisa bertahan ratusan ribu kilometer tanpa drama sama sekali.
Bahkan tank tempur terbaru pun akan rontok di jalan Indonesia
Kalau masih ragu, saya yakin sekelas tank tempur paling canggih sekalipun pasti menyerah di jalan kita. Ambil contoh M1E3 Abrams, tank utama terbaru Angkatan Darat Amerika Serikat yang sedang dikembangkan dan akan mulai dikirimkan dalam waktu dekat. Versi upgrade dari M1A2 Abrams klasik ini punya bobot sekitar 68 ton, suspensi torsion bar canggih, armor reaktif, dan sistem hidropneumatik yang dirancang menahan ledakan ranjau sekalipun. Dan rodanya, rantai baja super tebal yang mampu melibas medan perang Iran atau Ukraina.
Tapi kalau dilepas di jalan provinsi Indonesia—yang penuh lubang sedalam 30 cm, polisi tidur beton setinggi 20 cm, dan gelombang aspal acak—saya yakin rodanya akan rontok duluan. Kenapa? Karena, bahkan tank seberat itu punya batas toleransi getaran dan benturan. Suspensi tank dirancang untuk medan off-road, bukan untuk “medan perang lubang” yang tak terduga seperti di sini.
Kalau M1E3 saja bisa “ngomel” dengan suara rantai putus, apalagi mobil penumpang seberat 1,5 ton dengan suspensi macam Honda?
Saya tekankan, ini bukan hiperbola. Ini logika fisika, saat gaya tumbukan di lubang sebanding dengan massa kendaraan dikalikan percepatan. Semakin sering dan semakin dalam lubangnya, semakin besar energi yang harus diserap kaki-kaki. Honda, Toyota, Suzuki—semua merek akan merasakan dampaknya. Tapi karena Honda lebih populer di Indonesia (jutaan unit beredar), keluhan terhadapnya pun lebih banyak terdengar.
Saatnya fokus ke akar masalah
Jadi, stop menyalahkan mobil-mobil Honda yang keren itu. Pabrikan ini sudah buktikan kualitasnya di pasar global dan domestik Jepang selama puluhan tahun. Kaki-kaki Honda bukan ringkih. Ia hanya terlalu baik untuk jalanan kita yang terlalu buruk. Kalau suatu hari jalan Indonesia setara dengan Singapura atau Jepang, barulah kita lihat betapa awetnya mobil Honda.
Sampai saat itu tiba, mari kita akui: bukan mobilnya yang salah, tapi jalanannya yang “kelewat nggateli”. Honda tetap raja—baik di atas kertas maupun di atas aspal mulus. Di jalan jelek? Ya, semua menderita.
Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Brio, Mobil Honda yang Paling Aneh: Nggak Punya Apa-apa, tapi bisa Menjadi yang Paling Laris
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
