Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Kadang orang ikut rewang bukan karena ingin membantu, tapi takut dihujat dan digibahin

Marselinus Eligius Kurniawan Dua oleh Marselinus Eligius Kurniawan Dua
12 Agustus 2026
A A
Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu Mojok.co

Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu (desatepus.gunungkidulkab.go.id)

Share on FacebookShare on Twitter

Rewang sering dianggap sebagai bentuk gotong royong paling sederhana. Ada tetangga punya hajatan, tetangga lain datang membantu. Tidak dibayar, tidak mendapat honor, bahkan kadang pulang dalam kondisi capek. Karena tidak ada bayaran tapi tetap banyak yang ikut, rewang kemudian dianggap sebagai kegiatan sukarela.

Padahal, dan ini nyata, tidak semua orang datang karena murni ingin membantu. Ada yang datang karena balas budi, karena sungkan, karena kenal saja. Tapi, tidak sedikit juga ada yang takut kena tekanan sosial kalau sampai tidak ikut rewang.

ADVERTISEMENT

Lho, ini serius. Sudah jadi rahasia umum, kegiatan gotong royong kampung macam rewang itu kadang menghasilkan tekanan tak kasat mata. Partisipasi adalah keharusan, jika tidak, konsekuensinya betul-betul tak menyenangkan.

Takut jadi bahan omongan

Inilah bagian yang sering tidak dibicarakan dari tradisi rewang. Ada orang yang sebenarnya sedang capek, punya pekerjaan, atau memang tidak dalam kondisi yang prima untuk. Namun tetap datang karena tidak mau menjadi bahan pembicaraan.

Sebab di lingkungan tertentu, orang bisa benar-benar ngecek siapa yang nggak ikut rewang. Kalau ikut ya, bodo amat. Apalagi kalau rumah masih satu kampung. Besok ketemu tetangga, bisa saja muncul tatapan yang terasa seperti sidang pengadilan.

Memang lucu kalau dipikir. Ini cuma rewang, bukan tindakan kriminal. Tapi penghakimannya bisa benar-benar berat

Tidak rewang=tidak peduli

Salah satu alasan paling masuk akal seseorang tetap ikut rewang adalah takut dianggap tidak peduli terhadap tetangga. Di lingkungan yang hubungan antarwarganya masih dekat, kehadiran dalam kegiatan bersama sering dianggap sebagai tanda kepedulian. Kalau datang, aman. Kalau tidak datang, mulai muncul pertanyaan. “Lho, kok nggak ikut?”

Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Namun kalau terus berulang, bisa membuat seseorang merasa sedang dinilai. Akhirnya, daripada dianggap tidak peduli, lebih baik datang. Toh, cuma membantu sebentar.

Baca Juga:

5 istilah di hajatan orang Tegal yang masih membingungkan bagi banyak orang

Orang yang Menggelar Hajatan hingga Menutupi Jalan Umum Patut Dibenci, Bikin Susah!

Dicap tidak guyub kalau tidak ikut rewang

Ada juga tekanan untuk tetap terlihat sebagai bagian dari lingkungan. Orang yang rajin mengikuti kegiatan kampung biasanya dianggap guyub. Sebaliknya, orang yang jarang muncul bisa mendapat label sebagai orang yang kurang bergaul. Masalahnya, label sosial seperti ini terkadang sulit dilepaskan.

Sekali dianggap tidak guyub, perilaku berikutnya bisa ikut dibaca melalui label tersebut. Karena itu, datang rewang menjadi semacam cara sederhana untuk mengatakan, “Saya masih bagian dari lingkungan ini.” Bukan karena tidak mau membantu, tapi takut kena cap yang belum tentu benar.

Hari ini rewang, besok dibantu

Rewang juga tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dari prinsip timbal balik. Hari ini membantu tetangga menyiapkan hajatan. Besok ketika keluarga sendiri punya acara, berharap tetangga datang membantu.

Ini bukan sesuatu yang buruk. Justru mekanisme seperti ini membuat kehidupan kampung bisa berjalan lebih ringan. Yang menarik adalah bagaimana bantuan tersebut akhirnya bisa terasa seperti kewajiban yang kadang menghasilkan penghakiman.

Bukan lagi sekadar, “Saya mau membantu.” Tetapi berubah menjadi, “Kalau sekarang saya tidak datang, nanti ketika punya hajatan siapa yang mau membantu?” Nah, di sinilah rewang mulai punya dimensi sosial yang lebih rumit.

Hal ini membuat rewang terasa seperti investasi sosial. Bukan investasi berupa uang. Investasinya berupa tenaga, waktu, dan kehadiran.

Takut dianggap cuma mau menerima, tapi tak mau memberi, serta menghindari konflik sosial

Ada pula alasan yang lebih sederhana. Orang tidak ingin dicap sebagai pihak yang hanya mau menerima tetapi tidak pernah memberi. Kalau pernah datang ke hajatan sendiri dan mendapat bantuan banyak orang, kemudian ketika tetangga punya hajatan malah tidak muncul, perbedaannya bisa terlihat.

Masyarakat biasanya cukup peka terhadap pola seperti ini. Apalagi dalam lingkungan yang orang-orangnya saling mengenal. Akhirnya, datang rewang menjadi cara untuk menjaga keseimbangan hubungan.

Lalu, ada satu yang kerap luput dari pandangan: rewang membuat orang terhindar dari konflik sosial.

Ada orang yang ikut rewang bukan karena takut digunjing, tapi karena tidak ingin hubungan dengan tetangga menjadi renggang. Tidak datang sebenarnya bukan masalah besar. Namun kalau hubungan sebelumnya memang sudah kurang baik, ketidakhadiran bisa saja dianggap sebagai bentuk sikap.

Daripada masalah kecil berkembang menjadi masalah hubungan bertetangga, datang rewang dianggap pilihan paling aman. Capek sedikit tidak masalah. Yang penting tidak menambah urusan.

Penghakiman sosial tidak selalu disampaikan terang-terangan

Hal paling menarik dari rewang adalah tekanan sosialnya jarang muncul dalam bentuk perintah. Tidak ada yang mengatakan, “Kamu wajib datang.” Justru karena tidak ada perintah, orang merasa keputusannya benar-benar bebas.

Padahal kebebasan itu kadang dibatasi oleh rasa sungkan, kebiasaan, ekspektasi tetangga, hubungan timbal balik, dan ketakutan terhadap penilaian sosial. Orang memang bebas memilih tidak datang. Tetapi tetap harus siap dengan kemungkinan pertanyaan, komentar, atau perubahan cara orang memandang.

Rewang tetap terlihat seperti gotong royong dari luar. Tapi, jangan salah. Tekanan sosial kadang jadi suatu hal yang lebih penting untuk dipikir ketimbang bantuan.

Penulis: Marselinus Eligius Kurniawan Dua
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Budaya Rewang di Hajatan Desa yang Nggak Banyak Orang Tahu 

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Agustus 2026 oleh

Tags: gotong royongHajatanrewangsisi gelap rewang
Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Marselinus Eligius Kurniawan Dua

Guru yang baru terjun di dunia menulis. Gemar main game, jalan-jalan, dan kulineran. Suka membahas tentang daerah, sosial, ekonomi, pendidikan, otomotif, seni, budaya, kuliner, pariwisata, dan hiburan.

ArtikelTerkait

4 Elemen Penting dalam Memilih Snack untuk Sajian Hajatan. Butuh Trik Khusus terminal mojok.co

4 Elemen Penting dalam Memilih Snack untuk Sajian Hajatan. Butuh Trik Khusus

25 November 2020
3 Fakta Menyebalkan dari Jalan Ditutup karena Hajatan Terminal Mojok

3 Fakta Menyebalkan dari Jalan Ditutup karena Hajatan

27 Juli 2022
Membedah Isi Pikiran Penyelenggara Hajatan yang Menutup Jalan Tanpa Menyediakan Alternatif terminal mojok

Membedah Isi Pikiran Penyelenggara Hajatan yang Menutup Jalan Tanpa Menyediakan Alternatif

25 Juni 2021
Memakai Jalan Depan Rumah untuk Hajatan, Itu Ganggu Banget!

Memakai Jalan Depan Rumah untuk Hajatan, Itu Ganggu Banget!

29 November 2019
Peringatan untuk Tamu Undangan dan Penyelenggara Hajatan Plis, Jangan Buang-buang Makanan Terminal Mojok

Peringatan untuk Tamu Undangan dan Penyelenggara Hajatan: Plis, Jangan Buang-buang Makanan!

29 November 2022
Perbedaan Hajatan Kampung dan Gedung dalam Pandangan Tukang Dekor Terminal mojok

Perbedaan Hajatan Kampung dan Gedung dalam Pandangan Tukang Dekor

21 Februari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

Ospek kampus masih gini-gini aja, masih tidak berguna dan nggak ngasih apa-apa

6 Agustus 2026
Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga Mojok.co

Beratnya jadi petugas ukur tanah desa, butuh fisik dan mental baja karena sering menghadapi konflik warga

12 Agustus 2026
4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian Mojok.co

4 alasan saya lebih memilih salat di musala SPBU daripada masjid saat bepergian

12 Agustus 2026
3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya Mojok.co

3 lomba agustusan yang sebaiknya ditiadakan karena lebih banyak mudarat daripada manfaatnya

6 Agustus 2026
Orang dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan Mojok.co

Pekerja dengan upah minimum seperti saya juga berhak self reward kecil-kecilan tanpa merasa bersalah, semua demi menjaga kewarasan 

10 Agustus 2026
Waiter kerap disepelekan, padahal kerja mereka begitu berat

Waiter kerap disepelekan, padahal kerja mereka begitu berat

12 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.