Zaman sekarang, kerjaan aneh itu sudah jadi tren. Dulu orang masih malu-malu bilang “saya joki skripsi”, sekarang sudah berani open promotion di Twitter, TikTok, sampai grup WhatsApp kampus. Dan yang paling bikin geleng-geleng kepala, joki baca buku. Iya, baca buku. Aktivitas yang seharusnya paling personal dan menyenangkan, sekarang bisa dipesan seperti ojek online. “Bang, tolong bacain novel 300 halaman ini, buat laporan, deadline besok.”
Joki baca buku ini muncul karena satu penyakit modern yang sudah dianggap normal, validasi sosial media. Orang tidak lagi baca buku karena ingin tahu atau karena suka, tapi karena butuh screenshot progress Goodreads, butuh quote aesthetic buat Instagram Story, atau butuh bukti “saya seorang bookworm” di bio Tiktok.
Kalau tidak sempat baca? Ya sewa orang. Yang penting feed-nya kelihatan pintar. Yang penting orang-orang lihat “wah, dia lagi baca 12 buku bulan ini”. Padahal isinya cuma ringkasan dari joki yang dibayar.
Joki baca buku bukanlah hal baru
Lucunya, ini bukan fenomena baru. Dulu, sempat viral joki Strava. Orang bayar orang lain buat naik sepeda atau lari, biar jarak tempuh di aplikasi Strava naik dan kelihatan “aktif” di tongkrongan. Sekarang, mungkin masih ada, cuma lebih senyap. Karena kalau dulu orang masih malu-malu, sekarang sudah tidak. Validasi digital sudah terlalu jauh. Lari 10 kilometer di aplikasi lebih penting daripada paru-paru yang sehat. Baca 20 buku di Goodreads lebih penting daripada otak yang benar-benar menyerap isinya.
Semua pekerjaan serabutan aneh ini lahir karena pemerintah gagal total membuka lapangan kerja yang layak. Lulusan SMA, D3, bahkan S1, ngelamar kerja formal? Susah. Gaji UMR, kerja overlapping, kontrak setahun, PHK massal tiap tahun. Akhirnya muncul ekonomi joki. Joki skripsi, joki ranking game, joki review produk, joki Strava, dan sekarang joki baca buku. Orang tidak jadi pengangguran, tapi jadi “pekerja kreatif” di sektor validasi palsu. Keren sekali, ya. Negara gagal kasih pekerjaan, rakyat solusinya sewa otak dan otot orang lain supaya kelihatan produktif di internet.
Bayangkan ironinya. Anak muda yang seharusnya baca buku supaya bisa berpikir kritis, justru bayar orang supaya kelihatan kritis di sosial media. Pemerintah sibuk bilang “anak muda harus literasi digital”, tapi lapangan kerja yang ada cuma “tolong bacain buku ini biar saya bisa post di IG”. Validasi sosial media sudah dianggap normal sampai titik di mana orang lebih takut followernya tahu dia tidak baca buku, daripada takut dirinya sendiri bodoh.
Semua bahagia
Joki baca buku biasanya mahasiswa yang lagi butuh uang kuliah. Dia baca buku orang, bikin ringkasan, bahkan bikin review tipis-tipis sampai mendalam, lalu dikirim ke klien. Klien tinggal copy-paste, upload, dapat validasi. Joki dapat uang. Selesai. Semua bahagia. Kecuali otak klien yang tetap kosong, dan generasi yang semakin terbiasa menyewa segalanya, termasuk proses berpikir.
Kalau dulu orang bilang “kerjaan serabutan itu sementara”, sekarang sudah jadi pilihan utama. Karena kerja formal susah, gaji kecil, dan mental health-nya dihancurkan. Lebih enak jadi joki: fleksibel, bayaran langsung, dan tidak perlu tampil di kantor. Asal ada orang yang butuh validasi, ada yang siap menjual waktu dan tenaganya.
Kita hidup di era di mana membaca buku bisa di-outsource. Pemerintah gagal buka lapangan kerja, sosial media berhasil bikin orang takut kelihatan biasa-biasa saja, dan hasilnya? Muncul profesi-profesi aneh yang dulu hanya ada di komedi. Joki Strava mungkin masih hidup diam-diam. Joki baca buku sedang debut. Besok mungkin muncul joki review film atau joki nonton anime.
Pada akhirnya, joki baca buku bukan sekadar kerjaan lucu. Ini cermin. Cermin dari masyarakat yang lebih mementingkan tampilan di layar daripada isi kepala. Cermin dari negara yang gagal kasih pekerjaan, sehingga rakyat terpaksa jual-beli segala macam jasa absurd. Dan cermin dari validasi sosial media yang sudah terlalu jauh, sampai dianggap normal, bahkan dibanggakan.
Jadi, kalau suatu hari kamu lihat orang post “baru selesai baca buku ini, insight-nya dalam banget”, coba tanya dalam hati, dia yang baca, atau jokinya? Sebab di zaman sekarang, yang penting bukan apakah kamu benar-benar membaca. Yang penting adalah apakah orang lain percaya kamu membaca. Sayangnya, itu sudah cukup.
Penulis: Dwipayana
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Coba-coba Jadi Joki UTBK: Imbalan Besar buat Foya-foya, Tak Dipenjara tapi Hidup “Tersiksa”
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.