Tahun depan, saya sudah masuk usia 30 tahun. Mengetahui fakta itu membuat saya sering duduk sendiri dan menghayal tentang sesuatu yang gak masuk akal, misalnya yang terbaru saya membayangkan bagaimana jika saya hidup sebagai Raffi Ahmad dan jadi Menpora.
Saya yakin, banyak orang punya keinginan untuk menjadi seperti dia yang sekarang. Meski kita semua harus sepakat, tidak semua orang tahan bagaimana perjuangannya hingga menjadi seperti sekarang.
Terlepas dari itu, saya merasa Raffi Ahmad ini punya sesuatu yang berbeda daripada publik figure lainnya. Sebab kalau publik figur lain punya kekayaan dan ketenaran, Raffi punya koneksi dan akses. Rasanya, dia adalah manusia yang punya daya jangkauan luas. Hidup menjadi dia pasti sangat rasanya jauh lebih mudah.
Raffi Ahmad sebagai Menpora
Suatu hari, saya membayangkan sesuatu yang lebih spesifik. Bagaimana kalau saya benar-benar menjadi Raffi Ahmad, lalu di suatu pagi saya menerima telepon dari Presiden dan mendapat perintah, “Fi, kamu siap jadi Menpora, ya!?”
Tentu saja saya kaget. Menteri adalah jabatan prestisius yang tingkatannya sudah soal mengelola dan mengatur kebijakan. Berbeda dengan saat saya ngurusin acara televisi, klub sepak bola, klub basket, bisnis, apalagi Rafathar dan Rayyazan.
Kalau benar saya mendapat amanah sebagai Menpora, maka saya tidak ingin bikin program muluk-muluk atau hanya biar heboh di masyarakat. Apalagi sampai mengganti nama Pelatnas jadi RANS National Training Center. Yah setidaknya nanti dulu, lah.
Yang akan saya lakukan
Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah membereskan persoalan nasib mengenaskan para atlet setelah mereka pensiun. Saya minta ada pendataan secara detail dan komprehensif. Tujuannya adalah untuk memberikan penghidupan yang layak selepas mereka sudah tidak lagi produktif menjadi atlet.
Sebagai Raffi Ahmad, saya tentu hidup berkutat dengan laporan dan angka. Kebiasaan itu akan saya bawa ke Kementerian.
Mosok Kementerian yang mengurus olahraga tidak punya data lengkap soal siapa atlet, usianya berapa, prestasinya apa, asalnya di mana, masih aktif atau sudah pensiun, dan setelah pensiun mereka punya aktivitas bekerja sebagai apa? Kementerian harus punya data itu dong!
Menyiapkan masa depan atlet setelah pensiun
Kita semua tahu bahwa atlet, apalagi yang berkutat pada cabang olahraga berat telah menghabiskan sebagian besar usia produktifnya untuk latihan. Mereka rela melepas kesempatan untuk kuliah, magang, dan membangun karier demi membawa nama Indonesia di kancah internasional.
Sayangnya, ketika memasuki usia 30 tahunan (usia pensiun mayoritas atlet), mereka tidak punya pengaman sosial. Padahal, hidup mereka masih panjang.
Penghargaan yang mereka dapatkan hanya saat meraih medali. Mereka mendapat pujian, Menteri datang menyambangi, menerima bonus sekian juta (meski bonus itu entah cairnya kapan), lalu setelah itu ditinggal dalam kesunyian setelah mereka sudah nggak bisa apa-apa.
Sebagai Raffi Ahmad, saya akan menginisiasi sebuah sistem yang bisa membersamai para atlet hingga setelah pensiun. Jadi, Menpora akan membantu atlet untuk menyiapkan kehidupan atlet setelah pensiun.
Misalnya, menjadi pelatih atau masuk ke industri olahraga terkait, melanjutkan pendidikan tinggi, punya kesempatan bekerja di perusahaan yang relevan, atau membuka usaha. Jadi di sini, Menpora tidak lepas tangan begitu saja.
Raffi Ahmad selalu punya data yang detail
Langkah kedua adalah masih berhubungan dengan data. Sebagai Raffi Ahmad, saya akan minta ada database atlet nasional dari seluruh cabang olahraga yang benar-benar aktif. Dari anak 13 tahun yang mulai kelihatan bakatnya hingga mantan juara Asia yang sekarang usia 60 tahunan.
Database ini akan sangat membantu dalam memonitoring, membina, dan mengembangkan atlet-atlet ke depannya. Adanya database ini juga akan membantu saya sebagai Menpora menyusun program terpadu dan berkelanjutan untuk masing-masing cabang olahraga berdasarkan karakteristik dan kebutuhan anggarannya.
Membangun branding
Setelah punya database, sebagai Raffi Ahmad, saya kuat dalam sisi komersialisasi, yaitu melibatkan sponsor pada kompetisi di berbagai cabang olahraga. Selama, sponsor lebih mudah datang ketika olahraganya sudah punya nama, ya sebut saja sepak bola, basket, volley, atau badminton. Sementara olahraga lain akan saya jajaki lebih giat.
Sebagai Menpora, saya akan mulai dengan membangun branding yang merata bagi para atlet-atlet potensial untuk setiap cabang olahraga. Jadi mereka tidak hanya sebagai atlet, tapi juga publik figure atau brand ambassador dari olahraga tersebut. Dari situ, saya akan mulai membangun ekosistem kompetisi jangka panjang yang menarik dan menghibur.
Yah, saya akan menyisipkan sedikit gimmick dan hiburan seperti acara olahraga macam Vindes kan bisa. Dengan koneksi dan akses yang saya miliki, saya rasa bisa saja. Bila perlu, bangun ekosistem animasi layaknya Jepang yang memanfaatkan anime untuk memperkenalkan olahraga tertentu.
Saya percaya, kalau Cipung lomba makan kerupuk saja bisa ditonton banyak orang, terlepas dari kelucuannya, mosok atlet Indonesia yang berkompetisi di kancah dunia tidak punya cerita dan hiburan yang bisa dijual?
Sekali lagi, ini kalau saya benar-benar jadi Raffi Ahmad sekaligus Menpora ya. Namanya juga berandai-andai, nggak ada yang salah, kan? Sudah cocok, kan, menggantikan Erick Thohir.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
