Membaca tulisan dari Ferika Sandra tentang Jalur Klemuk membuat saya seketika teringat tentang jalur tengkorak yang berada di perempatan Pasar Kertek Wonosobo. Jalur ini merupakan jalan nasional yang menghubungkan wilayah Purwokerto, Yogyakarta, dan Semarang. Berbeda dengan tulisan Jalur Klemuk, jalan ini adalah jalan utama dengan kemacetan dan tingkat kecelakaan tinggi. Artinya bukan sekadar jalan alternatif, tetapi benar-benar jalan yang padat merayap.
Berbagai macam solusi mulai ditawarkan untuk mengatasi kecelakaan fatal yang sangat mungkin terjadi, apalagi jika kendaraan sedang padat maka potensi korban jiwa bakalan bertambah. Mulai dari solusi rasional dengan membuat jalur penyelamat hingga jalur alternatif, imbauan untuk mengecek rem hingga solusi tidak masuk akal berupa komunikasi dengan makhluk halus yang dianggap sebagai penyebab kecelakaan terjadi. Tetapi, tetap saja potensi fatalitas kecelakaan di jalur tengkorak di jalan tengkorak ini masih tetap tinggi.
Kertek Wonosobo memang benar-benar gawat
Saya kadang berpikir, siapa sih yang punya ide bagus membuat jalan dengan turunan ekstrim ini. Tetapi, ya, mereka tidak dapat disalahkan karena ketika zaman itu memang tidak ada motor atau mobil yang lewat. Hasil pembangunan jalan berupa turunan tajam kemudian menjadi masalah besar ketika motor dan mobil dalam intensitas tinggi di masa sekarang rajin melewati Jalur Kertek Wonosobo ini. Mulai dari sepeda motor yang jumlahnya sampai puluhan ribu hingga truk besar yang menjadi langganan melewati jalan ekstrim ini.
Kemiringan jalan yang hampir mirip perosotan, membuat banyak kendaraan besar gagal melakukan pengereman. Ironisnya, kendaraan yang berada di ujung perosotan, yang entah sedang berjalan atau sedang terjebak macet langsung akan menjadi korban dari kendaraan besar yang sedang melaju sangat cepat. Tabrakan terjadi, korban berjatuhan, sementara solusi efektif belum juga ditemukan.
Solusi yang ditawarkan
Pemerintah Kabupaten Wonosobo sebenarnya sudah sangat menyadari masalah ini. Mulai dari membangun jalan alternatif lingkar Kertek, membangun jalur penyelamat, tempat pengecekan rem, hingga imbauan di sepanjang jalan agar berhati-hati. Tapi pada faktanya kecelakaan masih terjadi dan intensitasnya masih lumayan tinggi.
Tapi kecelakaan, nyatanya masih terjadi, dan ini bikin warga frustrasi. Akhirnya, warga bergerak sendiri dengan mengusulkan ide-ide inovatif. Seperti pembangunan jalur bawah di Kertek, jalan layang, bahkan pelarangan kendaraan besar lewat.
Sayangnya, ide ini juga susah untuk diwujudkan karena pembangunan di Jalur Kertek Wonosobo artinya akan menciptakan kemacetan yang lebih gila. Pada hari-hari biasa macetnya saja sudah bikin susah, apalagi jika ada pembangunan skala besar.
Mitos dan klenik
Jika ada tempat yang gawat, entah karena sering kecelakaan, atau bekas tempat yang mengerikan, biasanya akan menarik indigo (wannabe) dan konten kreator horor untuk datang. Sebut tempat horor di Indonesia, pasti sudah ada kontennya.
Jalur Kertek Wonosobo pun sama. Sudah banyak yang datang ke sini dan mencoba menjelaskan kegawatan-kegawatan yang ada dari sudut pandang horor. Kreator lokal dengan gaya kesurupannya, dan kreator besar macam Kisah Tanah Jawa bikin penelusuran. Akibatnya ya, kengerian Jalur Kertek meningkat berkali lipat, sekalipun bila mungkin aslinya Jalur ini bersih tak ada horornya sama sekali.
Sebagai warga Wonosobo, saya berharap ada solusi dari masalah yang menyangkut nyawa banyak orang ini. Mulai dari pemerintah yang harus memikirkan solusi jangka panjang, masyarakat yang sadar untuk mengecek kualitas keamanan kendaraan, atau solusi apa pun itu, patut kita buka, demi keselamatan bersama.
Penulis: Yoga Aditya Leite
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
