Jalan Kalimodang Blora memang seram tapi bukan karena hal-hal gaib. Jalur ini membutuhkan rasa sabar dan fokus tinggi untuk bisa melaluinya dengan selamat.
Ada petuah turun-temurun di daerah saya bahwa ketika melewati jalan atau jembatan yang dianggap angker, pengendara dianjurkan membunyikan klakson. Katanya, itu bentuk permisi kepada “penghuni” jalan agar perjalanan tidak diganggu.
Salah satu tempat yang cukup lekat dengan cerita semacam itu adalah Jalan Kalimodang di Blora. Entah sejak kapan cerita tersebut beredar, tetapi reputasinya sebagai jalan yang sebaiknya dilalui dengan hati-hati sudah cukup kental untuk warlok.
Saya sudah beberapa kali melewati Jalan Kalimodang dan belum pernah mengalami kejadian mistis apa pun. Justru dari pengalaman melintas di sana, saya malah berpikir bahwa ada alasan lain mengapa pengendara memang seharusnya lebih waspada. Bukan, bukan karena takut bertemu makhluk halus tentu saja, melainkan berikut alasannya.
Jalan Kalimodang berada di tengah hutan jati Blora
Alasan pertama tentu saja karena dipengaruhi oleh letaknya. Jalan Kalimodang berada tepat di kawasan hutan jati yang menghubungkan Blora dan Cepu. Kalau sudah masuk kawasan ini, kanan-kiri jalan akan lebih banyak diisi pohon jati daripada rumah, warung, atau aktivitas warga.
Alhasil pemandangan sepanjang jalan akan relatif monoton dari satu titik ke titik lain. Bagi pengendara yang sudah menempuh perjalanan cukup jauh, kondisi semacam ini tentu bisa mengurangi fokus.
Apalagi kalau lalu lintas sedang sepi dan tidak banyak hal yang membuat mata tetap aktif memperhatikan keadaan sekitar. Bukan hal mustahil jika keadaan semacam itu bisa membuat pengendara lengah dan pada akhirnya bisa menimbulkan celaka.
Jadi, kalau ada yang merasa Jalan Kalimodang punya aura mistis, saya kira ada penjelasan yang lebih masuk akal. Bisa jadi bukan karena ada sesuatu yang mengikuti atau mengagetkan saat melintas di jalan ini, melainkan karena fokus kita memang bisa berkurang.
Jalan rawan pohon jati ambruk
Kehadiran pohon-pohon jati memang menjadi ciri khas kawasan Kalimodang. Namun, pada saat yang sama, pepohonan juga bisa menjadi ancaman ketika ada dahan patah atau pohon tumbang ke badan jalan.
Risikonya tentu lebih besar ketika hujan deras disertai angin. Pengendara yang sedang melaju bukan tidak mungkin memiliki peluang sial tertimpa dahan atau pohon yang tiba-tiba jatuh ke jalan. Apalagi jika kejadian tersebut berlangsung malam hari ketika jarak pandang jauh lebih terbatas. Hal ini juga yang menjadi alasan beberapa kawan saya menghindari perjalanan ke Blora saat hujan angin atau malam hari.
Bukan gerbang gaib, tapi kalau malam lampu penerangan jalan memang sering mati
Selanjutnya soal cerita gerbang gaib yang katanya ada di kawasan hutan Blora, juga di Jalan Kalimodang Blora. Bagi saya yang cukup sering bolak-balik Cepu–Semarang menggunakan motor, justru ada satu hal yang lebih mengganggu daripada urusan dunia gaib: lampu penerangan jalan yang sering mati. Saya tidak tahu apakah sedang rusak, belum diperbaiki, atau memang tidak dinyalakan. Yang jelas, tiap saya lewat saat malam hari, beberapa titik di jalur ini memang cukup gelap.
Saya sendiri pernah hampir kebablasan masuk ke arah hutan karena minimnya penerangan. Bukan karena melihat penampakan atau mendengar suara aneh dari balik pepohonan, tetapi memang karena sulit membaca kondisi jalan dengan jelas. Apalagi setelah menempuh perjalanan cukup jauh, jalan yang gelap, tikungan, dan suasana hutan membuat pengendara seperti saya jelas harus lebih fokus untuk memastikan arah jalan.
Itulah beberapa alasan mengapa Jalan Kalimodang Blora memang seram, tapi bukan karena hal-hal gaib. Memang jalur ini membutuhkan rasa sabar dan fokus tinggi untuk bisa melaluinya dengan selamat. Maka, kalau ada yang menganggap Jalan Kalimodang sebagai gerbang menuju tempat dunia lain, saya tentu tidak punya kapasitas untuk membantahnya, la wong membuktikannya saja saya tak mampu.
Tetapi dari pengalaman saya sendiri, saya lebih memilih memastikan lampu kendaraan menyala dan konsentrasi tetap terjaga. Sebab kalau sampai salah mengambil arah karena jalan terlalu gelap, yang saya takutkan bukan masuk ke dunia lain, melainkan benar-benar masuk hutan atau masuk ladang jagung milik warga sekitar.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Hutan Blora Sudah Tak Mistis, Kini Malah Kritis Akibat Alih Fungsi Lahan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.