Informasi
ADVERTISEMENT

Jalan Daendels, jalan lurus yang bikin terlena dan berpotensi celaka

Jalan Daendels, jalan lurus yang bikin terlena dan berpotensi celaka

Bagi orang yang sering bepergian dari Purworejo ke Kulon Progo seperti saya, Jalan Daendels sudah ibarat saudara, ibarat kawan kari. Saya sudah mengenal beberapa bagian jalannya dan memahami kapan lalu lintas biasanya ramai. Ketika kendaraan tidak terlalu banyak, perjalanan di jalan yang panjang dan lurus memang terasa lebih nyaman dan ringan.

Saya sendiri cukup suka melewati jalur seperti ini. Tidak perlu terlalu sering berhenti atau mengerem hanya karena kendaraan di depan. Pandangan juga terasa lebih lega. Kalau sedang tidak terburu-buru, perjalanan lewat Daendels malah bisa jadi bagian yang menyenangkan dari perjalanan.

Cuma, ada satu hal yang menurut saya perlu diingat. Jalan yang nyaman kadang membuat pengendara merasa terlalu aman.

Godaan saat Jalan Daendels sedang kosong

Ketika jalan di depan sedang longgar, keinginan untuk menambah kecepatan biasanya datang dengan sendirinya. Mungkin awalnya cuma sedikit. Lama-lama tangan terasa ringan memutar gas karena tidak banyak kendaraan yang mengharuskan kita mengurangi laju kendaraan. 

Perasaan seperti itu cukup wajar. Masalahnya, kondisi jalan bisa berubah dalam waktu yang singkat.

Di beberapa bagian di Jalan Daendels adalah kawasan yang digunakan warga untuk beraktivitas sehari-hari. Saat keluar dari akses jalan atau hendak berbelok, kendaraan tidak selalu muncul dari jarak yang membuat kita punya waktu panjang untuk bereaksi. Pengendara yang sedang melaju cepat tentu punya ruang yang lebih sedikit untuk mengantisipasi keadaan.

Oleh karena itu, jalan yang terlihat kosong sebaiknya jangan langsung dianggap sebagai kesempatan untuk melaju sekencang-kencangnya.

Jalan panjang bukan berarti bisa dibaca sampai ujung

Ruas jalan yang lurus memang memberi pandangan jauh ke depan. Kita bisa melihat kendaraan dari kejauhan dan merasa sudah punya gambaran mengenai situasi di depan. Namun, ada banyak hal di luar jangkauan perhatian yang tetap bisa memengaruhi perjalanan.

Kita tidak pernah benar-benar tahu kapan kendaraan di depan akan mengurangi kecepatan untuk berbelok. Dari arah berlawanan, pengendara lain juga bisa saja mengambil keputusan yang tidak terduga. Begitu pula dengan orang yang hendak menyeberang, karena kemunculannya belum tentu sesuai dengan perkiraan kita.

Di jalan yang seperti itu, menjaga jarak terasa lebih masuk akal daripada terus mencari kesempatan untuk mendahului. Kecepatan juga sebaiknya mengikuti keadaan sekitar. Tidak ada gunanya merasa hebat karena bisa melaju cepat kalau setiap beberapa detik kita justru dipaksa mengambil keputusan tergesa-gesa.

Jangan sampai terlena karena sudah hafal Jalan Daendels

Pengendara yang sering melewati Jalan Daendels biasanya punya kepercayaan diri lebih tinggi. Mereka sudah tahu karakter jalannya, tahu bagian yang terasa mulus, dan mungkin sudah hafal titik-titik tertentu. Pengalaman itu tentu membantu.

Namun hafal jalan tidak berarti bisa menebak semua kejadian yang akan terjadi.

Keadaan di jalan selalu berubah. Hari ini kita bisa melewati satu ruas dengan sangat lengang, besok kondisinya mungkin berbeda. Kendaraan yang kita temui juga tidak pernah benar-benar sama. Karena itu, kebiasaan berkendara seharusnya tetap mengikuti situasi yang sedang dihadapi, bukan sekadar mengandalkan pengalaman dari perjalanan sebelumnya.

Hal sederhana seperti mengurangi kecepatan ketika mendekati kawasan ramai atau tidak memaksakan diri menyalip sudah cukup membantu membuat perjalanan terasa lebih tenang. 

Jalan Daendels: enak dilalui, tetap perlu diwaspadai

Menurut saya, tidak ada masalah dengan menikmati Jalan Daendels. Justru salah satu hal yang membuat jalur ini menyenangkan adalah suasananya yang berbeda dari jalan-jalan padat di tengah kota. Ketika lalu lintas sedang sepi, perjalanan terasa lebih leluasa.

Yang perlu dijaga adalah perasaan setelah melihat jalan terbuka di depan. Jangan sampai kenyamanan itu membuat kita lupa memperhatikan sekitar. Kita sedang memakai jalan yang juga digunakan orang lain, dengan kebiasaan berkendara yang lain pula.

Mungkin itu yang perlu diingat setiap kali melewati Jalan Daendels. Jalan yang panjang memang mudah membuat kita ingin menambah kecepatan, tetapi kewaspadaan tetap harus menjadi prioritas. Menikmati perjalanan dengan tenang jauh lebih penting daripada mengejar waktu dan tiba beberapa menit lebih cepat.

Pada akhirnya, Jalan Daendels hanyalah jalur untuk mengantarkan kita sampai ke tujuan. Tidak perlu menjadikannya tempat untuk membuktikan seberapa cepat kendaraan bisa melaju, terutama ketika kondisi jalan sedang sepi.

Penulis: Riko Prihandoyo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jalan Daendels di Purworejo dan Jalan Anyer-Panarukan Itu Dibangun oleh Orang yang Berbeda, Jangan Sampai Keliru!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2026 oleh .

Riko Prihandoyo

Bekerja membantu usaha orang lain sambil menempuh pendidikan di Universitas Terbuka. Menulis ketika suasana hati memberi ruang, sembari terus belajar menyemangati diri sendiri.