Keputusan saya untuk tidak pulang ke Jawa Timur pada Agustus tahun ini terasa seperti langkah paling jenius. Saat perantau lain mendadak puitis merindukan bau tanah desa, saya justru memilih tiarap dan bertahan di Jakarta demi menghindari sound horeg.
Semua ini terjadi gara-gara sound horeg. Kamu harus tahu kalau di Jawa Timur, hiburan rakyat bernama sound horeg sudah berubah menjadi ajang adu gengsi volume suara yang meresahkan.
Mereka menghamburkan ribuan watt daya listrik cuma demi merakit dinding speaker yang getaran basnya sanggup meretakkan dinding rumah, merontokkan genteng, dan bikin jantung berdebar keliru.
Pilihan ini tentu bukan karena saya sudah lupa kacang akan kulitnya. Semua berawal dari obrolan via telepon bersama ibu beberapa hari lalu yang membagikan kabar situasi terkini di kampung halaman.
Brengsek, bayar iuran 100 ribu cuma untuk merusak telinga
Kemarin ibu cerita kalau sound horeg akan memeriahkan perayaan Agustusan tahun ini. Tidak tanggung-tanggung, ada 17 armada sound horeg berukuran raksasa yang siap menggelegar mengelilingi jalanan desa yang selebar tiga meter itu.
Saya semakin heran karena satu pengumuman. Jadi, KK wajib ikut urunan Rp100 ribu demi mendanai parade bising tersebut.
Bagi saya, nominal urunan bukan masalah utama. Tapi alokasinya itu loh yang bikin ngelus dada berulang kali.
Ngapain membayar iuran cuma demi mengundang polusi suara yang berpotensi merusak fasilitas rumah. Daripada pulang ke Jawa Timur cuma buat menyiksa telinga dan emosi jiwa, saya sudah berencana mengungsikan keluarga besar keluar desa saat acara sound horeg berlangsung. Sementara mereka mengungsi, saya aman di perantauan Jakarta.
Terkikisnya tradisi dan budaya lokal Jawa Timur
Padahal kalau mengingat masa lalu, ingatan saya tentang perayaan Agustusan di Jawa Timur itu selalu hangat dan menyenangkan. Bukan sound horeg yang merusak telinga itu.
Dulu, pawai dengan pakaian adat menjadi pemandangan yang kami nantikan. Lalu ada atraksi jaranan yang magis. Sampai parade gunungan hasil bumi yang diarak warga dengan penuh rasa syukur.
Ada semangat gotong royong dan pelestarian budaya lokal yang terasa begitu kental. Tapi kini, keindahan tradisi itu seolah menguap gitu aja.
Dentuman bas dari sound horeg bikin pusing. Budaya Jawa Timur yang adiluhung justru terdesak oleh tren pamer daya listrik dan gengsi suara super keras.
Ini bukan lagi pesta rakyat untuk mempererat silaturahmi, melainkan ajang gagah-gagahan yang menghilangkan nilai kebudayaan yang sesungguhnya. Karnaval yang dulu edukatif kini resmi berubah jadi hiburan yang sangat meresahkan.
Menghindari sound horeg, memilih ketenangan di Jakarta
Menghabiskan bulan Agustus di Jakarta mungkin terdengar membosankan bagi sebagian orang. Tapi kalau harus membandingkan kemacetan dengan teror polusi suara sound horeg di kampung, Jakarta mendadak terasa seperti tempat meditasi yang sangat tenang.
Di sini, setidaknya saya bisa menikmati akhir pekan tanpa perlu cemas kaca kamar bakal pecah akibat getaran bas ekstrem dari pagi sampai subuh.
Sound horeg sukses membuat niat mudik saya luntur seketika tanpa sisa. Ternyata, bertahan di perantauan Jakarta menjadi opsi paling rasional demi menyelamatkan ketenangan pikiran serta kedamaian gendang telinga saya.
Keputusan menetap sementara di perantauan ini akhirnya jadi bentuk perlindungan diri yang paling hakiki. Kemerdekaan itu hakikatnya memberikan rasa nyaman dan kedamaian, bukan rasa cemas akibat keributan yang dipaksakan atas nama hiburan seperti sound horeg.
Pada akhirnya, sampai tradisi Agustusan di kampung halaman kembali memanusiakan warga dan menghargai akar budaya yang sebenarnya, saya pilih menikmati arti kemerdekaan dari sudut perantauan ini saja.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Saya sudah hidup di Malang selama 2 tahun, dan tetap tidak bisa menerima sound horeg
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













