Ini pengajian atau konser dangdut? Kok biduannya lebih ditunggu daripada ilmunya?

Ini pengajian atau konser dangdut? Kok biduannya lebih ditunggu daripada ilmunya?

Pernah nggak sih kamu duduk di majelis, niatnya nambah ilmu, tapi tiba-tiba panggung berubah jadi konser dangdut? Mikrofon berpindah dari ustaz ke biduan, musik mengalun, goyangnya mulai muncul, dan jamaah yang tadinya serius mendadak jadi penonton konser gratis. Judulnya tetap “pengajian”, tapi isinya kayak acara hiburan yang kebetulan ada ceramahnya. Ironis kan?

Masalah utama ada di konteks. Ketika acara yang seharusnya penuh adab tiba-tiba diisi biduan, yang hilang bukan cuma suasana khidmat. Yang hilang adalah prioritas. Adab yang seharusnya di atas ilmu, digeser. Ilmu yang seharusnya jadi tujuan utama, jadi sekadar pembuka sebelum hiburan.

Bayangin aja, orang datang dengan niat membersihkan hati, tapi malah disuguhi panggung yang lebih mirip hajatan kampung. Ada yang bilang, “Wajar, biar jamaah nggak bosan.” Ada juga yang bilang, “ini tradisi, sudah dari dulu begitu.”

Tradisi memang kuat. Budaya yang sudah menempel bertahun-tahun susah dilepas. Tapi tradisi yang bertentangan dengan adab dan agama itu sendiri apakah tetap harus dipertahankan hanya karena sudah lama ada? Kalau begitu, dulu orang juga biasa buang hajat di sungai. Haruskah kita pertahankan karena “sudah tradisi”?

Kalau sudah bilang boleh, ya sudah

Yang lebih menyebalkan lagi, banyak yang terlalu patuh pada pemuka agama setempat. Kalau ustaz atau kiai setempat bilang boleh, ya sudah, semua diam. Nggak ada yang berani nanya, “Ini masih pengajian atau sudah berubah jadi panggung hiburan?” Kepatuhan itu bagus, asal nggak buta. Kalau semua kritik dianggap “melawan ulama”, ya susah berkembang. Padahal ulama yang baik justru terbuka dikritik, bukan yang merasa kebal kritik.

Lucunya, pemerintah juga seolah tutup mata. Acara yang jelas-jelas melebihi batas adab dibiarkan saja. Teguran mungkin sudah pernah diberikan tapi faktanya acara tetap berlangsung. Akhirnya, kontrol hilang. Yang ada hanya pembiaran dengan dalih “menghargai tradisi” dan “menjaga kerukunan”. Padahal yang dijaga justru kemunafikan, pengajian yang isinya konser, majelis yang isinya panggung.

Masyarakat sebenarnya sudah mulai sadar. Banyak yang bisa membedakan mana majelis ilmu yang benar-benar serius, mana yang cuma berkedok pengajian. Yang satu suasannya tenang, isinya padat, jamaahnya fokus. Yang satu lagi suasannya ramai, isinya campur aduk, jamaahnya lebih banyak nunggu biduan daripada nunggu ilmu. Bedanya sudah jelas.

Tapi anehnya, yang berkedok itu tetap jalan terus. Seolah-olah selama masih ada label “pengajian”, semuanya jadi sah.

Seolah-olah dengan mengundang biduan, ilmu jadi lebih “dekat dengan rakyat”. Dan seolah-olah adab bisa dikompromikan demi “menarik jamaah muda”. Dan seolah-olah kritik terhadap ini sama dengan anti-budaya. Padahal yang dikritik bukan budayanya, tapi pencampuradukan yang membuat tujuan utama hilang. Menikmati musik nggak harus dengan maksiat, itu benar. Tapi poinnya bukan di situ. Poinnya adalah apakah panggung itu masih pantas disebut pengajian?

Ya jangan dinamain pengajian juga sih

Kalau tujuan utamanya sudah bergeser dari ilmu ke hiburan, maka namanya juga harus diganti. Jangan pakai label suci untuk menutupi isi yang sudah jauh dari adab. Jangan pakai dalih tradisi untuk mempertahankan kebiasaan yang merusak suasana. Dan jangan pakai kepatuhan buta pada pemuka setempat sebagai alasan untuk tidak pernah bertanya.

ADVERTISEMENT

Masyarakat sudah cukup cerdas untuk membedakan. Yang belum cerdas mungkin justru sebagian pemangku acara yang masih merasa “selama ada ceramah, semuanya boleh”. Atau ormas yang merasa “selama massa kami banyak, kritikan boleh diabaikan”. Atau pemerintah yang merasa “selama tidak ada keributan, biarkan saja”.

Akhirnya, yang rugi siapa? Jamaah yang datang dengan niat baik, tapi pulang dengan bingung. Ilmu yang seharusnya naik, malah kalah sama goyang. Adab yang seharusnya dijaga, malah dikorbankan. Dan label “pengajian” yang seharusnya mulia, jadi semakin longgar artinya.

Jadi, lain kali kalau ada undangan pengajian yang di dalamnya ada biduan, tanya dulu ini masih majelis ilmu, atau sudah jadi konser dengan sesi ceramah? Karena kalau yang kedua, mungkin lebih jujur kalau namanya diganti saja. Agar supaya adab nggak terus-terusan digeser hanya karena “sudah biasa”.

Penulis: Dwipayana
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Unpopular Opinion: Kajian Ustaz Hanan Attaki Itu Bukanlah Pengajian Agama

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 15 Oktober 2026 oleh .

Dwipayana

Seorang Film Enthusiasts dan Book Sniffer yang suka bercerita melalui tulisan. Stories help us make sense of the world.