Menurut saya, Honda Vario 125 generasi keenam adalah Vario dengan desain yang paling ganteng. Apalagi jika dibandingkan generasi pertamanya, duh, bumi langit beneran. Saya rasa saya bukanlah satu-satunya yang punya pendapat tersebut, sebab saya lihat banyak sekali Vario generasi ini lalu lalang di jalan.
Meski di atas saya bilang Vario 125, tapi Vario generasi keenam ini juga ada yang varian 150 cc. Mana pun itu, sama-sama laris. Selain karena desain, dengar-dengar, Vario generasi ini nggak pake rangka eSAF. Itu aja sebenarnya udah jadi nilai plus.
Nah, dalam artikel ini, saya mau bahas Honda Vario 125 yang kebetulan jadi tunggangan saya sejak 2022. Sebenarnya sih, motor ayah. Tapi sering saya pakai. Dalam artikel ini juga, saya akan membahas kenapa meski motor ini ganteng banget, tapi punya kekurangan yang benar-benar menutup semua kebaikan-kebaikan yang ada.
Desain Honda Vario 125 amat ganteng
Sesuai dengan pengantar di atas, desain adalah keunggulan yang amat kentara di Honda Vario 125 generasi keenam ini. bagian depannya seperti kepala elang yang siap menerka mangsa. Lekukan bodinya begitu tegas. Bagian belakang yang biasanya tidak diperhatikan betul, justru jadi salah satu fitur terbaik dari desain Vario ini.
Meski desainnya terlihat garang dan gagah, tapi motor ini bisa dibilang uniseks, alias mau dipakai gender mana saja, tetep cocok. Keren sih, soalnya tidak semua motor berhasil eksekusi desain seperti ini.
Perkara pengalaman berkendara, sejauh ini, saya rasa Honda Vario 125 generasi keenam ini amat nyaman. Posisi ridingnya tidak bikin cepat lelah, dan enak untuk perjalanan jauh. Manuvernya mantap, nggak ada keluhan deh.
Tenaganya juga bisa dikatakan cukup untuk 125cc. Buat nyalip sampai tanjakan motor ini mampu, konsumsi BBM-nya pun juga irit, bisa 1:47km/liter. Data ini saya lihat melalui speedometer yang ada di motor ini. Tetapi memang kenyataanya irit, ya menurut saya sih. Kalau kalian pikir boros, saran saya sih, mlakuo. Opo numpak KRL, genah irit.
Kualitas ampas!
Ganteng doang kalau ampas percuma. Inilah yang saya rasakan dari Honda Vario 125 generasi keenam. Dari desain dan pengalaman berkendara, okelah, saya nggak protes. Tapi kualitas dan ketahanan motor ini, astaga, beneran bikin ngelus dada.
Bodi motor ini tipis dan gampang patah. Sudah banyak bagian bodi motor saya yang sudah terbuka atau malah lepas sendiri. Terutama, cover bodi bagian bawah. Sering sekali lepas sendiri saat melewati jalanan yang kualitasnya jelek. Padahal sejak saya beli ini motor 4 tahun lalu, nggak pernah sekali pun saya buka cover bodi bawahnya.
Baca halaman selanjutnya
Spakbor nggak sejajar, apa-apaan?
Yang paling parah adalah, spakbor belakang motor ini nggak sejajar dengan ban. Sudah, saya sudah komplain ke bengkel resmi. Tapi nggak ada tanggapan sama sekali. Kasus ini pernah ramai juga di medsos, dan saya adalah salah satu korbannya.
Apakah berhenti di bodi yang ampas saja? Oh tidak. Tentu saja mesinnya juga bermasalah.
Servis rutin, ganti oli nggak pernah telat, tapi…
Mesin Vario ini jujur saja bandel, kuat. Tetapi setelah pemakaian 1 tahun, motor ini semakin lama suaranya menjadi kasar, berisik, diikuti juga dengan CVT yang punya masalah “gredek’ saat tarikan awal yang membuat tidak nyaman saat stop and go di kemacetan. Padahal ganti oli ya nggak pernah telat, servis juga rutin. Salahnya di mana sih?
Selain itu komstir pada motor ini rawan sekali rusak. Di awal pembelian pun saya mendapati motor ini stangnya berat, yang ternyata karena komstirnya rusak. Meski begitu, saya sih nggak kaget-kaget amat. Bengkel depan rumah saya tiap bulan bisa menangani 3-5 Vario yang komstirnya rusak. Cara menanganinya gimana? Gampang, beli komstir aftermarket. Kelar. Jauh lebih bagus ketimbang bawaan pabrik. Aneh? Ya iyalah.
Honda Vario 125 generasi keenam bisa jadi motor terbaik yang pernah ada. Tapi ya, gading retak ini disumbang oleh bodi tipis, kualitas mesin yang questionable, dan masalah-masalah lain yang jujur saja, tak perlu. Faktanya memang, motor ini masih ramai pembeli. Cuma ya, kalau kalian salah satu pemilik Honda Vario, sabar-sabar ya. Paling masalah yang saya alami bakal kalian alami juga. Semoga saja tidak, sih.
Penulis: Imanuel Joseph Phanata
Editor: Rizky Prasetya
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
