ADVERTISEMENT

Heran UIN Malang yang “payah” bisa masuk 10 besar kampus terbaik di Indonesia versi THE WUR

Heran UIN Malang bisa masuk 10 besar kampus terbaik versi THE WUR karena pengalaman selama kuliah di sana banyak kekurangannya Mojok.co

Saya lulus dari UIN Maliki Malang tiga tahun lalu. Sebagai alumnus, saya terkejut membaca kabar kampus tercinta masuk daftar Top 10 Kampus Terbaik di Indonesia versi Times Higher Education (THE) World University Rankings 2027. Lebih tepatnya, UIN Maling menduduki peringkat 7 di bawah UNAIR dan di atas BINUS. 

Perasaan ini mirip seperti yang dirasakan oleh salah satu penulis Mojok dalam artikelnya berjudul Mencoba memahami mengapa orang-orang nggak terima UIN Jogja jadi kampus terbaik ke-2 versi THE WUR. Dalam artikel tersebut, penulis terheran-heran UIN Jogja bisa menyalip kampus-kampus besar seperti UGM, Undip, dan ITB. 

Tentu saja, ada rasa bangga melihat almamater mendapat pengakuan internasional. Apalagi kabar ini terus berseliweran di berbagai grup alumni yang saya ikuti. Namun, di saat bersamaan, muncul pertanyaan yang sulit saya abaikan. Apakah prestasi di atas kertas sudah sejalan dengan pengalaman mahasiswa selama kuliah?

Bukan bermaksud meremehkan capaian kampus sendiri. Hanya saja, ingatan tentang fasilitas kelas, persyaratan akademik, hingga birokrasi penelitian yang payah masih melekat di benak ini. Ada beberapa hal yang membuat saya merasa bahwa peringkat tinggi semestinya juga menjadi momentum untuk membenahi persoalan di tingkat mahasiswa.

Peringkat mendunia, tapi pengalaman belajar saya di UIN Malang punya cerita berbeda

Pemeringkatan THE WUR menggunakan sejumlah indikator, mulai dari pengajaran, lingkungan dan kualitas riset, industri, hingga wawasan internasional. Artinya, posisi kampus tidak semata-mata ditentukan oleh fasilitas gedung atau kenyamanan ruang kelas. Saya bisa memahami mengapa kampus dengan produktivitas riset dan publikasi akademik yang baik memperoleh nilai tinggi. Namun, pertanyaan tentang kualitas pengalaman belajar mahasiswa juga tetap relevan.

Semasa kuliah di UIN Malang, saya masih mengingat ruang kelas reguler yang mengandalkan kipas angin. Sementara itu, ruangan berpendingin udara lebih mudah ditemukan di fasilitas tertentu, seperti auditorium dan laboratorium. 

Bayangkan mengikuti perkuliahan siang hari ketika cuaca sedang panas. Alih-alih fokus menyimak dosen, mahasiswa kadang harus berdamai dengan udara gerah dan kipas angin yang berputar seadanya.

Memang, kipas angin bukan indikator utama THE WUR. Namun, bagi mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam di kelas, kenyamanan ruang belajar bukan persoalan remeh. Prestasi internasional tentu patut dirayakan, tetapi jangan sampai pengalaman belajar sehari-hari justru luput dari perhatian.

Integrasi keilmuan, skripsi pun harus mencari dalil

Sebagai kampus Islam, UIN Malang memiliki ciri khas integrasi ilmu pengetahuan dan nilai keislaman. Gagasan tersebut tentu menarik karena ilmu tidak seharusnya dipisahkan begitu saja dari persoalan etika dan kemanusiaan. Namun, berdasarkan pengalaman saya, penerapannya dalam pengerjaan skripsi terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa program studi umum.

Dalam pengalaman saya, penelitian yang dikerjakan tetap perlu dikaitkan dengan nilai keislaman dan dilengkapi dalil Al-Qur’an atau hadis. Akibatnya, mahasiswa yang meneliti bidang teknis harus mencari hubungan antara topik penelitiannya dengan landasan keagamaan.

ADVERTISEMENT

Meneliti sistem informasi atau pengelolaan arsip, misalnya, bukan hanya menuntut mahasiswa memahami metode penelitian dan persoalan teknis. Mereka juga harus memikirkan bagaimana menghubungkan penelitian tersebut dengan nilai keislaman.

Integrasi ilmu sebenarnya bisa menjadi keunggulan kampus. Namun, penerapannya perlu memberi ruang bagi relevansi akademik, bukan sekadar memenuhi persyaratan formal. Jangan sampai mahasiswa lebih sibuk mencari ayat yang cocok daripada memperdalam substansi penelitiannya.

Dana penelitian ada, LPJ-nya bikin ngelus dada 

Persoalan lain yang masih saya ingat adalah urusan pendanaan penelitian mahasiswa dan laporan pertanggungjawaban di UIN Malang. Berdasarkan pengalaman saya, dana penelitian yang diperoleh berada di kisaran Rp3 juta-Rp5 juta. Nominal tersebut tentu perlu dilihat berdasarkan skema dan ketentuan pendanaan yang berlaku. Namun, bagi mahasiswa yang harus membiayai pengumpulan data, transportasi, dan kebutuhan penelitian lainnya, pengelolaan dana yang efisien menjadi sangat penting.

Tentu yang lebih membekas justru urusan administrasinya. Ketika menggunakan ojek daring untuk menuju lokasi penelitian, saya pernah diminta menyertakan foto pengemudi sebagai bukti perjalanan dalam laporan pertanggungjawaban. Padahal, transaksi perjalanan sudah tercatat di aplikasi. Saya akhirnya harus memikirkan bagaimana mendapatkan bukti tambahan di tengah kegiatan penelitian.

Persoalannya bukan sekadar harus mengambil foto, melainkan apakah setiap persyaratan administrasi benar-benar diperlukan dan proporsional. Jangan sampai mahasiswa lebih sibuk mengurus dokumen pencairan dana daripada mengembangkan kualitas penelitiannya.

Prestasi besar semestinya terasa sampai ke mahasiswa UIN Malang

Saya melihat masuknya UIN Malang dalam jajaran kampus terbaik versi THE WUR merupakan capaian yang patut diapresiasi. Prestasi tersebut menunjukkan bahwa ada aspek akademik kampus yang memperoleh pengakuan dalam pemeringkatan internasional.

Namun, reputasi kampus tidak hanya hidup dalam publikasi ilmiah dan tabel peringkat. Mahasiswa juga merasakannya melalui ruang kelas yang nyaman, prosedur administrasi yang masuk akal, dukungan penelitian, dan kesempatan pengembangan diri yang merata.

Sebagai alumni, saya tentu ingin melihat UIN Malang terus berkembang. Kritik bukan berarti tidak bangga terhadap almamater, melainkan bentuk harapan agar capaian besar di tingkat internasional diikuti perbaikan yang terasa dalam kehidupan akademik sehari-hari.

Selamat untuk UIN Malang. Semoga predikat membanggakan tersebut bukan hanya mempercantik profil kampus, tetapi juga menjadi alasan untuk berbenah. Sebab, bagi mahasiswa yang pernah berjuang menyelesaikan skripsi sambil berhadapan dengan kipas angin dan tumpukan LPJ, kemajuan kampus akan terasa lebih nyata ketika perubahan benar-benar sampai ke ruang kelas dan meja administrasi.

Penulis: Ferika Sandra
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA Mencoba memahami mengapa orang-orang nggak terima UIN Jogja jadi kampus terbaik ke-2 versi THE WUR.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 Oktober 2026 oleh .

Ferika Sandra

Seorang pustakawan dari Kota Malang yang mencoba menulis untuk menertibkan pikiran. Gemar dengan isu-isu literasi dan kebudayaan.