Terhitung sudah genap dua minggu sejak saya menjalani operasi amandel. Rasa sakitnya memang sudah jauh berkurang, aktivitas juga perlahan kembali seperti biasa. Tetapi ada satu hal yang sampai sekarang masih sering saya pikirkan: pengalaman menjadi pasien BPJS ternyata meninggalkan kesan yang cukup berbeda bagi saya.
Sebelum operasi, saya hanya berpikir bagaimana caranya penyakit tonsil ini bisa selesai tanpa membuat kondisi keuangan ikut berantakan. Saya tidak terlalu memikirkan hal-hal lain. Toh, sebagai pasien, tugas saya memang simple yaitu datang ke RS rujukan, menjalani tindakan, minum obat, lalu pulang.
Namun, setelah semuanya selesai, saya justru menemukan beberapa hal yang membuat saya merasa beruntung. Hal-hal yang mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi cukup berarti bagi saya sebagai pasien. Bahkan, saya sempat berpikir, kalau bukan karena menjalani perawatan menggunakan BPJS, mungkin saya tidak akan pernah tahu bahwa pengalaman seperti ini bisa saya dapatkan.
Ternyata saya bisa rawat inap dengan naik ke kelas satu gratis
Jujur, saya sempat kepikiran ketika menyadari kepesertaan BPJS yang saya miliki adalah kelas 3. Bukan apa-apa, kamar rawat inap kelas 3 pada umumnya diisi oleh empat sampai enam pasien.
Membayangkan setelah operasi harus berbagi kamar dengan lima orang pasien lain, ditambah lima orang pendamping, sehingga total ada sepuluh orang di dalam satu ruangan, rasanya bukan perkara sederhana. Terlebih kalau pendamping saya, yaitu istri, harus tidur di lantai bersama banyak orang. Rasanya campur aduk.
Saya bahkan sempat mengajukan untuk naik ke kelas 2. Namun, petugas BPJS menginformasikan bahwa peserta kelas 3 tidak bisa naik kelas perawatan atas kehendak sendiri. Waduh, biyung. Tapi, ternyata ada keberuntungan lain. Ketika waktu rawat inap tiba, kamar kelas 3 dan kelas 2 kebetulan penuh. Saya pun akhirnya dititipkan di kamar rawat inap kelas 1 tanpa dikenakan biaya tambahan.
Belakangan saya baru tahu bahwa kondisi seperti ini memang diperbolehkan dalam aturan. Perpres 59/2024 mengatur bahwa peserta kelas 3 tidak dapat meminta kenaikan kelas perawatan atas kehendak sendiri. Namun, ketika kamar sesuai hak peserta penuh, rumah sakit dapat memberikan perawatan satu tingkat di atas haknya tanpa biaya tambahan, sesuai ketentuan yang berlaku. Jadi, tanpa pernah merencanakannya, saya yang awalnya khawatir harus berbagi kamar dengan banyak pasien justru berakhir di kamar kelas 1. Alhamdulilah.
Ternyata peserta BPJS Bisa Mendapat Skrining Kesehatan, Bukan Cuma Berobat Saat Sakit
Selama ini saya merasa BPJS baru berguna ketika seseorang sudah sakit. Yah, benar-benar sakit dan wajib dirawat di Rumah Sakit. Kalau sehat, kartu BPJS rasanya cuma cukup disimpan di dompet. Ternyata anggapan saya amat keliru.
Ternyata BPJS memiliki manfaat promotif dan preventif yang juga mencakup skrining riwayat kesehatan serta skrining penyakit tertentu. Jenis skrining yang diatur pun buanyak antara lain diabetes, hipertensi, penyakit jantung iskemik, stroke, kanker leher rahim, kanker payudara, tuberkulosis, hepatitis, PPOK, hingga beberapa penyakit lainnya.
BPJS bukan sekadar jaminan untuk hal yang tidak pernah kita inginkan
Selanjutnya, ada satu hal dari skema BPJS yang menurut saya cukup menarik, sistem gotong royong. Kita tidak pernah tahu kapan tubuh akan sakit, tetapi selama sehat, iuran yang kita bayarkan tetap ikut membantu peserta lain yang sedang membutuhkan pelayanan kesehatan. Begitu pula ketika giliran kita sakit, biaya perawatan bisa terbantu dari sistem yang sama. Sederhananya, saling membantu tanpa pernah tahu kapan kita akan berada di posisi yang membutuhkan bantuan.
Berbeda dengan tabungan yang biasanya disiapkan untuk kebutuhan yang sudah kita rencanakan, BPJS justru menjadi persiapan untuk sesuatu yang paling tidak kita inginkan: sakit. Saya tidak sedang melebih-lebihkan.
Setelah mengalaminya sendiri, saya makin percaya bahwa BPJS bukan sekadar soal berapa rupiah yang kita keluarkan setiap bulan. Tapi, ada semacam rasa tenang karena ketika tubuh sedang tidak baik-baik saja, biaya pengobatan tidak sepenuhnya menjadi urusan kita sendiri.
Dan, tampaknya inilah bentuk gotong royong yang paling nyata: kita tidak pernah berharap membutuhkan pertolongan, tetapi ketika waktunya tiba, ternyata sudah ada sistem yang membantu meringankan melalui iuran yang dikumpulkan bersama.
Penulis: Dimas Junian Fadillah
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Nakes vs pasien BPJS terjadi karena sistem kesehatan yang busuk.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
