Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi Dikuras demi Emas: Apa Artinya Kemajuan Ekonomi Jika Alam Hancur Lebur?

Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi Dikuras demi Emas: Apa Artinya Kemajuan Ekonomi Jika Alam Hancur Lebur?

Gunung Tumpang Pitu Banyuwangi Dikuras demi Emas: Apa Artinya Kemajuan Ekonomi Jika Alam Hancur Lebur? (Pixabay.com)

Banyuwangi adalah surga tersembunyi di ujung timur Pulau Jawa yang terkenal dengan keindahan alamnya. Namun, di balik panorama alam yang memukau, ada satu cerita yang kurang indah: tambang emas di Gunung Tumpang Pitu. Bagaimana tidak, kegiatan penambangan yang dilakukan di daerah selama bertahun-tahun telah menimbulkan kerusakan lingkungan yang memprihatinkan.

Saya yang sering melintas menuju Pantai Muara Mbaduk di Kecamatan Pesanggaran melihat secara jelas bagaimana perkembangan bukit ini. Yang dulunya rindang hijau penuh pepohonan berubah gundul dan perlahan mulai hancur. Tentu saja, tak bisa dipungkiri bahwa potensi ekonomi yang ditawarkan oleh tambang emas ini sangat menggiurkan.

Tapi tunggu dulu, apa artinya kekayaan ekonomi jika alam kita hancur? Sebab dalam proses penggalian emas di Gunung Tumpang Pitu, lingkungan menjadi korban utama. Hutan yang hijau dan air yang jernih terancam oleh pembukaan lahan, penggalian tanah, dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Dampaknya terasa dalam polusi air dan kerusakan ekosistem yang tak terelakkan.

Bukan hanya itu, dampak sosial juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Masyarakat sekitar, terutama yang bergantung pada pertanian dan perikanan, merasakan pukulan keras jika melihat dalam jangka panjang. Relokasi penduduk dan kehilangan mata pencaharian tradisional bukanlah lelucon. Mereka yang hidup dalam harmoni dengan alam dan menggantungkan hidup pada hasil bumi, tentu pada waktunya akan dipaksa menyerah pada dampak negatif tambang emas yang sudah bertahun-tahun beroperasi.

Gunung Salakan ora didol!

Lantaran kondisi Gunung Tumpang Pitu sudah mulai gundul dan hancur lebur, muncul isu Gunung Salakan yang ada di Desa Kandangan, Kecamatan Pesanggaran yang tidak jauh dari Tumpang Pitu akan dilakukan penambangan. Meski hal itu belum jelas perkembangannya, upaya penolakan sudah mulai muncul di mana-mana oleh warga Kandangan.

Tak dapat dimungkiri, tambang emas di Gunung Tumpang Pitu menawarkan potensi ekonomi yang menggiurkan bagi daerah dan masyarakat sekitar. Kandungan emas yang tinggi menjadi daya tarik utama bagi perusahaan tambang. Namun, sayangnya, dalam proses eksploitasi ini, dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar seringkali diabaikan.

Salah satu dampak yang paling mencolok adalah kerusakan lingkungan. Kegiatan penambangan emas di Gunung Tumpang Pitu berpotensi merusak ekosistem alaminya. Pembukaan lahan, penggalian tanah, dan penggunaan bahan kimia seperti merkuri dan sianida dapat menyebabkan keracunan air tanah dan sungai.

Ini akan mengganggu kehidupan fauna, serta merusak kualitas tanah yang subur dalam jangka panjang. Hal tersebut tentu secara tidak langsung akan berdampak pada mata pencaharian masyarakat setempat yang bergantung pada hasil pertanian dan perikanan. Selain itu, aspek sosial juga menjadi perhatian penting.

Esensi kekayaan ekonomi

Meskipun ada peraturan dan pengawasan yang diatur oleh pemerintah terkait dengan operasional tambang. Tampaknya masih terdapat celah dan kekurangan dalam pelaksanaannya. Harusnya ini jadi perhatian pemerintah daerah. Dan ya, harusnya sih tidak mungkin mereka tidak tahu akan hal ini.

Kritik ini bukan bertujuan untuk menyalahkan atau menghambat perkembangan ekonomi. Tapi, untuk membangkitkan kesadaran dan meminta perusahaan tambang serta pemerintah untuk bertanggung jawab secara lebih bertanggung jawab terhadap dampak yang ditimbulkan.

Mari kita buka mata, tanyakan pada diri kita sendiri. Apa artinya kekayaan ekonomi jika alam kita hancur lebur? Mari bersama jaga keindahan gunung-gunung lain di Banyuwangi dan warisan alam untuk generasi yang akan datang.

Penulis: Fareh Hariyanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Cara Saya Jelaskan Letak Kabupaten Lumajang biar Mudah Dipahami

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version