Googling Sebelum Bertindak Terasa Lebih Relevan daripada Berpikir Dulu

Googling Sebelum Bertindak Terasa Lebih Relevan Daripada Berpikir Dulu terminal mojok.co

Googling Sebelum Bertindak Terasa Lebih Relevan Daripada Berpikir Dulu terminal mojok.co

Sudah seharusnya kita selalu berpikir sebelum bertindak, tapi menurut saya googling sebelum bertindak itu lebih relevan belakangan.

Saya menulis artikel ini karena saya merasa ada yang salah dengan kebiasaan yang sering saya lakukan ketika akan melakukan suatu hal yang baru atau asing buat saya, yaitu googling. Pasti kita semua pernah melakukan hal yang sama bukan? Mencari informasi terlebih dahulu di internet entah itu di Google, YouTube, atau media sosial sebelum melakukan suatu kegiatan. 

Hal ini sangat wajar dengan adanya mbah-mbah yang bukan manusia bernama “mbah gugel”. Akan tetapi, perlahan saya menyadari bahwa saya sekarang apa-apa harus googling dulu deh, dan saya sudah tidak pernah berpikir sebelum bertindak dan lebih sering googling sebelum bertindak.

Bukti bahwa saya sangat ketergantungan sama “mbah gugel” ditandai dengan isi riwayat pencarian di browser dan YouTube saya isinya, “cara memesan makanan di McD”, “cara memesan kopi di Starbucks”, “cara akrab dengan orang baru”, “cara beli tiket bioskop”, dan kegiatan-kegiatan sederhana manusia lainnya yang sebenarnya tanpa googling pun bisa dilakukan.

Seperti beberapa waktu yang lalu, ketika saya diajak teman untuk makan di McD, yang merupakan pertama kalinya saya makan di sana, hal pertama yang saya lakukan yaitu mencari tutorial di YouTube, “cara memesan makanan di McD”. Lucunya ternyata ada orang-orang yang membuat konten ini, bahkan ada salah satu judul yang nggak penting seperti “Cara Mengambil Saus di McD”, dan setelah menonton itu, entah kenapa saya merasa terbodohi dengan konten itu. Saya merasa menjadi manusia yang nggak berguna gitu.

Tidak hanya itu, Internet sekarang telah mengubah pola pikir pelajar zaman sekarang. Sekarang gini deh, lebih banyak mana seorang murid yang mencari tahu jawaban ke guru dibandingkan dengan murid yang mencari jawaban di internet, hayo banyak mana? Coba deh kita tanya ke pelajar zaman sekarang, “Tahu Brainly nggak?” pasti banyak yang tahu. Bayangkan teman-teman pelajar zaman sekarang lebih percaya internet daripada gurunya.

Fenomena lain juga banyak dialami ibu-ibu muda. Saya yakin banyak dari mereka yang ketika mau masak buat keluarganya pasti googling resep masakannya dari internet. Memang hal ini sangat membantu, dulu ketika saya belum mengandalkan internet buat mencari resep makanan, setiap kali saya memasak, entah kenapa selalu keasinan karena sebelumnya saya berpikir, garam sedikit saja enak apalagi banyak pasti tambah enak. Namun, setelah saya cari resep di internet, saya baru sadar itu semua salah. Dari situlah kenapa saya lebih memilih googling daripada berpikir hehehe.

Sekarang muncul pertanyaan, “Bagus nggak sih kalau kita ketergantungan sama googling?” Secara langsung Google memang sangat bermanfaat. Kita bisa langsung tahu gimana caranya pesan makanan di McD tanpa harus tanya ke mbak-mbak McD biar nggak malu, tapi secara tidak langsung kita diarahkan menjadi manusia yang tidak kreatif, penakut, dan tidak berguna di kehidupan ini. Sekarang tinggal pilih mana? Malu atau merasa tidak berguna, kalau saya sih lebih memilih jadi manusia yang nggak berguna daripada malu iya kan. Sebab, malu nggak bikin kenyang, Bro. Hahaha bercanda.

Memang sih internet itu memudahkan kita untuk mencari hal-hal yang belum kita ketahui, tapi kalau memesan makan aja harus cari di internet dulu, mending balik ke zaman berburu dan meramu aja deh. Internet juga sepertinya membuat lipatan otak berkurang, bayangkan saja, orang-orang sekarang apa-apa googling, cari jawaban soal ujian pun begitu, orang-orang sudah tidak lagi berpikir, gimana otaknya nggak lurus coba. Mungkin ini adalah alasan kenapa zaman dulu banyak pemikir-pemikir hebat dunia lahir kali ya, mungkin saja lho.

Meskipun sekarang apa saja bisa dicari di internet, kita tidak boleh makan mentah-mentah semua yang ada di internet, setidaknya berpikir sedikit lah. Masa iya kita mau selamanya bergantung pada mesin pencari terus-terusan? Sekali-kali pakai otak kita biar pinter gitu lah.

BACA JUGA Telkomsel Itu Bukan Tidak Humanis, tapi Hanya Mencoba Realistis

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version