Gara-gara semua orang magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri

Gara-gara pada magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri (Unsplash)

Gara-gara pada magang, nggak magang jadi kerasa aneh sendiri (Unsplash)

Coba tanya mahasiswa semester 5 ke atas hari ini soal magang. Kemungkinan besar mereka sudah punya cerita, atau minimal rencana. 

Bukan karena terpaksa, tapi karena istilah “kuliah tanpa magang” rasanya makin jarang kedengaran di obrolan mahasiswa sekarang. Fenomena ini bahkan sudah punya nama sendiri: mahasiswa kumang, singkatan dari kuliah-magang.

Istilah itu awalnya muncul di kalangan mahasiswa hukum, tapi sekarang rasanya berlaku di hampir semua jurusan. Kaprodi salah satu fakultas hukum bilang, magang mahasiswa kini masuk jadi bagian penilaian resmi program studi, bukan sekadar kegiatan sampingan lagi. 

Jadi wajar kalau makin banyak mahasiswa yang menganggap satu-dua pengalaman sebagai bagian normal dari masa kuliah. Bukan lagi sesuatu yang opsional.

Yang menarik, tren ini didorong dari dua arah sekaligus, yaitu kampus dan pemerintah. Makanya, mahasiswa sekarang pasti akan melewati jalur ini, entah cepat atau lambat.

Ketika magang berubah dari bonus jadi syarat hidup

Program Magang dan Studi Independen Bersertifikat (MSIB) mencatat lonjakan pendaftar yang signifikan sepanjang 2026. Jutaan mahasiswa aktif di seluruh Indonesia ikut mendaftar. 

Di sisi lain, Kementerian Ketenagakerjaan juga menaikkan kuota Program Magang Nasional secara tajam tahun ini. Alasannya, banyak perusahaan sekarang lebih suka kandidat yang sudah punya pengalaman kerja walaupun statusnya masih magang.

Di atas kertas, ini kedengaran seperti solusi ideal. Mahasiswa dapat pengalaman, perusahaan dapat tenaga kerja terlatih, semua senang. Tapi ada satu pertanyaan kecil yang menggelitik. 

Kenapa mahasiswa harus mengumpulkan pengalaman duluan sebelum lulus? Padahal dulu, urutannya biasa saja: lulus dulu, baru cari kerja, baru dapat pengalaman di sana.

Standar yang terus bergerak duluan

Ironinya justru muncul begitu mahasiswa itu lulus. Berbagai laporan tren rekrutmen 2026 menyebut jumlah lulusan baru terus bertambah setiap tahun, sementara lowongan level pemula terasa semakin terbatas. Banyak perusahaan mulai lebih melirik kandidat yang sudah punya pengalaman ketimbang fresh graduate tanpa portofolio. 

Skema perekrutan berbasis keterampilan, bukan lagi sekadar ijazah dan IPK, semakin jadi standar baru banyak perusahaan.

Jadi situasinya jadi agak lucu. Mahasiswa sudah rajin magang sejak masih kuliah, tapi begitu lulus, standarnya sudah naik lagi ke level berikutnya. 

Bukan berarti usaha itu sia-sia, cuma garis finish-nya memang kelihatan terus bergerak maju, mengikuti kecepatan pasar kerja yang berubah. Sementara waktu kuliah tetap sama, empat tahun.

Magang zaman sekarang, katanya sudah bukan sekadar fotokopi

Untungnya, citra magang zaman dulu yang identik dengan bikin kopi dan fotokopi dokumen mulai bergeser. Banyak perusahaan mitra sekarang menerapkan sistem berbasis proyek dengan target kerja nyata, bukan cuma jadi anak titipan yang duduk manis di pojok ruangan. 

Generasi Z sendiri juga makin vokal soal ekspektasi mereka. Bukan cuma mau dapat pengalaman, tapi juga pembelajaran yang bermakna dan kompensasi yang layak atas kontribusi yang mereka kerjakan.

Sayangnya, ekspektasi yang membaik di level wacana itu belum otomatis merata di lapangan. Masih banyak program yang honornya jauh dari layak, bahkan ada yang menganggap uang saku sekadar formalitas ketimbang bentuk penghargaan atas kerja mahasiswa. 

Selama masih ada gap antara narasi ideal dan praktik nyata, status magang tetap rawan dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah berkedok pengalaman.

Jadi, program ini buat siapa sebenarnya?

Semua pihak, kampus, kementerian, sampai perusahaan, punya alasan bagus untuk mendorong mahasiswa magang sebanyak-banyaknya. Tapi di tengah semua kepentingan baik itu, ada baiknya juga sesekali dicek ulang. 

Apakah ritme kuliah-magang-organisasi yang makin padat ini masih menyisakan ruang buat mahasiswa sekadar menikmati proses belajarnya, atau semua jadi berlomba-lomba mengejar checklist yang tidak pernah benar-benar selesai.

Kalau program ini benar-benar dirancang untuk kebaikan mahasiswa, mungkin pertanyaannya bukan hanya “sudah magang di mana,” tapi juga “gimana rasanya menjalani semua ini, masih menyenangkan atau sudah kelewat capek?”

Penulis: Nayla Safhira

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Alasan Kantor Pemerintahan Adalah Tempat Magang Terbaik bagi Mahasiswa yang Ingin Coba Dunia Kerja

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version