Orang yang Foto di Tugu Jogja Itu Bukan Norak, Hampir Semua Pelancong Pernah Melakukannya

Tugu Jogja Kini Lebih Menyenangkan ketimbang Malioboro (Unsplash)

Tugu Jogja Kini Lebih Menyenangkan ketimbang Malioboro (Unsplash)

Ada satu kebiasaan netizen yang menurut saya cukup membingungkan. Mereka gemar menyebut orang yang berfoto di Tugu Jogja sebagai pelancong yang “template”, mainstream, bahkan ada yang terang-terangan menyebutnya norak.

Alasannya juga kurang lebih sama. Jogja punya begitu banyak tempat wisata yang menarik, tetapi kenapa yang difoto justru Tugu? Katanya, sudah terlalu biasa. Sudah terlalu sering muncul di media sosial. Tidak ada yang spesial lagi.

Saya justru pengin bertanya balik, memangnya apa yang salah?

Tugu Jogja adalah salah satu tempat ikonik di Jogja. Wajar banget kalau ada yang pengin foto di situ. Bahkan ketika sempat ada larangan pun, tetap tak menyurutkan animo orang berfoto di sana. Rasanya sulit menemukan orang yang baru pertama kali ke Jogja lalu sama sekali tidak tertarik melihat salah satu ikon kota ini dari dekat.

Praktik yang umum

Kalau kita mau adil, sebenarnya ini suatu praktik yang umum. Orang yang pergi ke Paris biasanya ingin melihat Menara Eiffel. Ke Semarang, banyak yang mampir ke Lawang Sewu. Bukan karena mereka tidak tahu ada tempat lain yang lebih menarik, melainkan karena setiap kota selalu punya satu tempat yang seolah menjadi penanda, “Saya benar-benar pernah sampai di sini.”

Bagi saya, Tugu Jogja memiliki fungsi yang sama. Sebagai tempat ikonik juga bersejarah, Tugu memberikan vibes yang sama, penanda bahwa seseorang pernah ke Jogja. Sama dengan berfoto di Malioboro, sama dengan berfoto di kap jip Merapi.

Perlu diketahui juga, tidak semua orang bisa berlibur ke Jogja tiap saat. Bagi kalian yang sudah mendiami Kota Istimewa begitu lama, tentu kalian punya penilaian yang berbeda dengan yang baru bisa ke Jogja sekali setahun. Kalian bisa jadi anggap Tugu adalah tempat penuh kemacetan, tapi bagi wisatawan, ini adalah momen yang menyenangkan bagi mereka.

Wajar jika para wisatawan akhirnya mengabadikan momen di Tugu Jogja. Belum tentu bulan depan atau tahun depan mereka bisa ke Jogja. Bahkan belum tentu juga mereka bisa ke Jogja lagi sepanjang hidupnya.

Intinya, hal yang biasa bagi warga Jogja bisa menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi pelancong dari kota lain.

Bisa jadi memang Tugu Jogja adalah destinasi utamanya

Lagi pula, tidak semua orang berlibur itu tujuannya mencari tempat yang tersembunyi atau yang belum viral. Ada yang memang ingin menikmati hal-hal yang ikonik. Sama seperti orang yang datang ke Malioboro untuk berjalan kaki, meski tahu kawasan itu hampir selalu ramai. Atau mampir ke kawasan Keraton hanya karena ingin melihat langsung tempat yang selama ini dikenal lewat buku sejarah.

Ada juga yang ke Tugu Jogja cuma mau liat kayak apa bentuknya, dan foto di sana. Beneran ada orang yang kayak gitu. Tidak semua orang mau berburu. Kadang, yang pasti-pasti aja udah cukup.

Jadi, rasanya tidak perlu buru-buru menyebut orang yang berfoto di Tugu Jogja itu norak. Toh, kemungkinan besar kita pun akan melakukan hal yang sama ketika berkunjung ke sebuah kota yang baru pertama kali kita datangi. Sebab, sebelum mencari tempat-tempat yang lebih tersembunyi, hampir semua pelancong pasti ingin menyapa ikon kotanya lebih dahulu.

Penulis: Jessica Nurleman
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tugu Jogja Kini Lebih Menarik Bagi Warga Lokal dan Wisatawan ketimbang Malioboro yang Terlalu Ramai dan Kaku

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version