Informasi
ADVERTISEMENT

Dosa IAIN Kediri dalam Proses Pembangunan Gedung Baru: Mau Menggusur Pedagang atau Warga Setempat? Pusing!

IAIN Kediri Bakal Berdosa Jika Gedung Baru Menyusahkan Warga (Unsplash)

Kerepotan yang akan dihadapi kampus

Menurut saya, IAIN Kediri, yang punya hajat memperluas kampus akan menghadapi kerepotan. Masalahnya, lahan kosong di sekitar kampus itu praktis tidak ada. Misalnya sebelah selatan kampus sudah penuh rumah warga. Di utara, ada pasar grosir. Menengok ke barat, ada jalan besar. Timur? Aneka toko sudah memenuhi daerah itu.

Jadi, hanya ada 2 pilihan untuk kampus, yaitu membangun di sisi utara dan timur. Namun, 2 pilihan itu sama-sama bakal menghadirkan kerepotan yang kudu diperhatikan kampus. 

Pertama, jika IAIN Kediri membangun gedungnya di pasar grosir, pasti akan menghadapi penolakan dari Pemkot. Pedagang di pasar grosir pasti akan kena gusur. Kedua, jika membangun di sisi timur, kampus harus membeli tanah dari pemilik toko secara sportif biar nggak jadi “dosa” di masa depan.

Membangun dengan cara benar

IAIN Kediri perlu memikirkan semua pilihan secara masak. Saya agak memahami bahwa pembangunan gedung ini penting untuk mengejar status UIN. Ya, kelayakan gedung memang menjadi keprihatinan.

Bila niat untuk membangun gedung sangat besar, kampus perlu membersamainya dengan cara benar. Jika cara pengerjaannya tidak benar atau kurang jeli, berpotensi melahirkan masalah yang bisa menjelma jadi catatan buruk untuk IAIN Kediri. 

Jika terjadi “kesalahan”, saya dapat memastikan bahwa kampus akan kehilangan marwah di depan warga sekitar. Jadi, saya, sebagai mahasiswa, sangat berharap pembangunan gedung baru tidak berakhir dengan tercorengnya nama baik kampus.

Apalagi kalau akhirnya merugikan pihak-pihak tertentu alias masyarakat Ngronggo dan sekitarnya. Karena saya sebagai mahasiswa IAIN Kediri, merasa telah banyak terbantu oleh masyarakat Ngronggo. Misalnya dalam memenuhi kebutuhan hidup seperti makan dan lain-lain. Yuk, IAIN Kediri, bisa yuk.

Penulis: Muhammad Izzat Qurtubi

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Mengubah Slogan “Kediri Lagi” Menjadi “Kediri Berbudaya” Adalah Blunder Pemkab. Milih Slogan, kok, Nggak Punya Keunikan!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 6 September 2023 oleh .

Muhammad Izzat Qurtubi

Mahasiswa aktif IAIN Kediri. Tinggal di Kota Kediri. Percaya bahwa membaca adalah jalan masuk, menulis adalah jalan keluar, dan pergerakan adalah cara merawat kebaikan.