Niat ikut organisasi mahasiswa di UIN cuma mau cari teman, malah jadi terpaksa ikut pengkaderan yang rumit

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan lulusan UIN

Mahasiswa UIN Nggak Wajib Nyantri, tapi kalau Nggak Nyantri ya Kebangetan (unsplash.com)

Menjadi mahasiswa baru di UIN itu rasanya mirip seperti masuk ke pasar kaget di hari Minggu pagi. Baru saja melangkahkan kaki keluar dari gerbang kampus setelah selesai ospek—atau yang biasa kita kenal dengan PBAK—kita tidak hanya disambut oleh teriknya matahari, tapi juga oleh barisan senior yang berdiri gagah memegang brosur.

Ada yang berpenampilan klimis ala politisi masa depan, ada yang gayanya estetik ala aktivis literasi, hingga yang pembawaannya tenang dan adem khas anak LDK. Semuanya punya satu misi yang sama: menawari kita “tiket surga” berupa formulir pendaftaran organisasi.

Waktu awal masuk UIN, niat saya sangat sederhana. Sebagai mahasiswa baru yang belum punya banyak teman, saya cuma ingin nyebur ke salah satu organisasi. Yaa… minimal supaya ada teman ngopi, ada yang bisa diajak tukar catatan kuliah. Atau kalau beruntung, dapat info dosen yang hobinya ngasih nilai A tanpa banyak wacana.

Tapi ternyata, niat yang mulia dan sederhana itu langsung diuji oleh realitas. Masuk organisasi kampus di UIN itu syaratnya banyak banget. Kadang rasanya lebih rumit daripada syarat pengajuan pinjaman bank.

Birokrasi pengkaderan organisasi mahasiswa UIN yang menguji ketabahan

Coba bayangkan, kita baru saja resmi jadi mahasiswa UIN. Otak masih agak kaget membedakan mana mata kuliah Fiqih Jinayah dan mana Fiqih Muamalah. Eh, begitu mau daftar organisasi, kita sudah disodori berkas pendaftaran yang panjangnya menguji kesabaran.

Formulirnya tidak cuma menanyakan nama dan NIM, tapi juga visi-misi hidup lima tahun ke depan, motivasi berkontribusi untuk peradaban, sampai esai ringkas tentang pandangan kita terhadap kondisi geopolitik kampus di UIN. Padahal saat itu, pandangan geopolitik saya cuma sebatas: “Di mana warteg yang jualan es teh manis paling murah di dekat fakultas?”

Itu baru tahap berkas. Belum lagi tahap wawancara yang intensitasnya kadang mengalahkan seleksi kerja. Kita diajak duduk melingkar di bawah pohon rindang atau sudut perpustakaan, lalu diberondong pertanyaan ideologis oleh senior yang mukanya dibuat-buat serius.

“Mengapa kamu memilih organisasi kami ketimbang organisasi sebelah?”

“Bagaimana kamu melihat dialektika antara idealisme dan pragmatisme mahasiswa?”

Jujur, di dalam hati saya cuma mau menjawab, “Saya cuma mau cari teman nongkrong yang tidak hilang kalau diajak bayar kas, Kak.” Tapi demi kelancaran proses kaderisasi, jawaban itu terpaksa dibungkus dengan kalimat-kalimat bersayap yang dihafalkan semalaman dari Google.

Dari “Malam Bina Iman” Sampai “Latihan Kepemimpinan”

Syarat selanjutnya yang wajib hukumnya adalah mengikuti agenda pengkaderan dasar. Namanya beda-beda tiap organisasi di UIN, tapi polanya mirip: berangkat Jumat sore ke tempat penginapan atau vila di luar kota, lalu dipulangkan Minggu siang dalam kondisi mata panda dan suara serak.

Di sana, kita digembleng dengan materi berjam-jam dari malam hingga subuh. Dari materi keorganisasian, analisis diri, sampai sejarah pergerakan. Mulia? Tentu saja. Tapi untuk maba yang fisiknya belum terbiasa dengan ritme “tidur jam dua pagi, bangun jam empat subuh,” kegiatan ini lebih terasa seperti ujian fisik dan mental.

Uniknya, di UIN itu organisasinya sangat beragam. Mau organisasi ekstra kampus yang kental dengan garis politik dan sejarah pergerakan panjang, ada. Lalu, Lembaga Semi Otonom (LSO) yang fokus pada seni, jurnalistik, atau pencak silat, ada. Mau kelompok studi keislaman yang fokus pada kajian kitab, juga melimpah. Tapi ajaibnya, hampir semuanya punya mekanisme masuk yang relatif sama: penuh tahapan, penuh tradisi, dan wajib punya daya tahan mental yang tinggi.

Tapi, apakah semua “kerumitan” ini worth it?

Setelah melewati rentetan proses yang melelahkan itu—mengisi formulir selebar sajadah, diwawancarai ala seleksi agen rahasia, dan begadang berjemaah saat pengkaderan—sebuah pertanyaan wajar muncul: Kenapa sih mau masuk organisasi di UIN aja rumitnya minta ampun?

Namun, setelah beberapa semester menjalani masa-masa kuliah, saya baru paham satu hal.

Segala kerumitan syarat “nyebur” organisasi itu ternyata punya seleksi alamnya sendiri. Filter yang ketat itu secara tidak langsung menyaring mana mahasiswa yang cuma sekadar ikutan-ikutan, dan mana yang benar-benar siap berkomitmen. Sebab, kehidupan di kampus UIN itu dinamisnya luar biasa. Kalau baru tahap pendaftaran saja sudah menyerah, bagaimana mau bertahan saat harus membagi waktu antara tugas kuliah yang menumpuk, rapat organisasi sampai larut malam, dan persiapan skripsi?

Lewat proses yang agak berbelit itulah, kita akhirnya menemukan teman-teman sefrekuensi. Mereka yang sama-sama pernah merasakan dinginnya lantai pengkaderan dan sama-sama bingung saat menjawab pertanyaan wawancara senior.

Jadi, buat adik-adik mahasiswa baru di UIN yang saat ini mungkin sedang pusing melihat tumpukan formulir pendaftaran organisasi: tenang saja. Jalani saja dulu prosesnya. Anggap saja ini simulasi pertama menghadapi rumitnya birokrasi dunia nyata.

Lagi pula, percaya deh, rasa lelah ngisi formulir dan begadang pengkaderan itu bakal terbayar tuntas saat kamu akhirnya dapat “keluarga baru” di kampus, tempat ngutang gorengan saat dompet tipis, dan teman penderitaan paling setia sampai hari wisuda tiba.

Penulis: Syahrul
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Dekadensi Organisasi Eksternal Mahasiswa di UIN Jakarta

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version