Informasi
ADVERTISEMENT

Ciri-ciri Orang yang Dimabuk Jogja

Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi? kill the DJ

Macet di Jogja dibilang romantis

Saya pernah memberi tahu salah satu teman yang mau liburan akhir tahun di Jogja, kalau tiap libur akhir tahun, pada beberapa titik kerap terjadi kemacetan. Sama halnya dengan Jakarta atau Makassar. Tapi, dia nggak mengindahkan informasi saya.

Soalnya, menurut dia, macet di Kota Istimewa itu beda dari kota-kota lain. Macet di Jogja itu romantis. Ketika mengalami kemacetan, dia malah bisa lebih khusyuk menikmati romantisme setiap sudut kota ini.

Mendengar jawaban tersebut, saya cuma bisa bergumam dalam hati, mana ada macet yang romantis? Kalau beneran romantis mah, nggak ada orang protes tentang kemacetan di Jogja.

Semua tergantung selera

Ketika plesiran di Jogja, teman-teman saya asal Sulawesi biasanya bisa sampai satu minggu di sana. Jujur, saya bingung kenapa mereka begitu betah. Padahal, selera makan orang Sulawesi itu berbanding 180 derajat ketimbang cita rasa beberapa menu makanan khas Jogja.

Umumnya, orang Sulawesi itu suka makan yang pedas dan kecut. Sedangkan, makanan khas Jogja rata-rata identik dengan manis. Pernah saya menanyakan hal ini kepada teman yang kerap liburan di Jogja. Menurut teman saya, soal selera itu dapat dicocok-cocokin saja, lagian indahnya Kota Pelajar bukan dinikmati lewat lidah, tapi lewat mata, lalu turun ke hati. Sepertinya, teman saya ini sudah mengalami “mabuk” Jogja stadium empat.

Terbuai lagu tentang Jogja

Begitu banyak lagu tentang Jogja, dan tak bisa dimungkiri, lagunya bagus-bagus. Saya pikir itu tak begitu mengagetkan, karena Kota Istimewa memang gudangnya seniman. Bikin lagu bagus tentu keahlian mereka, terlebih tentang kota tempat mereka berproses.

Nah, orang yang dimabuk Jogja, pasti mendengarkan lagu tentang kota tersebut on repeat. Nggak tahu kenapa, mereka bisa betah beratus kali mengulang lagu yang sama. Mungkin bagi mereka, saat dengerin lagu-lagu tersebut, mereka terbawa suasana Malioboro, tapi saya nggak tahu juga sih, nggak ikutan soalnya.

Pulang, rindu, dan angkringan

Ini tanda mabuk tingkat akut. Kalau kawanmu sering bikin video ala-ala dengan latar lagunya Adhitia Sofyan, teksnya pakai puisi Jokpin, gambarnya kopi atau Tugu Jogja, yakin, temanmu lagi mabuk parah. Kalau nggak sadar-sadar, coba guyur air.

Begitu sekiranya beberapa ciri orang “dimabuk” Jogja. Saya prediksi, nggak begitu sulit untuk mencari orang seperti ini di sekitar pergaulan kamu. Jika di sekitar kamu nggak ada orang seperti itu, jangan-jangan kamu sendiri yang sudah mabuk.

Penulis: Ahmad Arief Widodo
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Jogja Istimewa: Realitas atau Ilusi?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 17 Maret 2023 oleh .

Ahmad Arief Widodo

Penulis lepas yang fokus membahas kedaerahan, dunia pemerintahan dan ekonomi. Stand like a hero and die bravely.