BJ Habibie: Pionir Teknologi, Pembuka Keran Demokrasi, dan Pemikir Islam Kontemporer

habibie

habibie

Innalilahi wa inna ilaihi raji’un, “Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali” Q.S al-Baqarah (2:156).

Telah berpulang ke haribaan Illahi, Presiden Republik Indonesia ke-3, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng. Eyang Habibie demikian sapaan akrab almarhum, menghembuskan napas terakhirnya pada 11 September 2019 pukul 18.05 di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta.

“Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati” Q.S al-Imran (3:185).

Setiap makhluk Allah pasti akan mengalami kematian, dan makhluk Allah tidak dapat menghindar dari kematian. Kepulangan BJ Habibie ke sang Khaliq menyisakan duka yang amat mendalam bagi Bangsa Indonesia.

BJ Habibie merupakan tokoh bangsa, kecerdasan intelektualnya, kontribusi inteligensinya menjadi salah satu pondasi kokoh dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

Buah pemikirannya menjadikan sosok almarhum sebagai pionir teknologi Indonesia, pembuka keran demokrasi pasca reformasi, menjadi insan yang sholih yang turut dalam percaturan pemikiran Islam kotemporer di Indonesia, dan bukan hanya dirasakan oleh bangsa Indonesia saja, ia mewariskan buah kecerdasannya bahkan pada khalayak global.

Pionir Teknologi

Semasa mahasiswa dulu Habibie merupakan sosok yang pandai dalam menguliti macam-macam pesawat, ia adalah mahasiswa teknik di ITB sebelum melanjutkan studinya tentang kontruksi pesawat di Jerman dan meneruskan jenjang doktoral dengan concern studi yang sama di Jerman.

Sebagai seorang yang lulus dengan predikat summa cumlaude, kecerdasan Habibie dibutuhkan oleh perusahaan bidang kedirgantaraan di Jerman, ia menjadi kepala bidang pengembangan dan penelitian, direktur teknologi, dan penasihat senior di perusahaan itu, sekaligus menjadikan orang Asia pertama yang berhasil menduduki posisi sentral di perusahaan ternama tersebut.

Indonesia sangat membutuhkan kontribusi intelektual Habibie, pada 1974 Soeharto memanggil Habibie ke Indonesia, ia diminta untuk menyiapkan Indonesia menuju era lepas landas. Usia Habibie saat itu masih tergolong muda, belum genap 40 tahun tapi sudah memikul tanggung jawab yang amat besar.

Pada 1978 ia diangkat menjadi Menteri Riset dan Teknologi, jabatan ini ia ampu selama 20 tahun lamanya sampai pada 1998. Satu diantara banyak karya monumentalnya adalah pesawat N-250, proyek besar almarhum ini harus terkubur saat itu karena perjanjian Indonesia dengan IMF pada saat krisis moneter 1998, tapi diusianya yang makin senja dan sampai berpulang ke haribaan, beliau masih semangat dalam mewacanakan proyek besar N-250.

Jadi, mafhum kita mendengar bahwa BJ Habibie disebut sebagai bapak Teknologi Indonesia. Predikat ini sejalan dengan kiprah almarhum dari semasa hidupnya yang mengabdikan diri dalam dunia kedirgantaraan Indonesia.

Pembuka Keran Demokrasi

Dari riwayat lama menjabat sebagai Presiden RI sampai sekarang, BJ Habibie merupakan satu-satunya yang tersingkat, laporan pertanggung jawabannya ditolak oleh MPR. Tapi, selama dalam masa jabatannya beliau telah membuka keran demokrasi bangsa ini.

Jabatan Presiden di masa transisi bukanlah hal yang mudah, instabilitas politik, ekonomi, hak asasi dan sosial yang terjadi saat reformasi adalah tantangan Habibie saat itu.

Kemampuan intelegensinya dibutuhkan, walau tidak maksimal tapi setidaknya almarhum menjawabnya dengan capaian yang signifikan.

Kebebasan pers, pencabutan regulasi yang menghambat pada jalannya demokrasi, undang-undang pemilu dan pelaksanaan pemilu demokratis pasca reformasi.

Di eranya, ruang publik tidak lagi terkungkung, aspirasi masyarakat bisa tersampaikan dijalan, kebebasan pers dibuka selebar-lebarnya, penyelanggaran pemilu dibuat secara demokratis, problematika hak asasi diberikan porsi untuk diskusi, ini adalah warisan dan pondasi dasar semasa beliau menjabat sebagai Presiden RI.

Pemikir Islam Kontemporer

Selain bapak teknologi dan meletakan dasar bagi demokrasi di negeri ini. Habibie adalah insan yang sholih. Almarhum merupakan pemikir Islam kontemporer di Indonesia. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Bank Syariah, dan Republika adalah hasil dari pemikiran keIslamannya.

Ia menilai bahwa banyak Muslim Indonesia yang terdidik dan hebat, perkembangan regional dan global yang terjadi dan istilah ‘kebangkitan Islam’ membuat paranoid bagi mereka yang menghegemoni selama ini.

ICMI lahir atas kondisi prihatin terharadap polarisasi di kalangan umat dan hanya berjuang secara parsial. Habibie merupakan salah satu inisiator dan pemimpin pertama ICMI yang terpilih secara aklamasi.

Pada saat itu keinginan umat ingin keluar dan terhindar dari riba sangatlah besar, MUI membawa masalah ini dalam munasnya, Habibie sebagai Menristek dan Pimpinan ICMI punya andil dalam melobi Soeharto agar usulan Bank Syariah dapat disetujui. Berkat usaha lobi Habibie, Soeharto menyetujui pendirian Bank Muamalat sebagai bank syariah pertama sekaligus menjadi embrio bagi lahirnya bank-bank berbasis syariah di Indonesia.

Selain ICMI dan Bank Muamalat, Habibie turut berperan besar dalam penerbitan media cetak Republika. Media cetak yang ia wacanakan bukan hanya sekedar surat kabar semata tapi menjadi media aspirasi umat Islam. Sebab rezim Soeharto kala itu selalu tendensius terhadap umat dan Habibie mendorong lahirnya Republika sebagi media yang akan mengcounter narasi yang dibuat oleh rezim. Hingga saat ini Republika menjadi salah satu referensi bacaan umat dan menjadi media cetak ternama.

Kabar meninggalnya Habibie menjadikan segenap anak bangsa berduka, Pemerintah mengintruksikan Indonesia dalam masa berkabung selama 3 hari, bangsa ini kehilangan salah satu pemikir besarnya. Pemikir yang meninggalkan sejumlah warisan pemikiran dan gagasan besar, seorang pionir teknologi, pembuka keran demokrasi, sekaligus pemikir Islam kekinian.
Ilmu adalah cahaya, menerangi setiap sudut, membawa dari kegelapan.

Mautul ‘alim mautul alam meninggalnya orang alim (berilmu) meninggalnya alam. Wafatnya Habibie membawa serta ilmunya. Sulit untuk lahir Habibie muda yang keilmuannya setara dengannya, tapi tidak, belum tentu dan kita jangan pesimistis.

Telah gugur pahlawanku

Tunai sudah janji bakti

Gugur satu tumbuh seribu. (*)

BACA JUGA Ketika Bung Karno Bangkit dari Kubur lalu Menangis Melihat Bangsanya atau tulisan Faiz Romzi Ahmad lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version