Betapa Mulia dan Tabah Kaum ‘AoT’ Anime Only

spoiler aot MAPPA terpesona Mengulik Persamaan Menkes Budi Gunadi dan Reiner Braun dari Attack on Titan  terminal mojok.co

Mengulik Persamaan Menkes Budi Gunadi dan Reiner Braun dari Attack on Titan  terminal mojok.co

Tak bisa dimungkiri, serial Attack on Titan semakin digandrungi lebih banyak orang semenjak rilis dalam versi anime dengan tajuk “The Final Seasons”. Tentu ini kabar baik dan perlu disyukuri, karena semakin banyak orang yang terkontaminasi tontonan berkualitas.

Namun, di antara banyaknya penonton itu, telah terbagi jadi dua kubu. Pertama, kaum terdepan karena mengikuti manganya juga. Kedua, kaum anime only, yang mengikuti versi anime saja. Yang di antaranya memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.

Nah, dalam gegap gempita AoT di mana pun, terutama di media sosial, kaum pertama itu banyak yang menyebalkan. Kadang tanpa diminta, mereka memaparkan spoiler dan merasa superior sebab lebih mengetahui isi cerita yang akan tayang di anime. Ya kaya abang jago gitu, deh. Malesin. Maka, kaum yang kedua, yaitu kaum anime only, hanya bisa tabah menyaksikan senioritas tersebut. Sesuatu yang nggak bisa dimiliki setiap orang, dan hanya insan-insan terpilihlah yang sanggup menjalankan tirakat keras ini.

Nggak percaya? Nih saya kasih studi kasusnya.

Pertama, mereka adalah korban spoiler struktural, sebab bocoran-bocoran dari manga bertebaran di banyak platform. Seperti kemiskinan di Indonesia, spoiler pun sulit dihindari. Dan, untuk bisa bertahan dalam keadaan itu, tentu butuh rohani yang jernih serta enggan tergesa-gesa khas kelabilan remaja.

Dalam konteks AoT, tentu mereka lebih tabah lagi sebab—apalagi sekarang—serial ini seperti menjadi perbincangan siapa saja, selalu ramai. Dan karena itu, spoiler makin bertebaran tanpa bisa difilter lagi. Pokoknya, nggak sengaja ngeklik konten yang mengandung spoiler sudah menjadi kesialan sehari-hari mereka.

Bukan apa nih, tapi mereka yang kaum manga apa kuat menghadapi semua itu? Mustahil deh kayaknya. Sebab, saya yakin pembaca manganya kenal AoT dari anime dulu, namun karena jeda per musim lumayan lama, maka mereka memutuskan mengintip manganya dan malah keterusan. Iya, kan? Ngaku saja, deh.

Kedua, meski menjadi korban spoiler, mereka tetap bisa konsisten untuk menahan rasa penasarannya. Mereka tak mau bernafsu karena mengamini bahwa eksekusi dalam bentuk anime akan lebih menggairahkan, apalagi di season terakhir ini digarap oleh MAPPA Studio yang keren itu.

Padahal jika mau membayangkan, ini adalah tirakat yang sangat sulit. Misal pada awal bulan kemarin saat Zeke Yeager menjadi trending di Twitter karena manga rilisan terbaru, sebagai fansnya bagaimana nggak penasaran coba? Tapi, untungnya ya tadi, mereka punya ketabahan tak tertandingi sehingga tak tergoda dan ikut heboh.

Selain itu, ibarat manga adalah tempe (bahan dasar), maka animenya adalah mendoan, bentuk sempurna dari pengolahannya. Jadi, ketabahan untuk makan dalam bentuk yang lebih nikmat itu sangat masuk akal. Justru aneh jika menuruti nafsu dan “memakan” mentah-mentah manga sebelum jadi bentuk anime.

Ketiga, berdasarkan dua hal di atas maka kaum anime only adalah rombongan yang tertinggal. Dalam konteks AoT, forum pembahasan kisah di grup Facebook atau menfess Twitter kebanyakan diambil dari bagian manga yang belum tayang di anime. Sebagai fans, siapa pun pasti ingin ikutan dalam pembahasan, tapi sungguh malang mereka hanya bisa tolah-toleh karena ketinggalan banyak hal.

Meski demikian, mereka adalah kaum yang beruntung. Sebab, layaknya makmum masbuk atau jamaah yang ketinggalan rakaat dalam salat berjamaah, mereka (konon dan semoga) tetaplah akan mendapat pahala yang sama. Betapa hoki, ya. Wqwqwq.

Pengibaratan itu tentu bukan tanpa alasan, dan malah suatu kebetulan yang hebat. Begini, kita sebagai fans AoT sama-sama tahu bahwa rampungnya manga dan anime dijadwalkan berbarengan pada April. Jadi, meski dalam hal start dan seiring perjalanannya teringgal, mereka tetap akan tiba di garis finish dalam waktu yang sama. Ha, apa nggak beruntung banget tuh? Nggak harus buru-ngikutin manga, eh malah animenya nyampe bareng.

Yah, meskipun tetap saja sih mereka kerap dianggap kelompok yang, nggak terdepan, terluar, dan tertinggal. Tapi, untuk apalah menjadi yang paling dulu mengetahui sesuatu jika tidak memiliki ketabahan dan kemuliaan dalam kehidupan. Bukan begitu, Jamaah Mojokiyah?

BACA JUGA Studio MAPPA Bungkam Bacot Netizen dengan Eksekusi Ciamik Episode 7 AoT atau tulisan Fadlir Nyarmi Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version