Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Bersyukurlah Jika Masih Ada Sungai Keramat di Tempat Kalian

Bayu Kharisma Putra oleh Bayu Kharisma Putra
30 Mei 2023
A A
Bersyukurlah Jika Masih Ada Sungai Keramat di Tempat Kalian

Bersyukurlah Jika Masih Ada Sungai Keramat di Tempat Kalian (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Alkisah di masa sebelum listrik masuk desa saya, ada banyak orang yang terkena penyakit aneh. Ada sopir truk yang perutnya membuncit dan sakit bukan main. Ada juga yang gatal-gatal dan tak kunjung sembuh. Konon, itu semua disebabkan oleh sungai di desa kami yang keramat. Di masa itu, tak boleh ada yang buang hajat si sungai yang lebarnya kurang dari dua meter tersebut. Apalagi berani berbuat maksiat di sungai keramat tersebut, sudah pasti akan kena ganjaran yang gawat.

Namun, lambat laun orang-orang mulai berani berbuat seenaknya. Di masa saya sekarang, air buangan kamar mandi berani dialirkan ke sungai kecil tersebut. Jika dahulu ia ditakuti, pun menjadi sumber air bersih warga, kini ia hanya menjadi sungai kecil dan kotor. Pemandian umum di kampung saya juga bernasib sama. Kotor, dan banyak dari mereka yang sudah hancur lebur tinggal puing-puing. Memang, sejak dua puluhan tahun lalu, sungai dan pemandian umum tersebut sudah ditinggalkan.

Menurut cerita orang-orang tua, sungai kecil itu pernah memiliki kejernihan laksana air mineral di kala musim panas. Ikan juga masih mudah dijumpai pun mudah ditangkap saking banyaknya. Kini, orang-orang tak segan-segan menggunakan listrik dan racun untuk menangkap ikan. Sudah pun ikannya sedikit, sungai makin tercemar. Keadaan itu diperparah dengan sampah rumah tangga yang ikut menghiasi. Mulai dari plastik, hingga kain dan kaca. Maka dari itu, kekeramatan sungai itu sudah semestinya dikembalikan seperti semula.

Sungai keramat yang nggak kerumat

Masalah ini tak hanya terjadi di kampung saya saja. Kita semua tahu, keadaan sungai-sungai di banyak tempat juga memprihatinkan. Tercemar, rusak, dan sudah pasti bikin tak sedap pemandangan. Penyebabnya pun beragam, meski kita semua sudah seharusnya paham jika manusia lah biang keladinya. Banyak yang sadar dan menjadi agen perubahan yang nyata. Membersihkan sungai dan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai adalah jalan keluar yang mereka pilih. Meski tentu saja, gempuran pencemaran oleh raksasa-raksasa masih belum bisa kita hentikan.

Namun, seandainya bisa, kita perlu gerakan mengkeramatkan sungai. Bisa dinamai 1000 sungai keramat atau apalah, pemerintah pintar kalau hal begini. Ya, siapa tahu nanti para pencemar ini kena tulah dan pada akhirnya insyaf. Memang, tak banyak yang percaya dengan konsekuensi kerusakan sungai bagi masa depan manusia dan bumi. Mungkin, jika mereka kena karma secara instan, pencemaran sungai bisa berkurang dengan signifikan.

Mungkin zaman memang sudah berubah. Para penunggu yang dahulu dikenal sakti tersebut sudah pada sepuh. Lalu para penerusnya sudah tak mau mengurusi dan ikut berkontribusi menjaga lingkungan. Bisa jadi regenerasi mereka terhambat karena modernisasi. Atau kemungkinan yang paling masuk akal adalah, mereka memang tak secakap itu.

Demit salah fokus

Bayangkan, mereka lebih senang mengurusi orang yang melanggar warna baju, atau orang yang sekadar kebelet dan sudah tak tahan lagi. Sementara para mafia rakus itu justru mereka biarkan merusak seenaknya sendiri. Kalau kemampuan mereka sekadar mengurusi outfit dan mempermasalahkan limbah organik yang mudah terurai tersebut, kita memang tak bisa mengandalkan mereka lagi.

Kemungkinan besar mereka memang tak mengerti soal kapitalisme. Atau jangan-jangan, kemampuan manusia untuk merusak memang sudah tak bisa ditandingi oleh para makhluk astral. Apa benar kelakuan manusia justru lebih parah dari kelakuan iblis?

Baca Juga:

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

Masalah yang Menyertai Peternakan Babi di Boyolali: Limbah yang Tidak Diolah Maksimal, serta Masalah Lain yang Sama Peliknya

Oleh karena itu, menyadarkan manusianya yang paling penting. Walau itu juga bukan pekerjaan mudah.

Yang pasti, jika masih ada sungai bersih dan lestari karena dianggap keramat, kita mesti bersyukur. Mengingat menjaga dan mengembalikan kebersihan sungai sudah tak mudah lagi, segala cara yang terbukti berhasil harus tetap kita dukung. Jaya penunggunya, jaya sungainya, jaya hewannya, jaya manusianya! Jaya, jaya, jaya!

Penulis: Bayu Kharisma Putra
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sumur Jalatunda: Sumur Keramat di Dieng yang Kabulkan Keinginan

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 30 Mei 2023 oleh

Tags: limbahpencemaran lingkungansungai keramat
Bayu Kharisma Putra

Bayu Kharisma Putra

Hanya salah satu dari jutaan manusia yang kebetulan ditakdirkan lahir dan tumbuh di bentangan khatulistiwa ini. Masih setia memegang identitas sebagai Warga Negara Indonesia, menjalani hari-hari dengan segala dinamika.

ArtikelTerkait

polusi

Orang yang Naik Motor Berhak Protes Soal Polusi

27 Juni 2019
Batik Terkenal, Lingkungan Tercemar: Kisah Warga Pekalongan yang Mulai Berdamai dengan Pencemaran Lingkungan hari batik

Batik Terkenal, Lingkungan Tercemar: Kisah Warga Pekalongan yang Mulai Berdamai dengan Pencemaran Lingkungan

31 Juli 2023
Ecobrick, Memberi Kesempatan Kedua pada Sampah Plastik diet plastik

Ecobrick, Memberi Kesempatan Kedua pada Sampah Plastik

3 Juli 2022
Batik Terkenal, Lingkungan Tercemar: Kisah Warga Pekalongan yang Mulai Berdamai dengan Pencemaran Lingkungan hari batik

Yang Terlupakan dari Peringatan Hari Batik di Kota Pekalongan

3 Oktober 2023
Piyungan Isinya CEO Pakai Sandal Jepit Bawa Karung Rongsokan (Unsplash)

Saya Belajar Tentang Kebahagiaan di Piyungan, Tempat Para CEO Pakai Sandal Jepit dan Pegang Karung Rongsokan

7 Februari 2026
5 Alasan Punya Rumah Dekat Pabrik Itu Nggak Enak

5 Alasan Punya Rumah Dekat Pabrik Itu Nggak Enak

5 Juli 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet Mojok.co

Suzuki Splash, City Car Bakoh yang Cocok Disiksa di Jalanan Macet

14 Maret 2026
Suzuki Satria Pro Aib Terbesar Suzuki yang Tak Perlu Lahir (Wikimedia Commons)

Suzuki Satria Pro: Aib Terbesar Suzuki yang Seharusnya Tak Perlu Lahir

18 Maret 2026
Panduan Bertahan Hidup Warga Lokal Jogja agar Tetap Waras dari Invasi 7 Juta Wisatawan

Jogja Waktu Lebaran Tak Pernah Sepi, Ia Disesaki oleh Orang yang Pulang Kampung, Perantau yang Lari, dan Wisatawan Bermodal THR Tebal

13 Maret 2026
Ironi Fresh Graduate Saat Lebaran: Gaji Masih di Bawah UMR, tapi Sudah Tidak Kebagian THR Mojok.co

Lebaran Membosankan Nggak Ada Hubungannya Sama Menjadi Dewasa, Itu Artinya Kamu Lagi Mati Rasa Saja

16 Maret 2026
Terminal Ir Soekarno Klaten Terminal Terbaik di Jawa Tengah

Terminal Ir Soekarno Klaten: Terminal Terbaik di Jawa Tengah yang Menjadi Tuan Rumah Bagi Siapa Saja yang Ingin Pulang ke Rumah

18 Maret 2026
Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi (Unsplash)

Di Desa, Lari Pagi Sedikit Saja Langsung Dikira Mau Daftar Polisi

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Mahasiswa UGM Rela Kejar Mudik di Hari Lebaran demi Kumpul Keluarga, Lewatkan “War” Tiket karena Jadwal Kuliah
  • Lebaran di Keluarga Ibu Lebih Seru Dibanding Keluarga Ayah yang Jaim dan Kaku
  • Pekerja Jakarta, Rumah di Bekasi: Dituntut Kerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik
  • Program Mudik Gratis Mengobati Rindu Para Perantau yang Merasa “Kalah” dengan Dompet, Kerja Bagai Kuda tapi Nggak Kaya-kaya
  • Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi
  • Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.