Belajar dari Vincenzo Cassano, Kita Harus Punya Hal-hal Ini untuk Tumbangkan Oligarki

Belajar dari Vincenzo Cassano, Kita Harus Punya Hal-hal Ini untuk Tumbangkan Oligarki terminal mojok.co

Belajar dari Vincenzo Cassano, Kita Harus Punya Hal-hal Ini untuk Tumbangkan Oligarki terminal mojok.co

Perjuangan masyarakat sipil Negeri Anu melawan oligarki sudah berumur panjang. Namun, alih-alih berhasil menggoyahkan komplotan elite penguasa, makin hari kejahatan justru makin merajalela. Simak saja apa yang terjadi. Ada banyak kasus pembunuhan aktivis beberapa dekade silam yang terkatung-katung meski aksi damai tuntutannya tak pernah absen dilangsungkan. Di era kiwari, cerita senada masih terdengar. Baru-baru ini sejumlah aktivis konflik agraria digebuk aparat. Patgulipat pejabat dan para cukong lewat Omnibus Law pun tak mempan diprotes massa dari segala penjuru mata angin. Jangan tanya lagi soal korupsi yang bahkan memanfaatkan situasi pagebluk.

Kejahatan yang beranak pinak dan tak pernah tuntas diungkap itu seolah menunjukkan bahwa kekuatan penguasa lalim mustahil dilawan.

Namun, sesungguhnya kondisi yang naudzubillah runyam itu tidak berbeda jauh dengan situasi di negeri kimchi tempat Park Joo-Hyeong alias Vincenzo Cassano dilahirkan. Kongkalikong perusahaan culas, penegak hukum korup, dan penguasa tamak, ramai-ramai menindas rakyat kecil: menggusur tempat tinggal mereka hingga menghabisi nyawa-nyawa tak bersalah dengan tangan dingin.

Kedatangan Vincenzo Cassano, anak yatim yang diadopsi dan menjelma jadi pengacara alias consigliere mafia Italia ke tanah kelahirannya itu nyatanya mampu membalikkan keadaan. Ia menumbangkan oligarki hanya dalam beberapa saat, menepis pesimisme yang selama ini menggelayuti.

Sang consigliere mengampanyekan paradigma baru bahwa kejahatan hanya bisa dikalahkan oleh kejahatan yang lebih kuat. Perjuangan menumbangkan oligarki tidak bisa mengandalkan hukum dan aksi damai. Sebab, hukum adalah omong kosong. Equality before the lawhanyalah ilusi.

Keberhasilan Vincenzo Cassano bisa menjadi uswatun hasanah bagi rakyat Negeri Anu untuk mengganti strategi perjuangannya agar lebih efektif dan efisien. Dari abang consigliere yang brutal tapi manisnya bagai gula Jawa dikasih nyawa itu, bisa dirinci hal-hal yang perlu dimiliki untuk melawan rezim nan zalim.

Pertama, data intelijen. Di era 4.0 data adalah segalanya, tak terkecuali dalam upaya melawan penindasan. Data intelijen merupakan senjata nomor wahid yang bisa digunakan untuk menjegal para penguasa. Lihatlah bagaimana Vincenzo menggunakan File Guillotine yang berisi catatan hitam para elite untuk mencari titik kelemahan mereka.

Ada kalanya berkas itu dibongkar untuk menciptakan tekanan sosial sehingga membikin gerombolan penguasa itu kalang kabut. Di situasi yang lain, file itu digunakan untuk mengurai jejaring oligarki dan menemukan orang-orang yang terlibat di balik suatu kasus.

Bagaimana data semacam itu didapatkan? Hmmm, ini pertanyaan cukup sulit mengingat Vincenzo menemukannya secara “tak sengaja”. Meski demikian, bekerja sama dengan intelijen sebagaimana Vincenzo dan An Gi-Seok bisa jadi opsi untuk dicontoh. Atau, berdayakan hacker level dewa seperti Seo Mi-Ri untuk menemukan data-data krusial.

Kedua, kecerdikan siasat. Data sehebat apa pun tak akan berguna tanpa siasat yang jitu. Vincenzo Cassano selalu punya rencana beyond imagination untuk menjebak lawan. Perhatikan bagaimana ia menjadi gay demi merayu anak direktur Bank Shinkwang untuk membatalkan perjanjian investasi dengan perusahaan culas Babel sekaligus membongkar skandal pelecehan seksual. Simak juga penyamarannya jadi dukun palsu untuk menipu media partisan Daechang Daily. Kemampuan berstrategi seperti ini hanya bisa didapatkan lewat kreativitas yang tinggi dan sekolah kehidupan mafia yang keras.

Ketiga, skill bela diri tak tertandingi. Pertama-tama kita harus membayangkan bahwa penguasa zalim itu mempekerjakan gerombolan preman untuk menjalankan pekerjaan-pekerjaan kotor. Saat berhadapan dengan mereka yang tak segan-segan menembak tempurung kepala itu, kecakapan fisik amat diperlukan.

Masyarakat sipil Negeri Anu tak cukup hanya bisa menyelamatkan diri dari gas air mata atau berkelit dari tangkapan aparat saat demonstrasi. Belajar dari Vincenzo Cassano, paling tidak satu orang harus bisa melibas keroyokan belasan preman sekaligus. Bahkan dengan tangan kosong sekalipun. Terdengar tak masuk akal tapi memang begitulah seharusnya.

Lihatlah bagaimana wajah Vincenzo tetap mulus tanpa codet dan tak pernah sekalipun pegal linu meski harus menghajar puluhan preman. Itu adalah hasil exercise yang nggak kaleng-kaleng.

Keempat, sokongan dana. Modal finansial amat dibutuhkan untuk keperluan operasional memberi pelajaran pada oligarki. Dana itu di antaranya diperlukan untuk memperoleh senjata api demi menebar ancaman sekaligus melindungi diri. Budget yang tidak sedikit juga dibutuhkan untuk kabur sewaktu-waktu diburu aparat.

Ingat Vincenzo adalah borjuis Italia dan punya emas segudang sebagai modal melicinkan aksinya. Meski sudah membunuh banyak penjahat, ia tetap bisa hidup aman dengan kabur ke pulau yang dibelinya di negeri antah berantah. Perjuangan ini memang mahal Bung, tapi yakinlah, setimpal dengan hasil yang didapatkan.

Kelima, persatuan dan keberanian. Poin terakhir ini terdengar paling masuk akal. Manifestasi seruan, “Rakyat bersatu melawan penindasan tak bisa dikalahkan,”. Kekompakan warga Plaza Geumga menolak penggusuran adalah contohnya. Mereka mengerahkan segala daya upaya dan menghalau segala bentuk ketakutan untuk menghadapi terkaman penguasa.

Sayangnya persatuan dan keberanian saja tak bisa berhasil tanpa keempat elemen yang lain. Faktanya, sebelum Vincenzo datang sebagai juru selamat, komunitas warga itu selalu kalah dan kalah.

Nah, sudah cukup jelas kan kiat-kiat efektif dan efisien menggulingkan oligarki? Jadi gimana, siap bertarung? Udah punya data sekelas File Giullotine untuk membidik penguasa tamak? Koneksi intelijen? Udah bisa merancang siasat yang outstandingnan dramatis untuk memerangkap musuh rakyat itu? Siap membekuk selusin preman kurang dari lima menit? Udah punya emas berapa ton?

Nggak ada? Apa? Semua itu cuma ada di drama? Jadi punyanya apa, dong? Poin terakhir aja? Yah kalau gitu, silakan turun ke jalan dan ribut-ribut di media sosial aja kayak biasanya.

Sumber Gambar: YouTube The Swoon

BACA JUGA Begini Jadinya jika Drama Korea ‘Vincenzo’ Punya Latar Cerita Di Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
Exit mobile version