Banyak analis geopolitik menyebut Selat Hormuz sebagai: The most important oil chokepoint in the world.
Banyak orang mungkin belum pernah mendengar nama Selat Hormuz sebelum perang Iran vs Amerika. Ia tidak seterkenal Terusan Suez atau Selat Malaka. Bahkan di peta dunia, selat ini tampak hanya seperti celah sempit di antara daratan Iran di utara dan Oman di selatan. Namun di balik ukurannya yang kecil itu, Selat Hormuz sebenarnya adalah salah satu jalur laut paling penting dalam sejarah ekonomi dunia.
Sejak berabad-abad lalu, selat ini telah menjadi pintu keluar utama Teluk Persia menuju Samudra Hindia. Semua kapal yang datang dari wilayah pedalaman Timur Tengah—Persia, Mesopotamia, hingga kawasan Arab—harus melewati selat ini untuk mencapai laut lepas. Karena itulah Selat Hormuz sejak lama menjadi simpul perdagangan yang mempertemukan berbagai peradaban.
Pada abad pertengahan, sebuah kerajaan maritim yang kaya bahkan berdiri di kawasan ini: Kerajaan Hormuz. Pelabuhannya menjadi tempat pertemuan para pedagang dari Persia, India, Afrika Timur, dan dunia Arab. Kota pelabuhan itu dikenal sebagai salah satu pasar internasional paling ramai pada zamannya. Barang-barang dari berbagai penjuru dunia dipertukarkan di sana sebelum dikirim ke pasar yang lebih jauh.
Yang menarik, Nusantara pun pernah menjadi bagian dari jaringan perdagangan yang melewati Selat Hormuz. Berabad-abad sebelum bangsa Eropa datang ke Asia Tenggara, rempah-rempah dari kepulauan Indonesia sudah berlayar melintasi Samudra Hindia. Cengkeh dari Maluku, pala dari Banda, dan lada dari Sumatra dibawa oleh pedagang Asia menuju pelabuhan-pelabuhan besar di India. Dari sana, kapal-kapal Arab dan Persia mengangkutnya menuju Teluk Persia melalui Selat Hormuz.
Setelah melewati selat itu, rempah-rempah kemudian memasuki kota-kota perdagangan di Timur Tengah seperti Basra atau Baghdad. Baru kemudian barang-barang tersebut dibawa lagi oleh pedagang Mediterania menuju pasar Eropa. Dengan kata lain, jauh sebelum kapal-kapal Eropa mencapai Nusantara, rempah dari kepulauan ini sudah menempuh perjalanan panjang yang salah satu gerbang pentingnya adalah Selat Hormuz.
Peran selat ini tidak berhenti pada era perdagangan rempah. Dalam dunia modern, komoditas yang melewati jalur ini berubah—dari rempah menjadi minyak. Negara-negara di sekitar Teluk Persia seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab adalah produsen minyak terbesar dunia. Hampir seluruh ekspor minyak dari kawasan tersebut harus keluar melalui Selat Hormuz sebelum menuju pasar global.
Diperkirakan sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati selat sempit ini setiap hari. Artinya, satu dari lima barel minyak yang digunakan manusia di dunia pernah melintasi jalur tersebut. Sebagian besar bahkan menuju negara-negara Asia yang sangat bergantung pada energi dari Timur Tengah.
Karena itu, apa pun yang terjadi di Selat Hormuz hampir selalu berdampak pada ekonomi global. Ketika ketegangan politik meningkat di kawasan itu, pasar minyak dunia segera bereaksi. Harga energi bisa naik hanya karena ancaman gangguan terhadap jalur pelayaran di sana.
Pertanyaan yang sering muncul adalah: bagaimana jika suatu hari Selat Hormuz benar-benar ditutup? Iran, yang memiliki garis pantai panjang di sisi utara selat, beberapa kali menyatakan bahwa mereka bisa menutup jalur tersebut jika terjadi konflik besar.
Jika skenario itu benar-benar terjadi, dampaknya tidak akan kecil. Sebagian besar pasokan minyak dari Teluk Persia akan terhambat. Harga minyak kemungkinan melonjak tajam. Biaya transportasi dan produksi meningkat. Inflasi bisa menjalar ke berbagai negara karena energi adalah bahan bakar hampir semua aktivitas ekonomi.
Dalam skenario paling ekstrem, penutupan Selat Hormuz tidak hanya menjadi krisis energi, tetapi juga krisis ekonomi global.
Itulah sebabnya, meskipun namanya jarang terdengar dalam percakapan sehari-hari, Selat Hormuz sebenarnya memainkan peran yang sangat besar dalam kehidupan dunia modern. Selat kecil itu telah menjadi jalur perdagangan sejak zaman rempah hingga era minyak. Ia adalah penghubung antara peradaban, sekaligus penentu stabilitas ekonomi global.
Di peta dunia ia mungkin tampak kecil. Tetapi dalam sejarah perdagangan dan geopolitik, Selat Hormuz adalah salah satu tempat di mana denyut ekonomi dunia terasa paling kuat.
