Belakangan lini masa media sosial riuh oleh berbagai keluhan pedas mengenai harga tiket kereta api. Harga tiket dinilai terus melonjak tinggi dan tidak lagi ramah di kantong penumpang.
Banyak kawan saya akhirnya memilih berpaling ke bus. Menurut mereka dengan harga tiket yang lebih murah daripada kereta, fasilitas yang tersedia sudah sangat nyaman. Ada kursi rebahan hingga servis makan gratis.
Saya tentu memahami pilihan logis tersebut. Namun, bagi saya pribadi, kereta api tetap menyimpan daya magis tersendiri serta ketepatan waktu mutlak yang mustahil bisa digantikan oleh moda transportasi jalan raya manapun.
Ketepatan waktu kereta api bikin hati tenang
Ketepatan waktu adalah alasan utama mengapa saya merasa sulit untuk berpaling dari jalur rel baja. Di tengah ketidakpastian zaman dan dinamika lalu lintas darat yang sering kali ajaib di luar nalar, kereta api konsisten menawarkan kepastian jadwal yang hampir mutlak.
Saya tidak perlu lagi menghabiskan sisa energi mental hanya untuk menebak-nebak jam berapa gerbong besi ini akan merapat di stasiun tujuan. Sebab, durasi perjalanan sudah terpampang nyata tanpa kompromi.
Kepastian semacam ini memberikan ketenangan batin yang mustahil bisa dibeli saat memilih moda transportasi berbasis aspal. Tidak ada drama menyebalkan berupa kejebakan macet berjam-jam di pintu tol atau jantung yang berdegup kencang akibat aksi ugal-ugalan pengemudi bus yang saling salip di jalur sempit.
Bagi saya pribadi, presisi waktu perjalanan adalah kemewahan tertinggi yang membuat harga tiket kereta sepantasnya untuk dihargai.
Pemandangan tak melulu jalan tol
Menumpang kereta api memberikan saya pemanadngan yang mustahil terjangkau oleh bus. Sepanjang perjalanan, mata saya dimanjakan oleh pemandangan sawah terasering yang menghijau, lembah subur yang membelah perbukitan berkabut, hingga garis pantai eksotis yang berbisik tepat di samping jendela kaca.
Lanskap semacam ini terasa jauh lebih hidup dan bernyawa ketimbang monotonnya deretan dinding pembatas jalan tol. Menatap keluar jendela kereta menyajikan pengalaman sinematik alami yang ampuh meredakan kepenatan kepala akibat rutinitas kota.
Ada harmoni yang pas antara laju roda besi dan pergerakan panorama di luar sana, seolah alam sedang menyuguhkan pertunjukan teater pribadi khusus untuk penumpang.
Bus mungkin unggul dalam urusan lelapnya tidur, tetapi kereta api jelas juaranya dalam hal merawat kewarasan visual lewat suguhan pemandangan bentang alam yang tidak pernah membosankan untuk disimak berjam-jam lamanya.
Kebebasan bergerak dan ruang bernapas
Selain urusan jadwal dan pemandangan, kereta api memiliki keunggulan mutlak yang paling saya dambakan selama perjalanan lintas provinsi. Salah satunya, kebebasan merentangkan kaki tanpa batas rasa canggung. Saya tidak harus duduk terpaku bagaikan patung di kursi sempit selama belasan jam penuh karena takut mengusik kenyamanan penumpang lain di sebelah.
Sensasi menyeruput segelas kopi hangat sambil berdiri santai menikmati lanskap yang meluncur deras di balik kaca gerbong restorasi adalah ritual sakral pengusir bosan. Kebebasan ruang gerak ini menciptakan atmosfer perjalanan yang begitu manusiawi, memastikan fisik tidak babak belur begitu tiba di stasiun tujuan. Di atas jalur rel, mobilitas jarak jauh berubah wujud menjadi ruang jeda yang menyenangkan, bukan sekadar siksaan duduk diam di dalam kurungan besi.
Pilihan moda transportasi pada akhirnya memang berpulang pada prioritas dan kenyamanan masing-masing individu. Orang lain boleh saja mengagungkan kelegaan bus beserta bonus makan malamnya. Namun, bagi saya pribadi, kombinasi sempurna antara kepastian waktu, keindahan lanskap, dan ruang gerak yang bebas. Tiket kereta api memang mahal, tapi sangat layak untuk diperjuangkan.
Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Saya beralih naik bus karena harga tiket kereta api semakin mencekik.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
