Bayangkan kalau kamu lagi nyetir sendirian di tengah malam. Di kanan dan kiri cuma ada barisan pohon jati yang kokoh dan menjulang tinggi. Tak ada satu pun cahaya selain cahaya kendaraan yang berlalu lalang, gelap gulita. Tiba-tiba, kabut tebal turun dan lampu sorot mobil kita menangkap sesosok bayangan di pinggir jalan. Selamat datang di Alas Mantingan Sragen.
Alas Mantingan adalah kawasan hutan jati lebat yang membelah jalur utama transportasi darat antara Mantingan dan Sragen. Juga menjadi perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah. Buat kamu yang suka traveling darat lewat jalur tengah Jawa, kawasan ini pasti sudah tidak asing lagi karena jalurnya yang menantang dan dipenuhi cerita urban legend yang bikin bulu kuduk berdiri.
Alas Mantingan Sragen sebenarnya punya pemandangan yang indah dengan deretan pohon jati besar di kanan-kiri jalan. Namun, jalurnya tergolong cukup ekstrem dengan tikungan tajam dan kontur naik-turun. Begitu malam tiba, suasananya langsung berubah drastis. Sepi, gelap, dan minim penerangan adalah tema utamanya, sehingga butuh fokus tingkat tinggi buat para pengendara.
Oleh karena menjadi jalur darat utama yang menghubungkan antarprovinsi, Alas Mantingan jadi rute yang selalu padat dan riuh oleh kendaraan saat musim mudik lebaran tiba. Namun, begitu riuh pemudik itu reda dan malam mulai mengambil alih, Alas Mantingan kembali ke wujud aslinya: labirin hijau yang sunyi, dingin, dan dipenuhi misteri. Ditambah lagi alas mantingan menjadi kawasan hutan lindung yang bikin penerangan tak menjamah hutan ini.
Di sinilah letak keunikan Alas Mantingan. Jalur aspal yang membelah hutan jati di Ngawi ini bukan sekadar jalan biasa. Ia adalah titik temu di mana mitos-mitos kuno dari masa lalu berpadu dengan realitas maut yang nyata di jalan raya.
Mari kita kupas satu per satu, dimulai dari rahasia yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan jati sejak ratusan tahun lalu.
Kisah pengemudi tersesat di Alas Mantingan Sragen
Salah satu cerita yang paling sering dibahas adalah fenomena kendaraan besar yang mendadak tersesat di tengah hutan tanpa jejak. Kisah yang beredar menyebutkan pengemudi merasa sedang melewati jalan raya yang mulus, lebar, dan ramai. Namun saat tersadar biasanya saat fajar tiba kendaraan mereka sudah berada di tengah rimbunnya pohon jati yang jalannya sempit, berlubang, bahkan tidak logis untuk dilalui kendaraan berukuran besar tanpa merusak pepohonan di sekitarnya.
Warga meyakini sang sopir telah “dikecoh” oleh ilusi mata yang diciptakan penghuni gaib Alas Mantingan.
Banyak pengendara malam melaporkan mendengar keriuhan mirip pasar saat melintasi titik-titik tertentu di tengah hutan. Para pengemudi truk atau bus antarkota biasanya mendengar suara riuh tawar-menawar, gending jawa, atau aroma wangi bunga kantil dan kemenyan yang mendadak menyeruak ke dalam kabin kendaraan.
Menurut kepercayaan warga sekitar, kawasan ini adalah titik berkumpulnya makhluk halus penunggu hutan yang sedang menggelar aktivitas kehidupan mereka sendiri, atau biasa disebut warga sekitar sebagai ‘Pasar Gaib’.
Konon, menurut cerita di Babad Tanah Jawi, hutan ini dulunya jadi medan pertempuran sengit antara pasukan Raja Brawijaya V dari Majapahit dan Raden Patah dari Kesultanan Demak. Katanya, kadang suka ada penampakan bayangan prajurit zaman dulu di balik kabut hutan.
Sopir bus antarkota juga sering membagikan pengalamannya saat melintasi jalur ini. Katanya pernah muncul bus putih misterius yang berjalan berlawanan arah dengan kecepatan tinggi. Khususnya pada malam Selasa dan Jumat Kliwon. Konon, bus ini membawa penumpang tak kasat mata.
Monumen penuh cerita pilu
Tak hanya diselimuti mitos dan legenda gaib, Alas Mantingan Sragen juga menyimpan jejak sejarah kelam masa lalu yang terpatri pada Monumen. Terdapat kisah pilu yang dialami oleh gubernur pertama di Jawa Timur sehingga dijadikan monumen untuk mengenang beliau.
Dahulu katanya beliau wafat karena dibunuh dan dibantai oleh komunis pada zaman pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 di hutan Ngawi. Bahkan Gubernur Soerjo serta dua perwira polisinya ditelanjangi lalu diseret menggunakan mobil melewati jalan provinsi, baru kemudian Gubernur Soerjo serta dua perwira polisinya di bunuh di Tengah hutan.
Tangan Gubernur Soerjo pada monumen tersebut memilik arti bahwa Gubernur Soerjo sedang menunjuk tempat di mana ia dibutuh oleh pemberontak PKI.
Pada akhirnya, Alas Mantingan akan selalu mempertahankan pesonanya yang ganda. Bagi mata yang rasional, ia tetaplah jalur tengkorak yang menuntut konsentrasi penuh karena tikungan tajam dan minimnya penerangan. Namun bagi mereka yang menghormati kisah lama, hutan jati ini adalah pengingat bahwa ada garis tipis antara dunia nyata dan misteri masa lalu yang tak pernah benar-benar hilang.
Ketika kita melintasinya, tidak ada salahnya untuk memperlambat laju kendaraan. Bukan hanya demi mematuhi rambu lalu lintas, tetapi juga untuk menghormati keheningan hutan yang telah menjaga rahasianya selama ratusan tahun.
Penulis: Miftalida Purna Fauziyah
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Alas Roban Terkenal Angker, tapi Alas Purwo Lebih Misterius dan Mencekam
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
