Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dinasti Politik 5 Tahun Sekali: Kustini Sri Purnomo dan Ingatan yang Terbeli

Muhammad Pribadi Fuad oleh Muhammad Pribadi Fuad
24 Agustus 2020
A A
Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit dinasti politik MOJOK.CO

Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit dinasti politik MOJOK.CO

Share on FacebookShare on Twitter

Masuk akhir Agustus 2020, isu dinasti politik makin panas. Kedekatan tokoh menjadi narasi utama. Paling baru, Rahayu Saraswati, keponakan Prabowo Subianto akan maju di Pilkada Tangsel. Saras mengawali karier politiknya melalui organisasi sayap Gerindra (TUNAS) dan menjabat sebagai kepala bidang pengembangan.

Sebagai mantan artis dan presenter, kehadiran Saras mendapat sambutan baik dari masyarakat Tangsel. Saras dianggap sosok muda yang cocok untuk memimpin Tangsel. Kritikan karena kedekatannya dengan Prabowo pun cuma sayup-sayup saja. Berbeda dengan Gibran di Solo dan Kustini Sri Purnomo di Sleman.

Setelah nama Gibran seperti menjadi “inisiator” naiknya lagi isu ini, kini ada Kustini Sri Purnomo, yang namanya ikut terseret setelah mendapatkan “restu” dari PDIP untuk maju di Pilkada Sleman 2020. Kustini akan didampingi Danang Mahersa, kader PDIP.

Kustini Sri Purnomo, seperti kita tahu, adalah istri dari Bupati Sleman saat ini, Sri Purnomo. Majunya Kustini dianggap sebagai sebuah upaya untuk “mencengkeram” Kabupaten Sleman, digenggam sangat kuat dalam kekuatan dinasti Purnomo. Bahkan masih Agustus 2020, ketika Pilkada belum digelar, sudah ada tuduhan kalau Kustini kelak akan dilanjutkan oleh anaknya, yang kini menjadi anggota DPRD Sleman, Raudi Akmal.

Hal kedua yang kita tahu adalah isu dinasti politik bukan barang lama. Sudah ada sejak berdekade yang lalu. Toh kalau mau jujur, hampir semua wilayah di Indonesia ini dipimpin oleh sosok yang masih punya pertalian hubungan dengan pendahulunya. Dari Klaten sampai Bontang. Dari Banten sampai Banyuwangi.

Masih banyaknya kepala daerah yang terkait dengan pejabat lama atau elite politik lokal, menunjukkan sebagian masyarakat masih lebih cenderung memilih berdasarkan ketokohan dan keturunan seorang kandidat.

Pemilih masih belum melihat pentingnya nilai moral, kompetensi, dan kapasitas dari seorang calon tanpa harus mengusung embel-embel nama besar di belakangnya. Meritokrasi agaknya masih belum menjadi pegangan bagi mayoritas pemilih. Apalagi, partai politik yang menjadi kendaraan bagi kebanyakan kandidat, juga ditengarai masih banyak yang belum menerapkan pola kaderisasi dengan baik.

Apalagi ketika calon pendahulu tidak neko-neko, bersih kasus hukum, dan kerjanya nyata. Masyarakat cenderung tidak ambil pusing. Sosok yang akan menjawab dianggap pasti akan melanjutkan “semua kebaikan itu”. Ini FAKTA. Kamu bisa melacaknya di tengah panasnya perdebatan Pilkada Sleman.

Baca Juga:

Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

Fakta di Balik Kontroversi Perdagangan Miras di Sleman: Siapa yang Seharusnya Bertanggung Jawab?

Banyak warga Sleman yang merasa isu dinasti politik bukan isu yang terlalu urgent. Warga Sleman lebih mementingkan isu ketahanan pangan dan keamanan, di mana di masa Sri Purnomo, terhitung cukup baik. Bahkan indeks kebahagiaan Sleman cukup tinggi. Hal-hal positif itu membuat isu dinasti menjadi mentah.

Yang menjadi narasi utama para penolak Kustini Sri Purnomo, kebanyakan berdasarkan asumsi. Sebuah “perkiraan”, usaha meraba-raba dalam gelap, berkaca dari daerah lain yang di dalamnya terjadi praktik dinasti politik. Ketika dihadapkan kepada sanggahan “belum tentu” dan “jangan curiga”, narasi mereka menjadi mentah.

Apa lagi alasannya kalau bukan: “Karena belum terbukti. Apalagi saat ini, demokrasi sangat terbuka, memberi warga banyak alternatif ketika kelak calon melanggar konstitusi.” Agumen seperti itu, menurut saya, sangat kuat. Cukup sulit untuk menabrakkan Kustini Sri Purnomo dengan tokoh-tokoh di daerah lain yang dinasti politiknya membawa dampak buruk untuk nama baik sebuah wilayah yang dipimpin.

Ingatan-ingatan itu, di mata saya, seperti “ingatan yang terbeli” saja. Ingatan yang tidak berdasar kepada argumen yang kuat. Ingatan yang hadir hanya karena kecurigaan dan perbandingan dengan daerah lain. Hati-hati kalau menyusun argumen. Bisa saja, Kustini Sri Purnomo malah bisa bekerja lebih baik ketimbang suaminya. Bagi warga Sleman, yang seperti itu sudah cukup memuaskan.

Saya bukan pendukung dinasti politik. Namun, argumen kontra yang hadir untuk Kustini Sri Purnomo sangat lemah. Ingat ya, argumen yang disusun untuk menjatuhkan Kustini Sri Purnomo harus menyerang dirinya, bukan argumen-argumen yang malah disasarkan kepada Sri Purnomo. Mengapa? Ya saat ini, Kustini Sri Purnomo bukan penentu kebijakan, kan. Sesederhana itu.

Ingatan yang terbeli juga menjadi kritik saya untuk netizen Indonesia. Warga Indonesia tercinta yang ingatannya sangat pendek. Mengapa isu-isu seperti ini selalu seksi 5 tahun sekali? Kalau misalnya dampak dinasti politik terjadi setiap hari, kenapa kencangnya suara kontrak hanya sayup-sayup 5 tahun sekali?

Karena ketika pemilihan umum selesai, orang-orang kembali ke kehidupan masing-masing. Bergelut dengan segala kesulitan hidup. Ingatan protes hilang begitu saja. Tertinggal di forum-forum kecil di tengah kedai kopi. Menjadi agenda pergerakan 5 tahun ke depan ketika pemilihan umum kembali digelar.

Tidak banyak orang yang mau dan bisa konsisten memperjuangkan isu ini. Bahkan, maafkan saya kalau menjadi curiga. Narasi-narasi ini hidup karena dimodali oleh calon lawan dari Kustini Sri Purnomo. Zaman sekarang, tidak ada yang gratis selain bernapas.

Pula, sangat sedikit dari kita yang setia dengan perjuangan. Ideologi mudah terbeli. Bersembunyi dari balik topeng akun palsu. Berteriak sangat lantang tanpa berani unjuk muka.

BACA JUGA Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit atau tulisan lainnya dari Muhammad Pribadi Fuad.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 24 Agustus 2020 oleh

Tags: dinasti politikKustini Sri Purnomo
Muhammad Pribadi Fuad

Muhammad Pribadi Fuad

Bersetia di perkara kecil.

ArtikelTerkait

dinasti politik kediri bupati simpang lima gumul arc de triomphe paris mojok

Bulan Puasa Gini Enaknya Nyinyirin Dinasti Bupati Kediri

3 Mei 2020
3 Alasan Mas Gibran Pantas Menang Pilwalkot Solo Tanpa Bantuan Pak Jokowi terminal mojok.co

Gibran Pantas Menang Pilwalkot Solo Tanpa Bantuan Pak Jokowi

19 Desember 2020
Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit dinasti politik MOJOK.CO

Makan Gorengan Kustini Sambil Nyeplus Lombok Rawit

22 Juli 2020
bandar lampung flyover dinasti politik mojok

Bandar Lampung Terbuat dari Flyover, Pulang, dan Pasangan

5 Oktober 2020
Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

Jogja dan Lamongan Itu Saudara Kembar: Sama-sama Punya Masalah Upah Rendah, dan Sama-sama Susah Jadi Pemimpin!

14 Juni 2025
kurama Jangan-jangan Pemerintah Kita Kena Genjutsu Mata Bulan alias Eye of The Moon Madara naruto tsuki no me mojok.co

Politik Dinasti pada Pemilihan Hokage di Konoha, Bahaya Kalau Ditiru di Dunia Nyata

8 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

Warkop Bulungan: Satu Lagi Tempat Viral di Blok M yang Bikin Kecewa dan Cukup Dikunjungi Sekali Saja

19 Januari 2026
Motor Supra, Motor Super yang Bikin Honda Jaya di Mata Rakyat (Sutrisno Gallery/Shutterstock.com)

Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia

16 Januari 2026
Saya Berpaling dari Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru Mojok.co

Saya Meninggalkan Drakor Sejak Kenal Dracin yang Ceritanya Lebih Seru

18 Januari 2026
Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Mojok.co

Honda PCX 160 Dibuat Ceper, Modifikasi Motor yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan

19 Januari 2026
Ilustrasi Hadapi Banjir, Warga Pantura Paling Kuat Nikmati Kesengsaraan (Unsplash)

Orang Pantura Adalah Orang Paling Tabah, Mereka Paling Kuat Menghadapi Kesengsaraan karena Banjir

14 Januari 2026
3 Keunggulan Kereta Api Eksekutif yang Tidak Akan Dipahami Kaum Mendang-Mending yang Naik Kereta Ekonomi

3 Keunggulan Kereta Api Eksekutif yang Tidak Akan Dipahami Kaum Mendang-Mending yang Naik Kereta Ekonomi

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora
  • Sebaiknya Memang Jangan Beli Rumah Subsidi, sebab Kamu Akan Rugi Berkali-kali
  • Warga Madiun Dipaksa Elus Dada: Kotanya Makin Cantik, tapi Integritas Pejabatnya Ternyata Bejat
  • Indonesia Masters 2026: Cerita Penonton Layar Kaca Rela Menembus 3 Jam Macet Jakarta demi Merasakan Atmosfer Tribun Istora
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina
  • Menurut Keyakinan Saya, Sate Taichan di Senayan adalah Makanan Paling Nanggung: Tidak Begitu Buruk, tapi Juga Jauh dari Kesan Enak

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.