Suatu hari selepas saya lari-lari pagi, saya melewati salah satu titik perhentian bus di Surabaya. Saya berhenti dan perhatian saya tertuju pada sebuah bangku warna merah muda yang letaknya persis di titik perhentian. Awalnya saya mengira bangku ini adalah fasilitas biasa yang memang diberikan untuk penumpang. Meski bagi saya rasanya agak minimalis. Sebab hanya sebuah bangku kayu.
Namun ada beberapa tulisan yang ditempel di kursi tersebut yang membuat saya tersenyum getir.
“Halte ini bantuan dari #WargaBantuWarga. Dikarenakan halte yang dijanjikan tidak kunjung datang.”
Di bagian bawahnya, terdapat pesan yang tak kalah menohok, “Dilarang mengambil halte ini sebelum ada solusi yang lebih baik.”
Sesaat saya merasa kagum karena melihat bentuk nyata dari kepedulian dan solidaritas warga yang ingin mengusahakan kenyamanan pengguna transportasi umum. Namun secara bersamaan, ada rasa prihatin melihat tulisan itu. Mengapa untuk menyediakan tempat duduk yang layak bagi penumpang bus, harus warganya yang turun tangan sendiri?
Padahal, yang sedang saya bicarakan ini adalah fasilitas transportasi umum di sebuah ibu kota provinsi, yaitu Surabaya. Kota dengan realisasi pendapatan daerah mencapai Rp 10,63 triliun pada 2025. Uang yang banyak jika dibandingkan dengan harga sebuah bangku dan atap peneduh. Bahkan halte di daerah medioker seperti Kendal lebih layak dari pada di Surabaya.
Di Surabaya, menunggu bus bisa menjadi ujian ketahanan fisik
Saya kasih konteks mengapa bagi saya, halte adalah bagian yang penting bagi sebuah kota. Jadi bagi yang sering menggunakan transportasi umum di Surabaya, penampakan perhentian bus tanpa fasilitas memadai itu tersebar di banyak titik.
Di beberapa lokasi yang saya lihat, haltenya hanya berupa plang penanda pemberhentian. Yang makin bikin kesal, letaknya kadang tidak strategis dan tidak di pusat-pusat aktivitas publik. Lihat saja titik perhentian di Kertomenanggal yang membuat penumpang harus melintasi rel kereta api, di area yang juga berdekatan dengan jalan raya padat kendaraan.
Ada titik perhentian yang sangking tidak bisa disebut halte, malah dijadikan tempat perhentian kendaraan lain, termasuk taksi dan ojol, misalnya titik perhentian di Embong Malang.
Bila sebuah titik pemberhentian tidak ada bangku, apalagi atap untuk berteduh, maka penumpang terpaksa berdiri, duduk, bahkan jongkok di pinggir jalan. Kondisi itu harus mereka lalui sembari sabar menghadapi cuaca di Surabaya yang sering gak bersahabat. Siapa yang tahan di posisi seperti itu saat panas di musim kemarau atau rela basah ketika musim hujan?
Bagaimana dengan lansia, ibu hamil, penyandang disabilitas, atau orang-orang yang mungkin tidak tahan berdiri lama?
Saya rasa semua sepakat bahwa menyediakan bangku dan atap peneduh adalah standar minimum dalam penyediaan fasilitas transportasi publik.
Ketika warga harus bergerak lebih dulu
Setelah mencari informasi lebih jauh, ternyata bangku merah yang saya ceritakan sebelumnya adalah fasilitas gotong royong dari Forum Diskusi Transportasi Surabaya (FDTS). Menurut berbagai pemberitaan, inisiatif ini muncul setelah pembangunan halte yang dijanjikan tidak kunjung direalisasikan.
Tentu inisiatif yang dilakukan oleh warga itu perlu diapresiasi. Namun, situasi ini justru jadi aneh. Sebab, warganya harus menyediakan sebuah fasilitas publik yang seharusnya dibangun oleh pemerintah dari pajak yang mereka bayarkan.
Saya paham bahwa pembangunan fasilitas umum butuh anggaran, perencanaan, dan penentuan prioritas. Tidak semua langsung bisa dikerjakan dalam semalam. Namun, masak harus disindir warganya sendiri dulu baru mulai bergerak? Harusnya, ketika pengembangan transportasi publik dilakukan, maka seluruh fasilitasnya dipikirkan secara bersamaan, mulai dari busnya, rutenya, hingga haltenya.
Sebab, pengalaman seseorang dalam menggunakan transportasi publik tidak dimulai dari ketika warga naik busnya, tapi dimulai ketika penumpang menuju titik perhentian dan menunggu bus datang. Kalau titik perhentiannya saja bikin tidak betah karena menyiksa, bagaimana mau berharap orang berpindah naik bus?
Kembali kepada bangku merah sederhana yang saya ceritakan tadi. Warga bisa saja saling bahu membahu membantu sesama pengguna transportasi umum. Namun, jangan sampai kepedulian sesama warga malah membuat pemerintah abai dan merasa tanggungjawabnya gugur.
Jangan tersinggung, tapi Surabaya sendiri sudah punya masalah serius soal jalanannya yang ruwet. Harapannya, keberadaan bus bisa membantu mengurai keruwetan tersebut, kan? Setidaknya keberadaan halte yang memadai membuat Surabaya jadi kota besar yang lebih manusiawi.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Hal-hal yang Harus Diketahui Calon Perantau sebelum Pindah ke Surabaya agar Tidak Terjebak Ekspektasi dan artikel menarik lainnya di Terminal Mojok