Tidak bisa dimungkiri, keberadaan QRIS sangat membantu dalam transaksi sehari-hari. Terutama saat nggak bawa uang cash banyak ataupun saat penjual tidak punya uang kembalian. Pernah kejadian, waktu itu sedang beli minuman. Ketika akan membayar secara tunai, pemilik kedai kebingungan karena dia tidak punya uang kembalian. Rupanya, hari itu banyak sekali pembeli yang membayar dengan uang pecahan besar. Sehingga, dia tidak punya lagi sisa uang receh dalam laci kasirnya.
Untungnya, kedai tersebut menerima pembayaran QRIS. Masalah pun dapat diatasi tanpa perlu membuat pemilik kedai kesana kemari mencari uang kembalian.
Meski keberadaan QRIS ini dapat mempermudah urusan hidup, ada beberapa tempat yang menurut saya nggak cocok ada teknologi ini. Udah, tunai saja. Ini bukan bentuk penolakan terhadap perkembangan teknologi, ya. Tapi, ini murni atas dasar efisiensi demi kemaslahatan bersama.
Apa saja?
Merchant di basement berpotensi susah sinyal
Kalau saya ketemu ada merchant di basement, saya mending pilih pembayaran secara tunai daripada QRIS. Masalahnya gini, basement, bukanlah tempat yang cocok untuk mendukung transaksi yang mengandalkan kekuatan sinyal internet.
Seperti yang kita tahu, basement itu tak ubahnya seperti benteng bawah tanah yang punya dinding beton tebal plus kedap gelombang seluler. Artinya apa? Butuh perjuangan untuk menangkap sebatang sinyal 4G.
Bayangkan jika kejadiannya, si sinyal muter-muter tepat ketika akan transaksi. Apa nggak panik? Terlebih kalau di belakang kita antrean sudah mengular. Makin panik lagi begitu tahu kalau di dalam dompet nggak ada uang cash. Mau dibatalkan, transaksi sudah kadung diinput. Akhirnya, cuma bisa nahan nangis sambil berdoa semoga ada sinyal yang nyangkut.
QRIS di SPBU bikin lama
Tempat lain yang sebaiknya nggak usah gaya-gayaan bayar QRIS adalah SPBU. Please, antri panjang di SPBU, apalagi saat matahari sedang nyorot banget seperti hari-hari belakangan ini, adalah suatu cobaan. Maka dari itu, tolong jangan tambah penderitaan sesama pengendara ini dengan bertransaksi lewat QRIS.
Coba deh kalian bandingkan berapa lama durasi transaksi tunai dan non tunai di SPBU. Pasti kalian akan setuju bahwa transaksi secara tunai di SPBU ini lebih sat-set.
Kalau bayar tunai, uang pindah tangan, tangki ditutup, kendaraan jalan, dan anteran pun maju. Bandingkan dengan ritual QRIS. Buka kunci ponsel, naikkan kecerahan layar dulu biar kelihatan di bawah terik matahari, cari aplikasi, scan kode, ketik nominal, masukkan PIN, tunggu notifikasi sukses, lalu tunjukkan layar ke petugas yang tangannya masih pegang nosel BBM. Ya, Rabb… lama kali lah itu~
Pedagang pasar kaget nggak cocok pakai QRIS
Di tempat kalian pasti ada kan pasar kaget? Biasanya pasar kaget ini menjamur setiap hari minggu. Di hari itulah ribuan orang berkumpul di satu titik lokasi. Rame? Jelas. Apalagi kalau di pasar kaget tersebut tidak diterapkan sistem car free day. Pasti akan banyak sekali oknum pengendara motor yang ogah parkir dan memilih langsung berhenti saja di depan bakulnya. Bro pikir dia lagi layanan drive thru kali, ya.
Nah, tidak jarang, para pedagang pasar kaget ini memasang kode QRIS di lapak miliknya. Masalahnya, penggunaan QRIS di tengah lautan manusia ini justru menciptakan keribetan bertumpuk.
Dari POV pedagang, mereka harus membagi fokus antara memantau HP untuk cek saldo dan sigap mengawasi barang dagangan dari kerumunan pembeli. Takut banget ada tangan-tangan jahil yang beraksi. Belum kalau ada drama notifikasi transaksi tak kunjung muncul akibat sinyal buruk. Wah, bisa makin lama proses pembayarannya. Bisa-bisa calon pembeli lain yang tadinya ikut ngantri jadi males duluan.
Sedangkan dari POV pembeli, transaksi menggunakan QRIS di tengah keramaian seperti pasar kaget ini jelas mengundang risiko keamanan. Awas copet!
Bayar parkir mending tunai aja
Terakhir, ini yang agak laen. Bukan dari POV saya sebagai konsumen, tapi dari POV orang kedua, yaitu tukang parkir.
Bagi tukang parkir, pembayaran parkir yang paling kepenak itu ya bayar langsung. Cash is a king, Bro!
Kalian mungkin jarang yang sadar ya, tapi, pekerjaan juru parkir itu menuntut kecepatan gerak dan kejelian mata tingkat tinggi. Mereka harus bisa memprediksi kendaraan mana yang akan keluar, lalu kapan harus emprat-prit peluit, serta berlari memegang jok belakang motor.
Nah, kalau proses transaksi dua ribu rupiah ini harus diganti dengan scan QRIS, ritme kerja mereka yang secepat kilat itu dipastikan bakal kacau. Bisa-bisa, karena lama nungguin satu orang bayar pakai QRIS, 2 kendaraan lain berhasil kabur. Wah, melayang sudah potensi cuan yang semestinya didapat hari itu.
Lantas, bagaimana jika dilihat dari sudut padang pemilik kendaraan? Mana yang lebih enak antara bayar parkir secara tunai atau lewat QRIS?
Jawabannya sudah jelas. Ya jauh lebih kepenak kalau nggak ada tukang parkir, lah! Pakai nanya.
Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Pak wamen keliru, transaksi QRIS naik 100 persen bukan berarti daya beli masyarakat baik-baik saja! dan artikel menarik lainnya di TERMINAL MOJOK.